Share

Bab 30

Author: Myafa
last update publish date: 2026-08-21 19:31:03

Wajah Mama Helena menegang. Kedua matanya membulat sempurna, serta mulutnya terbuka sedikit. Ia seolah tidak percaya yang baru saja didengarnya.

“Benarkah kalian kencan di apartemen?” tanyanya dengan tatapan tidak percaya.

Aletha yang duduk di samping mamanya pun juga menatap Nasya dengan tatapan aneh. Senyum yang tadi mengembang di wajahnya seketika sirnah.

Reaksi Mama Helena dan Aletha itu seketika langsung ditangkap oleh Nasya. Jantungnya seketika berdegup dengan kencangnya.

Ada yang sal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Beuhh... mm Helena mau nasya main lagi wkwkwk 🫣
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Mama Helena ga suka sama nasya
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
makasih up nya kk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 71

    “Halo, Nasya.” Untuk sesaat Nasya terdiam. Berusaha mendengarkan dengan saksama suara di seberang sana. “Kenapa lama sekali kamu angkat teleponnya?” Nasya berusaha menebak suara siapa ini. Suaranya terdengar familiar, tapi baru ia dengar kali ini di sambungan telepon. Sampai akhirnya ia menyadari suara siapa itu. “Iya, Tante. Maaf.” Ia bangkit dari posisi tidurnya dan bersandar di punggung tempat tidur. “Hari ini kamu libur bukan?” tanya Mama Helena di seberang sana. “Iya, Tante. Hari ini saya libur.” Nasya mengangguk-anggukkan kepala, meskipun Mama Helena tidak ada di depannya. “Kalau begitu ayo kita bertemu di mal.” Bertemu? Nasya menelan salivanya mendengar ajakan itu. Bertemu dengan Mama Helena saat ada keluarganya lain saja, ia takut. Bagaimana bisa ia bertemu berdua saja. “Apa kamu ada janji?” Saat suara Mama Helena di seberang sana terdengar lagi.“Tidak, Tante.” Buru-buru Nasya bersuara. “Kalau begitu berarti kamu bisa bertemu denganku bukan?” Nasya tidak punya pi

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 70

    Mama Helena seketika langsung diam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh anaknya. Ia tidak pernah tahu alasan sebenarnya seperti itu. Ia tidak pernah memerhatikan anaknya waktu kecil. Ia pikir dulu jika tidak mau makan, Axel memang sedang malas makan, makanya ia memilih membelikan makanan lain atau meminta asisten rumah tangga memasakan masakan lain. Nasya yang sedari tadi ikut mendengarkan pun sangat terkejut. Pertanyaan yang dulu membuat Nasya penasaran, akhirnya terjawab sudah, dan ia mengerti kenapa Axel tidak mau makan masakan mamanya selama ini. Di usia yang sangat kecil, pasti berat tinggal jauh dari orang tua. Ia berusaha keras melawan rindunya. Salah satunya adalah tidak makan masakan mamanya. Seperti halnya anak lain, pasti ia ingin pulang jika merindukan masakan mamanya. Sayangnya, ia tidak bisa pulang karena orang tuanya tidak mengizinkan. Suasana makan jadi tidak kondusif. Walaupun pembicaraan dilakukan dengan suara tenang tetapi ketegangan tetap tidak bisa di

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 69

    Axel asyik memotong bawang yang akan dipakai oleh Nasya masak. Ia fokus dengan pekerjaannya itu sampai tidak menyadari jika Mama Helena sedang melihat-lihat apartemen. “Pak,” bisik Nasya seraya menggoyang-goyangkan tubuh Axel, kemudian menunjuk ke satu tempat. Axel menoleh ke arah di mana Nasya menunjuk dan mendapati mamanya sedang berjalan ke arah kamar yang ditempati oleh Nasya. Seketika Axel panik. Ia meninggalkan pekerjaannya memotong bawang dan menghampiri mamanya. “Ma …” panggilnya. Mama Helena yang memegang gagang pintu kamar dan bersiap untuk membukanya langsung mengalihkan pandangannya. “Aku ada teh camomile, Mama mau coba?” Mama Helena melepaskan tangannya yang memegang gagang pintu, kemudian menatap Axel. “Kita minum sambil duduk mengobrol.” Axel tersenyum. Mama Helena mengangguk. Pikirnya, kapan lagi anaknya mau duduk manis mengobrol dengannya. “Mama tunggu dulu. Aku akan buatkan.” Axel berbalik, tapi ia tak kunjung jalan karena menunggu mamanya. Mama Helena ber

