Tubuh Keira bergetar hebat di dalam dekapannya. Napas wanita itu tersenggal senggal, tidak beraturan, dan panas.Arsen mendekap istrinya dengan kekuatan penuh, seolah olah ingin menyatukan kembali tulang belulang Keira yang nyaris tercerai berai oleh maut di bibir jurang. Panik yang luar biasa menguasai setiap jengkal kewarasannya. Pria itu menangkup wajah Keira yang basah oleh air mata dan keringat dingin, lalu memberondonginya dengan seribu pertanyaan tanpa henti."Keira, hei, lihat aku, Keira!" suara Arsen pecah, bergetar ketakutan yang teramat sangat. "Kau dengar aku? Kau terluka di mana, sayang? Ada yang sakit? Bagian mana yang sakit, katakan padaku! Ya Tuhan, apa kakimu baik baik saja? Apa ada yang robek atau terkilir? Jawab aku, Keira, kumohon...""Arsen..." lirih Keira lemah, suaranya parau nyaris hilang tertelan desau angin.Wanita itu langsung membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Tangisnya pecah seketika, melepas seluruh sisa ketakutan, amarah, dan trauma yang men
Terakhir Diperbarui : 2026-09-12 Baca selengkapnya