Tak terasa, hari-hari berlalu begitu cepat hingga akhirnya Fiona kembali ke rumah untuk menjemput Farah.“Terima kasih banyak ya. Maaf sekali aku sudah merepotkan kalian berdua selama beberapa hari ini,” ujar Fiona hangat seraya menimang Farah yang sudah tertidur pulas di dalam dekapannya.Adhira menyunggingkan senyuman manis, membalas tulus, “Merepotkan bagaimana? Sama sekali tidak kok. Farah itu anak yang sangat manis."Fiona terkekeh renyah mendengarnya. “Astaga... Kakak Ipar, caramu berbicara bahkan jauh lebih manis dan hangat daripada Kak Marsena. Tapi syukurlah, setidaknya keberadaanmu membuat pria kaku itu tidak terlalu suram seperti biasanya.”Adhira meledakkan tawa pelannya, lalu secara refleks melirik ke arah Marsena. Pria tembok itu hanya mempertahankan raut wajah datarnya yang dingin, seolah-olah sama sekali tidak peduli dengan sindiran adik sepupunya.Secara mendadak, Fiona tampak terbatuk-batuk pelan. Ia mengusap lehernya, lalu menatap Marsena seraya bersuara agak lantan
Huling Na-update : 2026-09-12 Magbasa pa