"Tamu-tamu tidak diundang itu berjalan ke arah pendopo utama, Nyi! Jumlahnya ada delapan orang, semuanya membawa golok dan tampang mereka beringas!" seru Dinda dengan napas memburu, menunjuk ke arah jalan setapak utama desa yang dikelilingi rimbunnya pohon pinus.Nyi Kenanga melirik sekilas ke arah Maman, lalu tersenyum tipis penuh arti. "Tampaknya rumah kami kedatangan pengacau dari dunia luar. Apakah kau butuh bantuan warga desa untuk melenyapkan mereka, Maman?"Maman menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyuman miring khasnya. Ia merapikan kerah jaket kulit hitamnya yang tersampir di bahu. "Nggak usah, Mbakyu. Biar itu jadi urusan saya sendiri. Kalau warga desa ikut turun tangan, nanti preman-preman itu malah nggak kebagian jatah 'salam olahraga'.""Berhati-hatilah, Maman. Orang-orang bayaran seperti itu biasanya tidak punya aturan," pesan Nyi Kenanga dengan nada mengingatkan."Santai aja, Mbakyu. Justru sekarang saya lagi pengin test drive kekuatan baru dari koin keempat," bala
Última actualización : 2026-09-11 Leer más