Sepasang tangan Isyana mencengkeram kemudi dengan begitu erat, sementara selembar uang ratusan ribu dari Rehan tergeletak begitu saja di konsol tengah, sebuah simbol penghinaan yang justru memicu bahan bakar dendam di dadanya.Tiba-tiba, ponsel Isyana yang terhubung ke dasbor mobil berdering nyaring. Layar digital memunculkan satu nama: Hendy, kepala divisi operasional sekaligus staf kepercayaannya.Isyana menekan tombol di kemudi untuk menerima panggilan. "Ya, Hendy. Ada apa?""Halo, selamat sore, Ibu Isyana," suara Hendy terdengar agak terburu-buru dan cemas di seberang sana. "Maaf mengganggu waktu Ibu, tapi kami menghadapi situasi darurat di kantor."Isyana tetap tenang, matanya menatap lurus ke jalan raya. "Katakan. Masalah apa?""Pihak Arkana Group, rekan bisnis dari luar kota yang menjanjikan investasi besar itu, tiba-tiba memajukan jadwal pertemuan, Ibu. Mereka baru saja mendarat dan meminta pertemuan diadakan sore ini juga."Isyana menyipitkan mata. "Sore ini? Bukankah jadwal
最終更新日 : 2026-07-21 続きを読む