***"Kau mendengarku tidak, sih?" Aurora menghela napas pendek, menatap gemas ke arah pria yang berdiri bersandar di konter dapur tersebut.River yang tersadar dari lamunannya tidak membalas dengan rasa bersalah. Sebaliknya, senyum jahil yang amat manis terukir di bibirnya. Ia melangkah satu senti lebih dekat, menopang dagunya dengan tangan lalu menatap Aurora dengan pendar mata yang hangat dan penuh kerinduan."Aku mendengarmu, Tuan Putri," bisik River merdu, suaranya berubah serak nan manja. "Tapi mataku terlalu sibuk jatuh cinta lagi padamu. Aku mencintaimu, Rora. Sangat mencintaimu, sampai rasanya aku tidak bisa berpaling sedetik pun darimu.""River!" Wajah Aurora seketika merona merah, antara malu dan jengkel. Ia menepis pelan tangan River dengan ujung spatula di genggamannya. "Berhenti merengek dan merayuku! Ini masih pagi, dan masakan ini tidak akan selesai kalau kau terus bicara hal-hal konyol seperti itu.""Tapi aku memang tidak bisa konsentrasi kalau belum mendapat balasan s
Last Updated : 2026-10-21 Read more