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 68

    Tangan Nasya menggantung di udara setelah baru selesai menekan kombinasi angka di smart lock pintu apartemen milik Axel. Jantungnya berdegup dengan kencangnya. Takut dengan reaksi Mama Helena. Karena suaranya terdengar ketus. “Oh … iya, aku lupa jika kamu sering ke sini. Jadi pasti tahu kombinasi angka untuk membuka pintu apartemen.” Suara Mama Helena terdengar sinis. Tubuh Nasya membeku. Tangannya yang berada di depan layar pintu smart door apartemen, menggantung. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya. Sebagai orang asing, ia justru lebih tahu kombinasi angka untuk membuka pintu, sedangkan Mama Helena tidak tahu sama sekali. “Iya, Tante. Saya memang tahu karena kadang Axel meminta saya datang lebih dulu seperti sekarang.” Nasya tersenyum. Berusaha untuk tetap tenang. Mama Helena hanya menatap malas mendapati jawaban dari Nasya. Walaupun sikap Mama Helena begitu buruk, Nasya tetap tenang. Ia membuka pintu dan mempersilakan Mama Helena

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 67

    “Sya, kamu tidak apa-apa?” tanya teman Nasya. Nasya buru-buru mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya. Melegakan tenggorokannya yang terasa sakit. “Tidak apa-apa.” Nasya menggeleng. “Syukurlah.” Teman Nasya tersenyum.Untuk menutupi kegugupannya, Nasya melanjutkan kembali makannya, sambil mendengarkan teman-temannya bercerita. Ia ingin tahu bagaimana versi teman-temannya. “Oh … ya. Ada yang mesum di bioskop. Bukankah bioskop ramai?” tanya salah satu teman yang tidak ikut menonton film. “Iya, padahal bioskop sedang ramai, tapi mereka mesum di sana.” “Apa yang mereka kerjakan?” “Sepertinya mereka berciuman. Soalnya, mereka menutup wajah mereka dengan jas.” “Astaga, seperti tidak ada tempat saja.” Mendengar dirinya yang digosipkan seperti itu, Nasya tidak dapat membela diri sama sekali. Harus pasrah jadi omongan teman-temannya semua. Ia hanya tidak menyangka jika temannya mengiranya sedang mesum. Padahal ia sedang bersembunyi untuk menghindari mereka semua. Di saat Nas

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 66

    Tubuh Nasya membeku menyadari kebodohan yang baru saja ia lakukan. Ingin sekali segera melepaskan tautan bibir itu, tapi tubuhnya justru membeku dan tak bereaksi apa-apa. Sampai akhirnya suara klakson terdengar dan menyadarkannya. Hingga buru-buru ia langsung melepaskan tautan bibirnya. “Maaf, Pak,” ucap Nasya. Axel tampak santai. Ia justru terlihat menatap Nasya lekat. Tak melepaskan tatapan itu sama sekali. “Kamu sengaja menciumku?” tanyanya.“Tidak, Pak. Tadi ada teman-teman lewat.” Suaranya gugup. Pipinya merona menahan malu.Wajah Axel tampak tak percaya. Membuat Nasya semakin membuat Nasya malu. Ingin rasanya Nasya kabur saat itu juga. Apalagi ketika ditatap Axel begitu dekat. Membuat jantungnya berdebar. Sayangnya, ia masih harus bersembunyi dari teman-temannya. Tidak bisa kabur begitu saja. “Jika kamu mau menciumku, sebenarnya kamu bisa bilang dulu.” Axel tersenyum tipis. Bagi Nasya senyum itu benar-benar menyebalkan sekali. Pipinya semakin menghangat dan menyemburkan ro

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status