LOGINBagi Nala, Axel Raditya hanyalah sahabat kecilnya—si pembalap dingin dari Fakultas Teknik yang selalu ugal-ugalan. Namun, bagi Axel, Nala adalah satu-satunya garis finish dalam hidupnya. Datanglah Devan—mahasiswa Hukum yang matang, cerdas, dan memikat—masuk ke dalam kehidupan Nala. Di saat Devan menawarkan kenyamanan dewasa yang menghargai Nala, sisi gelap Axel yang protektif dan posesif akhirnya meledak gila-gilaan. Ketika batas 'sahabat' berubah menjadi obsesi yang membakar, siapakah yang akan dipilih Nala? Sang pembalap berbahaya yang rela mati demi dirinya, atau sang mahasiswa hukum yang menawarkan kedamaian?
View MorePlak!
Nala Anindita tersentak dari tidurnya. Gadis itu mengerjukan dahi, menatap jam beker di atas nakas yang baru menunjukkan pukul enam pagi. Belum sempat dia mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, bunyi ketukan keras kembali terdengar dari arah kaca jendela kamarnya.
Plak!
"Axel..." gumam Nala lirih.
Sambil menguap lebar, Nala menyeret langkahnya mendekati jendela besar yang langsung menghadap ke arah timur. Begitu menyingkap gorden abu-abunya, pemandangan yang sangat familier langsung menyambut matanya. Di seberang sana—hanya terpisah jarak sekitar empat meter oleh gang sempit yang membatasi rumah mereka—jendela kamar Axel Raditya sudah terbuka lebar.
Cowok itu berdiri di balkon kamarnya, masih mengenakan kaus oblong hitam polos tanpa lengan. Tangan kanannya memegang beberapa butir kerikil kecil, bersiap untuk melempar lagi.
Begitu melihat wajah mengantuk Nala muncul di balik kaca, Axel menurunkan tangannya. Dia menyugar rambut hitamnya yang berantakan ke belakang, lalu menyilangkan dada di pagar pembatas balkon.
"Lama banget," suara berat Axel mengalun membelah udara pagi yang dingin. "Kau sengaja mau membuat kita terlambat kuliah?"
Nala membuka jendelanya lebar-lebar, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya yang belum dibasuh. "Kuliah kita baru jam delapan, Axel! Ini masih jam enam pagi. Kenapa kau sudah rapi begitu?"
"Aku mau sarapan bubur ayam di depan kompleks. Cepat mandi. Aku tunggu sepuluh menit. Kalau terlambat satu detik, aku tinggal."
"Ih, menyebalkan!" gerutu Nala, namun tangannya dengan cepat menutup jendela kembali. Dia tahu betul, meskipun mulut Axel sekaku es batu dan bicaranya selalu ketus, cowok itu tidak akan pernah benar-benar meninggalkannya.
Tepat sepuluh menit kemudian, Nala keluar dari pintu gerbang rumahnya dengan ransel yang tersampir di bahu. Di luar pagar, Axel sudah bersandar pada motor sport hitam besarnya yang bermesin 600cc. Jaket kulit hitam khas pembalap yang sering dia kenakan sudah melekat gagah di tubuh atletisnya.
Beberapa tetangga paruh baya yang sedang menyapu jalan tampak mencuri pandang ke arah Axel dengan tatapan segan. Di lingkungan ini, Axel memang terkenal sebagai pembalap motor amatir yang dingin, bermulut tajam, dan jarang bersosialisasi. Wajah tampannya yang berahang tegas selalu dihiasi ekspresi datar yang mengintimidasi siapapun yang mencoba mendekat.
Namun, begitu langkah kaki Nala mendekat, riak dingin di wajah Axel langsung mencair. Dia menegakkan tubuhnya, lalu mengambil helm cadangan berwarna merah muda yang sengaja dia gantung di setang motor.
"Pakai ini," perintah Axel pendek, menyodorkan helm itu ke arah Nala.
