“Iya, maaf ya, Amira... Hari ini aku tidak bisa masuk,” tutur Adhira setengah berbisik ke arah ponsel di genggamannya. “Ada urusan internal penting keluarga yang harus kukerjakan bersama pamanku.” Di hadapannya, sosok Marsena masih terbaring dengan deru napas yang belum sepenuhnya stabil. Cengkeraman jemari pria itu pada lengan Adhira baru saja mengendur, namun tumpuan tenaganya tetap bertahan di sana seolah enggan melepaskan. “Iya, terima kasih banyak ya, Amira. Maaf sudah sangat merepotkanmu hari ini!” lanjut Adhira sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon. Ia menghembuskan napas panjang, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu memakukan pandangannya pada wajah kaku di atas bantal. “Dengar kan? Aku sudah izin tidak masuk kerja,” ujar Adhira dengan suara melunak. “Jadi, tolong lepaskan tanganku sekarang. Aku harus ke dapur untuk memasak sesuatu. Perutmu wajib diisi makanan sebelum minum obat.” Marsena tidak memberikan balasan lisan atau membuka matanya. Namun secara
Última actualización : 2026-08-05 Leer más