Malam kembali merayap, membawa kesunyian yang menenangkan ke seluruh sudut kediaman Bramantya. Di kamar utama lantai dua, pendar lampu tidur temaram memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Di dalam crib di sudut ruangan, Arka terlelap dalam kedamaian, ditemani napasnya yang teratur dan tenang. Nala baru saja keluar dari kamar mandi. Mengenakan piyama tidur berbahan katun lembut berwarna biru muda, ia berjalan mendekati meja rias. Namun, langkahnya seketika terhenti saat matanya menangkap selembar kertas tebal bertekstur ivory yang diletakkan tepat di atas bantal tidurnya. Di atas kertas mewah itu, terletak sebuah pena fountain klasik bermerk mahal milik suaminya. Nala mengerjap pelan, mengernyitkan dahi heran. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu mengambil kertas tersebut. Di bagian depannya, tertera namanya sendiri yang ditulis menggunakan tangan—goresan pena yang tegas, rapi, namun begitu familiar baginya: Untuk Nala, duniaku. "Mas Axel... apa ini?" gumam Nala pelan, bertan
Last Updated : 2026-10-31 Read more