"Aku bisa pakai sendiri," sahut Nala sambil meraih helm tersebut. Tapi sebelum tangannya sempat menyentuh tali pengikat, Axel sudah menepis jemarinya dengan lembut.
"Diam," gumam Axel. Dia melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Nala bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi sabun mint yang menguar dari tubuh cowok itu. Dengan telaten dan sangat hati-hati, Axel memasangkan helm ke kepala Nala, lalu mengancingkan talinya hingga berbunyi klik.
Nala menatap wajah Axel dari jarak sedekat ini. Matanya yang tajam tampak sangat fokus memastikan helm itu terpasang dengan nyaman dan aman di kepala Nala.
"Sudah pas? Tidak kekencangan?" tanya Axel, suaranya melembut, sangat kontras dengan nada bicaranya kepada orang lain beberapa menit lalu.
"Pas," jawab Nala pelan, merasakan debaran halus yang aneh di dadanya, perasaan yang selalu dia tepis dengan dalih 'dia hanya sahabat masa kecilmu'.
"Bagus. Sekarang naik," kata Axel sambil mengenakan helmnya sendiri yang berwarna hitam legam.
Nala melangkah ke samping motor, bersiap untuk naik ke jok belakang yang cukup tinggi. Namun, saat dia hendak berpegangan pada pundak Axel untuk menjaga keseimbangan, pandangannya tidak sengaja jatuh pada lengan kanan Axel yang terekspos karena jaket kulitnya sedikit tersingkap.
Di balik pergelangan tangan hingga ke siku bagian dalam, terdapat memar keunguan yang cukup besar dan tampak masih baru. Kulit di sekitarnya bahkan terlihat sedikit lecet kemerahan.
Nala tertegun. Jantungnya mendadak berdegup kencang, kali ini dipenuhi rasa cemas yang seketika mencuat ke permukaan. Dia langsung menahan pergelangan tangan Axel sebelum cowok itu sempat menyalakan mesin motor.
"Axel, tunggu," panggil Nala, nadanya berubah serius.
Axel menoleh dari balik kaca helmnya yang gelap. Dia membuka kaca tersebut, menatap Nala dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa lagi?"
Nala menarik lengan kanan Axel dengan kedua tangannya, memaksa cowok itu menunjukkan luka memar tersebut ke arah cahaya matahari pagi. "Ini apa? Kau balapan liar lagi tadi malam?" Suara Nala mulai bergetar. Ketakutan terbesarnya adalah melihat Axel terluka di jalanan.
Axel terdiam sejenak. Sorot matanya yang tajam menatap jemari Nala yang menggenggam erat lengannya yang terluka. Alih-alih meringis kesakitan karena lukanya disentuh, seulas senyum misterius justru terukir tipis di sudut bibir tampannya. Senyum yang terasa dingin, namun menyimpan sesuatu yang tidak bisa Nala artikan.
"Bukan apa-apa," jawab Axel santai, suaranya terdengar sangat tenang seolah memar mengerikan itu sama sekali tidak terasa sakit baginya.
"Bagaimana bisa bukan apa-apa?! Ini memar besar sekali, Axel! Kau berjanji padaku tidak akan turun ke sirkuit minggu ini!" cecar Nala dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena panik.
Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Axel mendadak menarik tangan Nala dengan gerakan cepat namun lembut. Tubuh Nala terhuyung maju, dan sebelum dia sempat protes, Axel sudah menariknya mendekat, memaksanya naik ke atas jok motor sport tersebut.
"Pegangan yang erat, Nala," bisik Axel pelan, mengabaikan pertanyaan gadis itu sementara mesin motornya yang bertenaga besar mendadak menderu keras, siap membelah jalanan pagi.
