LOGINMaman berdiri diam di tepi reruntuhan. Ririn berlari menghampirinya dan menarik lengannya."Man, kamu mau ngapain? Jangan masuk ke situ!""Ayahku di dalam.""Aku tahu. Tapi kamu baru kena racun, baru kehilangan tenaga, dan sekarang mau masuk ke tempat yang barusan menelan orang?""Rin.""Apa?"Maman menatap istrinya. Suaranya pelan. "Aku harus ngomong sesuatu, dan kamu jangan marah dulu."Ririn menyilangkan tangan. "Aku nggak janji.""Eyang bilang ada altar di bawah sana yang bisa menidurkan Ki Dasar lagi. Tapi harganya semua ingatanku. Termasuk ingatan tentang kamu."Ririn terdiam. Wajahnya yang tadi tegas perlahan berubah."Jadi kamu mau bayar harga itu?""Aku belum putuskan.""Tapi kamu berpikir ke arah situ."Maman tidak menjawab. Itu sudah cukup jadi jawaban.Ririn menarik napas panjang, lalu menampar pelan pipi suaminya. Tidak keras, hanya cukup untuk membuat Maman terkejut."Rin?""Itu untuk yang pertama. Karena kamu hampir mengambil keputusan besar tanpa bicara denganku.""Aku
Getaran di tanah makin kuat. Pohon mangga bergoyang dan beberapa buahnya jatuh."Semua keluar dari halaman!" teriak Surya sambil berusaha berdiri. "Bawa anak-anak menjauh dari bangunan!""Tiga puluh dua anak, Pak!" sahut Togel. "Aku cuma punya dua tangan!""Pakai kaki juga!""Itu bukan saran yang membantu!"Ririn sudah bangkit dan menggendong seorang anak perempuan yang masih tidur. "Gel, jangan debat. Bawa yang kecil-kecil dulu!"Mereka bekerja cepat. Lisa membangunkan anak-anak yang lebih besar, menyuruh mereka bangun dan menggandeng temannya. Maman menggendong Laras yang masih pingsan, sementara Surya menopang Bu Ratmi berjalan.Anak-anak itu setengah sadar. Beberapa menangis, beberapa hanya melongo bingung."Kak, aku mimpi ada kakek-kakek jelek," kata seorang anak laki-laki sambil menarik baju Togel."Bukan mimpi, Dik. Tapi nanti kakak jelasin. Sekarang jalan dulu, ya.""Kakak yang jelek juga?""Kakak ganteng, tapi kita bahas itu belakangan!"Mereka berhasil membawa semua anak ke
Hartono menatap pria itu seperti melihat hantu. "Surya...""Panggil aku kakak, Har. Dulu kamu manggil begitu." Pria itu melangkah maju dan rantai di pergelangan tangannya berdenting. "Dua puluh tahun di ruang bawah tanah, aku punya banyak waktu untuk menghitung dosamu.""Kakak?" Togel menoleh ke Maman. "Man, kalau Kolonel itu kakaknya dia, berarti Kolonel itu...""Pamanku," jawab Maman pelan. Matanya tidak lepas dari pria berjanggut putih itu. "Dan dia...""Ayahmu," kata Surya. Ia berhenti beberapa langkah dari Maman. Tatapannya melembut sedikit. "Sudah besar kamu, Bayu. Kamu mirip ibumu."Maman membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Ririn menggenggam tangannya dari samping."Cukup reuninya!" teriak Hartono. Ia mengambil gelang perak dari rumput dan mengayunkan tangan. "Tembak dia! Sekarang!"Prajurit-prajurit itu ragu sepersekian detik, lalu menembak. Belasan peluru melesat ke arah Surya.Surya tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kanannya, dan rajah emas di telapaknya me
Wanita itu berdiri diam di sebelah Hartono. Tangannya terkulai, tatapannya kosong. Di lehernya melingkar kalung perak berliontin merah, mirip yang dipakai Raka."Ibu..." suara Maman keluar sendiri, bergetar. Warna cokelat di matanya makin banyak, dan Eyang mulai kehilangan kendali."Namanya Laras," kata Hartono. "Kamu tidak ingat, tentu saja. Kamu baru enam tahun waktu itu.""Kenapa dia ada di sini?" tanya Ririn dengan suara tajam. "Kamu bilang dia meninggal.""Aku bilang dia tidak mati di kebakaran. Aku tidak bilang dia hidup bebas." Hartono menepuk bahu wanita itu pelan, seperti menepuk barang miliknya. "Dua puluh tahun dia tidur. Aku bangunkan tadi malam, khusus untuk reuni ini."Togel menyeka debu dari mukanya dan berdiri. "Kolonel, saya orang kecil, tapi saya tahu ini namanya kelewatan. Itu istri Bapak sendiri.""Mantan istri.""Tetap aja!"Hartono mengabaikannya. Ia menoleh pada Laras. "Sayang, anakmu pulang. Sapa dia."Laras mengangkat kepala pelan. Bibirnya bergerak. Tidak ada
Tidak ada yang bergerak. Hanya terdengar suara klik pelan dari belasan senapan yang siap."Kolonel," kata Maman pelan. "Jadi selama ini Bapak yang menyegel saya?""Aku yang memulainya," jawab Hartono tenang. "Bu Ratmi hanya menyempurnakan. Dia wanita baik, tapi terlalu penurut."Bu Ratmi menunduk. Bahunya bergetar.Togel maju satu langkah sambil mengangkat linggisnya. "Kolonel, saya mau tanya baik-baik. Bapak ini sebenarnya bos kami atau musuh kami? Soalnya gaji saya bulan lalu masih Bapak yang transfer.""Kamu lucu seperti biasa, Gel.""Itu bukan jawaban.""Jawabannya: aku orang yang membuat kalian semua bertahan hidup sampai hari ini." Hartono menutup kotak kayunya dan menyelipkannya ke saku. "Laboratorium Kreshna, kuntilanak Sukamati, gerbang Lawu. Menurut kalian siapa yang kasih kalian informasi dan akses selama ini?"Ririn berdiri di depan Maman, tubuhnya masih goyah. "Jadi semua itu kamu yang atur?""Tidak semuanya. Tapi aku memastikan Maman selalu berada di tempat yang tepat, d
Lisa menggeleng. Wajahnya pucat, ponsel masih di tangannya. "Aku nggak tahu, Man. Videonya putus sebelum Dina selesai bicara.""Telepon balik," kata Togel."Nomornya nggak dikenal. Sudah kucoba, nggak aktif."Maman mencoba duduk. Ririn menahan bahunya. "Jangan dulu, Man. Badanmu masih lemas.""Aku nggak apa-apa." Maman mengusap keningnya. "Yang penting sekarang anak-anak. Mereka dibawa ke mana?""Tangga belakang," jawab Togel. "Ayo kita cek, sebelum orang-orang berjubah itu balik."Mereka keluar lewat tangga belakang. Togel memapah Maman, sementara Lisa membantu Ririn berjalan. Tangganya mengarah ke halaman samping panti, dan di sana mereka berhenti.Tiga puluh dua anak berbaring rapi di atas rumput. Selimut tipis menutupi tubuh mereka, dan dada mereka naik turun dengan teratur. Bu Ratmi duduk bersandar di bawah pohon mangga, matanya tertutup."Mereka semua hidup," kata Ririn lega. "Dia memang menepati janji.""Bukan menepati janji," sahut Lisa. "Dia cuma nggak butuh mereka lagi."Tog







