Cahaya matahari pagi yang hangat menerobos tirai ruang VIP lantai lima. Nala melangkah masuk membawa nampan berisi sarapan dan jatah obat pagi. Pikirannya masih melayang pada ucapan Axel semalam sebelum tertidur. “Mulai besok, kamu tidak boleh panggil aku sahabat lagi.” Nala memegang kedua pipinya yang seketika memanas. Bagaimana mungkin ia mengubah kebiasaan belasan tahun hanya dalam semalam? Di atas ranjang, Axel sudah terbangun. Pria itu menyandarkan punggungnya pada bantal, menatap Nala dengan pendar mata jahil yang begitu kentara. "Selamat pagi," sapa Nala canggung, meletakkan nampan di meja nakas. "Ayo makan dulu, habis itu minum obat." "Makanannya mau. Tapi obatnya nanti dulu," ujar Axel santai, melipat kedua tangannya di depan dada. Nala mengernyitkan kening. "Kenapa begitu? Obatnya harus diminum tepat waktu, Axel." "Aku tidak mau minum obat sebelum mendengarkan panggilan baru dari kamu," potong Axel cepat. Sudut bibirnya terangkat, menguji ketahanan mental Nala.
Terakhir Diperbarui : 2026-09-15 Baca selengkapnya