Beberapa saat kemudian, Malik bangkit, berjalan menuju meja makan untuk menyiapkan map berkas yang dibutuhkan besok pagi—kartu identitas, kartu keluarga, buku nikah, surat tulisan tangan Wisnu, dan tanda terima kotak deposit.Nindy berdiri di depan cermin kamar, mengenakan piyama tidurnya sambil memainkan dua liontin separuh hati yang tergantung di lehernya.Malik kembali masuk, memeluk Nindy dari belakang, dagunya bersandar di puncak kepala istrinya. "Aneh banget ya, hidup kamu berubah total dalam hitungan bulan.""Iya," gumam Nindy pelan, matanya menatap pantulan diri mereka berdua di cermin. "Dari yang tadinya sendirian ngadepin semuanya, sekarang punya kamu, punya keluarga besar, punya anak yang bakal lahir sebentar lagi."Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kehangatan pelukan itu. Namun, pikiran Nindy kembali melayang ke percakapan dengan Rania tadi siang, ke amplop yang menunggu jawabannya besok pagi."Malik," panggil Nindy pelan, suaranya bergetar menahan sesuatu yang suda
Last Updated : 2026-08-18 Read more