Ruang keluarga di rumah Axel terasa hangat sore itu. Aroma teh melati dan kue bolu kukus buatan Sinta memenuhi ruangan, ditemani gerimis tipis yang membasahi kaca jendela. Nala duduk berdampingan dengan Axel di sofa empuk, sementara Bram dan Sinta duduk di hadapan mereka dengan senyum misterius yang tak kunjung pudar. Axel yang bahunya sudah jauh lebih membaik menatap kedua orang tuanya dengan kening berkerut. "Papi sama Mami ada apa sih? Dari tadi senyum-senyum begitu. Muka Papi kelihatan mencurigakan." Bram tertawa renyah, meletakkan cangkir tehnya di atas meja kaca. "Kau ini, Axel. Sekali-kali bersikap manis sedikit sama Papi kenapa? Papi kan cuma mau menyambut calon menantu Papi yang paling cantik ini." Nala tersipuk malu, menunduk sembari tersenyum manis. "Terima kasih, Papi Bram." "Nah, dengar itu? Nala saja tahu cara bersikap sopan," sela Sinta sembari melirik Axel dengan pandangan mengoda. Sinta kemudian merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal b
Última actualización : 2026-09-19 Leer más