"Nindy, ini bukan soal siapa yang mutusin," bantah Malik, suaranya masih terjaga meski jelas menahan sesuatu yang besar di baliknya. "Ini soal keselamatan kamu sama anak kita.""Aku tahu, Malik. Tapi selama ini semua orang yang sayang sama aku selalu bilang begitu," balas Nindy, tidak menaikkan suaranya sedikit pun. "Bapak dulu, Suryani, sekarang kamu. Semuanya sayang, semuanya mutusin buat aku, dan aku selalu jadi orang terakhir yang tahu."Malik terdiam, rahangnya mengeras, tidak langsung membalas kalimat tersebut karena dia tahu betul di dalamnya ada kebenaran yang tidak bisa dia bantah begitu saja."Coba kamu pikirin dari sisi aku," ucap Malik akhirnya, suaranya lebih pelan. "Kalau ada apa-apa sama kamu pas ketemu Bahar, aku nggak akan bisa maafin diri aku sendiri.""Aku ngerti perasaan kamu," jawab Nindy, meraih tangan Malik di atas meja, menggenggamnya. "Tapi rasa takut kamu nggak boleh jadi alasan buat nahan aku terus, Malik. Aku juga takut, tapi aku lebih takut nggak pernah ta
Terakhir Diperbarui : 2026-09-08 Baca selengkapnya