“Mama...?”Cicit bocah itu pelan, sepasang mata bulatnya yang basah menatap Adhira lurus.Adhira seketika tersentak dari keterpakuannya. Ia berdeham cepat, lalu spontan menganggukkan kepalanya dengan raut serba salah. “Y—ya, benar. Mama di sini.”Ah, masa bodohlah! batin Adhira menjerit pasrah. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar isakan bocah mungil ini bisa berhenti total dan tidak makin histeris.Adhira merendahkan tubuhnya, mengelus lembut pipi chubby Farah yang hangat. “Sekarang sudah makin malam, Sayang. Saatnya kita bobo. Farah mau bobo dengan... dengan Papa atau Mama?”Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, membuat bagian belakang telinga Adhira seketika memerah. Ia tidak terbiasa melontarkan panggilan semacam itu! Betapa memalukannya situasi ini! jerit Adhira histeris di dalam benaknya.Farah tampak memiringkan kepala mungilnya, berpikir sejenak. Melihat jeda itu, Adhira bergegas merapikan susu
Última actualización : 2026-09-09 Leer más