Matahari pagi menyusup melalui celah tirai kamar utama, memantulkan cahaya hangat di atas lantai marmer. Keira mengerjap pelan, merasakan pelukan erat di pinggangnya. Arsen sudah terbangun lebih dulu. Pria itu menopang dagunya dengan satu tangan, memperhatikan wajah Keira sambil merapikan helaian rambut istrinya yang berantakan."Pagi, Sayang," bisik Arsen lembut, suaranya masih terdengar serak khas baru bangun tidur.Keira tersenyum tipis, merapatkan tubuhnya ke dada bidang suaminya. "Kenapa menatapku begitu?""Karena aku masih tidak percaya," jawab Arsen tulus. Ia mengecup kening Keira lama, lalu beralih mencondongkan tubuhnya ke arah boks bayi di sebelah tempat tidur.Arsen menyentuh pipi mungil Kieran yang sedang terlelap. "Hei, jagoan kecil Papa," gumam Arsen dengan nada bercanda. "Jangan rewel hari ini, ya. Jangan bikin mamamu kelelahan, atau papa akan memotong jatah susumu."Keira terkekeh pelan mendengar ucapan konyol suaminya. "Dia tidak akan mengerti, Arsen. Usianya bahkan
Terakhir Diperbarui : 2026-09-25 Baca selengkapnya