"Saya hanya menjalankan tugas saya dengan sempurna, Tuan," jawab Elang tenang, namun matanya memancarkan signal perang terbuka yang tak lagi bisa disembunyikan. Malam setelah ketegangan di ruang kerja, konfrontasi antara Elang dan Arkan masih meninggalkan jejak kecemasan yang menggantung. Elang bertindak sangat profesional, menjaga batas hukum dan kontrak. Namun, cara pria itu memasang tubuh tegapnya sebagai benteng tak tertembus di depan Jena terus terbayang di benak Arkan. Di dalam mobil mewahnya yang melaju menembus malam, Arkan mengusap wajahnya kasar. Ia frustrasi. Sejak awal pernikahan politik mereka, Arkan tidak pernah benar-benar tertarik pada Jena. Bagi Arkan, Jena hanyalah boneka berparas cantik, aksesoris yang berguna untuk memperkuat posisinya di mata kolega, sekaligus pintu masuk untuk menguasai seluruh aset dan yayasan milik keluarga Wijaya. Ia tidak pernah peduli apakah Jena bahagia, kesepian, atau menangis di kamar setiap malam. Namun malam ini, ada sesuatu yang be
Last Updated : 2026-08-14 Read more