Share

Bab 53

last update publish date: 2026-09-10 22:21:10

Debu dan serpihan batu mulai berjatuhan dari langit-langit, menandakan bahwa struktur bangunan ini sedang menuju keruntuhan total.

Rasa panas yang membakar rongga dadaku belum sepenuhnya reda.

Napasku tersengal bersamaan dengan Trojan Horse yang terus meronta.

Lututku gemetar. Rasa lelah menuntut kesadaranku padam di ruang bawah tanah ini.

“Ergh—!” Geraman rendah kupaksa lolos melewati sela gigi.

Aku tidak akan mati di kandang tikus.

Tidak di tempat busuk ini. Tidak di bawah reruntuhan milik s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 54

    Pintu ganda ruang kerja pribadi sang Ratu kubuka tanpa ketukan.Di balik meja mahoni besarnya, Laverentina duduk mematung. Lentera kristal menerangi wajahnya dengan kedua mata ungu yang menyipit tajam.Lirikannya langsung menangkap serpihan darah kering di sarung tanganku serta moncong Caligo yang masih menguapkan residu panas.Tanpa sepatah kata pembuka, kulemparkan dua barang ke atas meja.Trak!Bunyi logam dan kaca beradu nyaring membelah hening. Sebuah kunci perak berlumuran cairan merah gelap, serta selembar perkamen logbook tua yang kusut mendarat tepat di depan tumpukan dokumen kerajaannya.Pandangan Laverentina turun. Saat mengenali lambang keluarga yang terukir di pinggiran kunci tersebut, napas sang Ratu tertahan sepersekian detik.“Ronan,” bisiknya, suaranya tercekat. Matanya terangkat, menatapku lurus dengan gejolak yang berusaha ia tekan.“Kau menghabisinya?”“Ya. Ruangan bawah tanah rahasianya telah runtuh.”Helaan napas berat lolos dari bibir Laverentina. Ia menyandarka

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 53

    Debu dan serpihan batu mulai berjatuhan dari langit-langit, menandakan bahwa struktur bangunan ini sedang menuju keruntuhan total.Rasa panas yang membakar rongga dadaku belum sepenuhnya reda.Napasku tersengal bersamaan dengan Trojan Horse yang terus meronta.Lututku gemetar. Rasa lelah menuntut kesadaranku padam di ruang bawah tanah ini. “Ergh—!” Geraman rendah kupaksa lolos melewati sela gigi.Aku tidak akan mati di kandang tikus.Tidak di tempat busuk ini. Tidak di bawah reruntuhan milik seorang bangsawan gila yang mengira bisa mencuri kekuatanku.Waktuku tidak banyak. Aku harus bergerak cepat.Kupaksa paru-paru menahan pasokan udara, mengunci pergerakan diafragma demi meredam gejolak panas di perut.Lewat konsentrasi penuh, kualirkan frekuensi sihir Trojan Horse untuk menjinakkan lonjakan mana yang liar.Lagi-lagi proses ini sungguh menyiksa. Serat otot di tanganku kejang membeku, dialiri gelombang dingin yang menusuk hingga ke sumsum.Perlahan tapi pasti, gejolak di rongga dada

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 52

    “Kau menghitung kekuatanku,” potongku padanya.“Tapi kau tidak menghitung Trojan Horse sebagai makhluk hidup.”Lantai langsung pecah berkeping-keping di bawah tekanan tumitku. Kuhunjamkan langkah kakiku maju menembus udara.Ronan segera bergerak mundur. Ia mencoba memintal benang-benang mana untuk menyusun segel heksagonal walau tangannya gemetaran.“Aku ... aku bisa memberikanmu lebih banyak!” rengeknya parau. Nada suaranya melengking tajam, kehilangan seluruh pembawaan wibawa bangsawan yang ia pamerkan tempo hari.“Aku punya catatan lain! Laboratorium lain! Aku bisa membantumu mengendalikan kekuatan ini!”“Kau sudah bilang hal semacam itu, sialan.”Langkahku tidak melambat satu ketukan pun. “Dan kau sudah membuktikan sendiri kalau kau hanya memandangku sebagai alat untuk kau manfaatkan.”“Aku tidak akan mati di sini!” teriaknya. “Aku sudah hidup terlalu lama untuk mati di tangan—”WUSH.Gerakanku kumaksimalkan memotong celah udara dalam sekejap mata.Kucengkeram batang lehernya deng

