Jena berdiri dari tepi ranjang, menunjuk dada bidang Elang dengan jari yang gemetaran hebat. "Arkan memang monster yang dulu menyiksaku. Tapi dia secara terang-terangan menunjukkan siapa dirinya!" suara Jena melengking pelan, tertahan dalam bisikan histeris agar tidak terdengar ke luar kamar. "Sementara kau... kau datang sebagai pahlawan, memberikan kehangatan, memberikanku harapan bahwa ada pria tulus yang mau melindungiku..." Jena tertawa kecil, sebuah tawa yang sarat akan kepedihan mendalam. "Tapi apa yang kutemukan, Elang?! Video itu!" pekik Jena, matanya menatap Elang dengan luka yang begitu telanjang. "Wanita di Berlin itu! Kau memeluknya, kau berdansa dengannya, kau menatapnya dengan pendar protektif yang persis sama dengan cara kau menatapku! Nadia benar, bukan?! Kau dilatih untuk membuat setiap klien wanita merasa dicintai agar mereka patuh padamu!" Elang ikut berdiri, tubuh tegapnya menjulang tinggi di hadapan Jena. Namun alih-alih marah, raut wajah sang pengawal just
Last Updated : 2026-08-26 Read more