Di depan nisan, Megha duduk bersimpuh. Tangannya mengusap lembut nisan yang terpahat nama ibunya.“Bu …,” lirih Megha, suaranya bergetar. “Megha lelah. Megha lelah harus terus berganti topeng antara Kiran dan Megha. Tapi nggak tahu kenapa, Megha paling nggak terima saat direndahkan begitu saja. Mereka belum tahu kalau anak Ibu ini sangat cantik.”Dia menghela napas panjang, menatap ukiran nama itu dengan tatapan sayu.“Sekarang, banyak yang hanya menyukai wanita karena kecantikannya. Contohnya Bima, mendengar nama Megha saja dia risih, tapi kalau sama Kiran, dia sampai berani bertengkar sama Mamanya untuk membela Kiran. Makanya Megha mau membuat seleksi alam otomatis.”“Megha memang sangat menginginkan ketulusan, Bu. Dan Megha memilih tampil sederhana karena Megha nggak mau salah cari pasangan. Nggak mau salah mencintai orang. Megha mau laki-laki itu menerima apa adanya dan menghargai Megha.” Sorot matanya jadi makin tajam saat wajah Bima melintas di depan matanya.“Dulu, Bima mencar
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-28 อ่านเพิ่มเติม