Sore hari di kediaman Bramantya menjelang senja melukiskan pemandangan yang begitu memesona. Langit Jakarta di atas halaman belakang perlahan berubah warna, memadukan pendar jingga keemasan, semburat ungu lembut, dan biru tua yang mulai turun perlahan. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma harum bunga melati dan wangi khas rumput basah yang menenangkan.Di atas hamparan rumput hijau yang terawat rapi, sebuah karpet piknik lebarberwarna krem telah digelar. Di atasnya, Nala duduk bersimpuh sambil mengenakan gaun panjang berpotongan longgar berwarna putih gading. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai bebas, membingkai paras cantiknya yang memancarkan pendar kebahagiaan yang begitu sempurna.Tidak jauh dari tempat duduk Nala, Arka kecil—yang kini sudah mulai berlari ke sana ke mari—sedang tertawa renyah mengejar bola mainannya. Langkah kakinya masih tampak sedikit goyah, namun semangatnya luar biasa besar."Arka, sayang... jangan terlalu jauh ke dekat kolam!" seru Nala lembut, meny
Malam kembali merayap, membawa kesunyian yang menenangkan ke seluruh sudut kediaman Bramantya. Di kamar utama lantai dua, pendar lampu tidur temaram memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Di dalam crib di sudut ruangan, Arka terlelap dalam kedamaian, ditemani napasnya yang teratur dan tenang. Nala baru saja keluar dari kamar mandi. Mengenakan piyama tidur berbahan katun lembut berwarna biru muda, ia berjalan mendekati meja rias. Namun, langkahnya seketika terhenti saat matanya menangkap selembar kertas tebal bertekstur ivory yang diletakkan tepat di atas bantal tidurnya. Di atas kertas mewah itu, terletak sebuah pena fountain klasik bermerk mahal milik suaminya. Nala mengerjap pelan, mengernyitkan dahi heran. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu mengambil kertas tersebut. Di bagian depannya, tertera namanya sendiri yang ditulis menggunakan tangan—goresan pena yang tegas, rapi, namun begitu familiar baginya: Untuk Nala, duniaku. "Mas Axel... apa ini?" gumam Nala pelan, bertan
Matahari sore baru saja meredup, menyisakan pendar jingga keemasan yang menembus celah jendela kaca ruang keluarga kediaman Bramantya. Suasana rumah terasa begitu hangat dan menenangkan. Di atas karpet bulu tebal, Arka kecil sedang sibuk mendorong mainan truk-trukannya sambil mengeluarkan celotehan riang, ditemani oleh Suster Arini yang mengawasi dari dekat. Beberapa langkah dari sana, di sofa panjang berlapis velvet abu-abu, Nala duduk bersandar sambil melipat beberapa lembar pakaian bayi yang baru disetrika. Wajah cantiknya tampak fokus, diiringi senyum tipis yang terukir di bibirnya setiap kali melihat tingkah lucu sang putra. Langkah kaki tegap terdengar mendekat. Axel baru saja turun dari ruang kerjanya di lantai dua. Kemeja formal yang dikenakannya sudah dilepas, menyisakan kaus polos hitam ketat yang melekat sempurna di tubuh atletisnya, membuat aura dominan dan ketampanan matangnya kian terpancar nyata. Pria berpostur tinggi tegap itu tidak langsung duduk di sofa. Ia ber
Suasana malam di kamar utama kediaman Bramantya begitu tenang dan hangat, hanya dihiasi pendar cahaya lampu warm white yang temaram dari sudut ruangan. Di dalam crib kayu jati di dekat jendela, Arka tertidur lelap dengan napas teratur, memeluk boneka kecil kesayangannya. Di atas ranjang king size, Nala duduk bersandar nyaman di balik tumpukan bantal empuk. Ia mengenakan gaun tidur satin berwarna champagne berlengan panjang yang menampilkan keanggunan seorang ibu muda. Di pangkuannya, sebuah buku catatan desain interior terbuka, namun perhatiannya teralihkan sepenuhnya pada sosok pria yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Axel berjalan mendekat dengan mengenakan jubah mandi hitam yang sedikit terbuka di bagian dada, menampilkan otot-otot dada bidangnya yang kokoh dan rahang tegas yang dibasahi sisa-sisa air segar. Rambut hitamnya yang basah tersisir rapi ke belakang, memancarkan aura dominan, seksi, dan ketampanan matang yang tak pernah luntur sedikit pun meski usianya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews