Maman berlari lebih dulu. Ririn, Surya, Raka, Lisa, dan Dina menyusul di belakang. Rudi dipapah Dina sambil terpincang, masih menggenggam sisa linggisnya yang patah. "Jangan serang dulu!" teriak Surya. "Lihat dulu apa yang dia lakukan!" Maman berhenti sekitar dua puluh meter dari lapangan. Tangan hitam raksasa itu masih mencengkeram tanah. Di bawah bayangannya, tiga puluh dua anak berdiri berderet rapi. Mereka sudah bangun, tapi tidak ada yang bergerak. Semua menatap kosong ke depan. "Mereka nggak terluka," bisik Lisa. "Cuma dikendalikan." "Sama kayak tadi malam," kata Dina. Laras berdiri di tengah deretan anak-anak itu dengan mata putih menyala. Rambutnya melambai walau tidak ada angin. "Bu!" teriak Maman. "Ini aku! Bayu!" "Dia tidak mendengarmu, Nak," jawab suara dari mulut Laras. Suaranya berat dan tua, seperti banyak orang bicara bersamaan. "Ibumu sudah lama tidur. Yang bicara denganmu sekarang adalah aku." Di kepala Maman, Eyang menegang. *Itu dia. Ki Dasar. Bukan
Last Updated : 2026-10-16 Read more