Bungkusan di tangan Maman bergetar makin kuat. Cahaya merah merembes dari sela kain, lalu cincin itu terlepas dan melayang pelan di depan wajahnya. "Nah, kan!" Rudi mundur sampai menabrak tiang pos. "Barang haram nih, Man! Buang aja ke jurang!" "Kalau dibuang, kita nggak tahu dia mau nunjukin apa," jawab Maman. "Nunjukin neraka, mungkin." "Rud, diam dulu." Cincin itu berputar pelan, lalu berhenti dengan ujungnya menghadap ke arah barat. Cahayanya berdenyut teratur, seperti sedang menunjukkan jalan. Maman mengulurkan tangan untuk menangkapnya. Begitu kulitnya menyentuh logam itu, kepalanya langsung sakit luar biasa. Pandangannya gelap. Lalu muncul gambar yang belum pernah ia lihat. Halaman sebuah rumah besar. Seorang anak kecil, mungkin enam atau tujuh tahun, berdiri sambil menangis. Di sebelahnya ada anak laki-laki yang lebih tua, sekitar dua belas tahun, memegang tangannya erat. "Jangan lepas, Dik," kata anak yang lebih besar. "Apa pun yang terjadi, jangan lepas."
Last Updated : 2026-10-06 Read more