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 51

    Jemari tanganku mencengkeram erat badan Caligo, sembari memindai empat raksasa besi yang kini melangkah maju mengepung posisiku.Ronan membenarkan letak monokelnya yang retak dengan ujung jari, menatapku dari balik barisan raksasa besi dengan senyum miring yang penuh kemenangan.Aku melesat maju. Kecepatanku memangkas jarak dalam sekejap mata.Kukumpulkan seluruh tenaga pada lengan kanan, mengayunkan bilah pedang di bawah laras Caligo untuk memutus persendian golem pertama.TRANG!Bintang-bintang percikan api membakar remang udara. Getaran keras memantul hebat ke pangkal bahuku. Logam senapanku membentur pelat baja tanpa menghasilkan goresan sedikit pun.Kini serangan para golem datang secepat kilat dari berbagai arah!Sial!Tenagaku tak keluar untuk menghindar yang satu ini—SREK!Bilah perak tajam itu mengoyak kain lengan dan merobek daging lengan kiriku. Darah merah kental menyembur seketika.“Urgkh—!”Rasa perih langsung membakar jaringan dagingku, tapi bukan rasa sakit luka luar

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 50

    Seringai miring terlukis jelas pada makhluk di hadapanku ini. Sebuah tarikan sudut bibir yang kulakukan saat aku melihat musuhku terperangkap.Namun, tepat sebelum kulit kami bersentuhan, sesuatu menahan tanganku di udara.Wajah Laverentina muncul lebih dulu.Ratu yang rela membuang segalanya di atas peti mati. Matanya yang basah oleh kepasrahan menatapku. Desahan hangatnya kembali berembus di telingaku.“Aku percaya ... takdir sedang merajut jalannya sendiri melalui dirimu.”Lalu, rentetan wajah lain berkelebat bergiliran.Gema tawa Jaxon yang menjebakku di portal. Kobaran api biru Eirene yang penuh kebencian. Wajah gila Rosemary di atas meja alkimia, hingga monokel sialan milik Ronan yang tersenyum penuh kelicikan beberapa saat lalu.Mereka semua mengantre untuk menjadikanku pion, senjata pemusnah, atau sekadar kelinci percobaan.Mereka menganggapku tak lebih dari alat untuk memuaskan ambisi busuk masing-masing.Haa ….Persetan dengan mereka semua.Lalu kepingan terakhir yang mengha

  • Ketika Pemburu Terkuat Menaklukkan Ratu Vampir   Bab 49

    Bajingan itu … doppelganger?Dia berdiri dengan seringai miring yang kukenal terlalu baik. Wajahku, mataku, senyumku. Semua itu terpantul di depanku layaknya cermin yang memuakkan.“Aku tidak akan mengulanginya dua kali,” katanya, suaranya persis seperti suaraku.“Serahkan kendali padaku. Biarkan aku yang menyelesaikan semua ini. Aku akan melakukannya tanpa beban.”Rahangku mengeras. Jari-jariku mencengkeram erat laras ganda Caligo hingga ruas jariku memutih. Logam dingin di telapak tanganku ini menjadi satu-satunya hal yang nyata di tengah ilusi keparat ini.“Kau pikir kau siapa berani memerintahku dengan wajahku sendiri?” desisku dingin.“Kau hanya bayangan murahan yang akan segera kuhancurkan.”Tanpa basa basi, aku melesat maju. Kecepatanku maksimal.Bilah pedang di bawah laras Caligo kutebas ke arah lehernya—satu lintasan pembunuh yang sudah kuukir ribuan kali di medan tempur.TRANG!Bukan cuma menangkis, dia membalas dengan postur dan tarikan otot yang sama persis.Kecepatannya s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status