Jawaban itu tidak mengejutkan bagi Nasya. Wajar jika Axel menolak. Lagi pula permintaanya cukup gila untuk dituruti. Sudah mau menjemput malam-malam saja, harusnya Nasya bersyukur. Karena ia tidak perlu berlama-lama di halte bus. Jadi seharusnya, ia tidak seberani itu meminjam uang pada atasannya itu. “Baiklah kalau begitu, Pak.” Nasya memaksakan senyumnya. Axel hanya mengangguk. Tak berekspresi apa-apa. “Apa boleh saya mau menumpang sampai halte, Pak?” Nasya menatap Axel, berharap masih ada sedikit kebaikan lagi. “Kalau kamu sudah selesai, ayo.” Axel mendorong perlahan kursinya ke belakang.Dari reaksi itu, Nasya menyimpulkan jika Axel tidak keberatan. Ajakan itu langsung diterima. Ia berdiri dan mengikuti Axel menuju ke parkiran. Di dalam mobil, Nasya diam. Ia memikirkan ke mana ia harus pergi. Tidak ada tempat yang dapat dijadikan tujuan. Sebenarnya Nasya punya beberapa teman kantor, tapi ia tidak sedekat itu sampai berani menumpang. Nasya yang sedang berada dalam pikirann
Última actualización : 2026-08-19 Leer más