Isak tangis Nala memecah heningnya ruang medis darurat yang berbau tajam antiseptik. Di luar tenda, deru hujan deras dan raungan sirine ambulan terdengar bagai latar samar, terkalahkan oleh gemuruh rasa bersalah, benci, dan kerinduan yang bertabrakan hebat di dada Nala.Nala mendongak, menatap wajah Axel yang dipenuhi luka gores dan peluh dingin. Rasa cemas yang merobek dadanya selama berjam-jam kini berubah menjadi ledakan emosi yang tak lagi mampu ia bendung.Puk! Puk!Nala mengayunkan kepalan tangannya yang gemetar, memukuli dada dan pundak kanan Axel yang tidak terluka. Tangisnya meledak histeris di samping brankar besi yang dingin."Kau bodoh, Axel! Kau benar-benar bodoh!" jerit Nala dengan suara pecah, air matanya menetes deras membasahi sprei medis yang ternoda darah. "Kenapa kau lakukan ini?! Kau pikir kau hebat, hah?! Kau pikir bertaruh nyawa di jalanan licin itu bisa menyelesaikan segalanya?!"Axel tak mencoba menghindar. Dia membiarkan pukulan-pukulan kecil Nala menghantam
Last Updated : 2026-09-08 Read more