Suara sendok beradu dengan piring kaca saat Abim melahap potongan puding cokelat keduanya dengan lahap. Mulut anak itu belepotan saus vanila, namun matanya tak lepas dari miniatur jembatan gantung yang kini berdiri kokoh di atas meja rotan teras belakang."Enak banget, Ma! Puding buatan Mama memang paling juara sedunia," puji Abim seraya menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, sebelum Isyana sempat mengambilkan tisu makan."Abim, pakai tisu, jangan pakai tangan begitu bajunya kotor," tegur Isyana lembut seraya mengulurkan selembar tisu kering ke arah putranya.Abim menyengir lebar, lalu menoleh ke arah Linkin yang duduk di kursi rotan seberangnya. "Om Linkin mau pudingnya lagi nggak? Masih banyak di dapur tuh, di kulkas."Linkin terkekeh pelan, meletakkan piring kecilnya yang sudah kosong di atas baki. "Satu porsi sudah cukup buat Om, Abim. Perut Om sudah kenyang sekali. Tapi rasa puding buatan Mamamu memang luar biasa enak."Pipi Isyana bersemu merah tipis di balik kerudung co
Última actualización : 2026-09-08 Leer más