"Kita sudah sampai di pintu masuk altar persembahan," kata Maman tenang, menoleh ke arah kedua sahabatnya. "Kalian yakin mau ikut turun ke bawah? Risiko di sana jauh lebih besar daripada di gerbang tadi." Rudi meneguk ludahnya, lalu menepuk dadanya sendiri walau suaranya sedikit bergetar. "Ah, ngawur lu, Man! Mana mungkin gua ninggalin lu sendirian turun ke lubang setan ini. Lagian kalau kita pisah, nanti siapa yang mau bawain senter cadangan buat lu?" Lisa mengangguk cepat menyetujui ucapan Rudi. "Iya, Man. Kita masuk bertiga. Lagian aku nggak bakal sanggup nunggu sendirian di luar sini." Maman tersenyum tipis melihat kesetiaan kedua sahabatnya. Ia mengangkat telapak tangan kanannya, membiarkan rajah bintang panca memancarkan cahaya keemasan yang lebih terang, menerangi jalan tangga batu yang curam dan licin. "Kalau begitu, tetap di belakang saya dan jangan lepaskan pegangan," instruksi Maman. Mereka bertiga mulai menuruni anak tangga batu satu persatu. Semakin dalam mereka
Last Updated : 2026-09-23 Read more