Tangan Lenora seketika tremor,jemarinya bergetar tak terkendali. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, merasakan desir darah menumpuk di sana demi menahan jeritan panik yang mendesak keluar dari tenggorokan."Da-Dash…," bisik Lenora tercekat, mencoba memanggil pria di sisinya.Akan tetapi, Dashel terlampau santai. Pria itu menyandarkan satu lengannya di punggung kursi Lenora, menoleh ke belakang dengan ekspresi tenang yang menyebalkan.Saking paniknya, gerakan tangan Lenora yang gemetaran tak sengaja menyenggol gelas tinggi berisi jus delima pekat di tepi meja. Cairan merah keunguan itu tumpah, membasahi gaun putih mutiaranya dan mencetak jelas lekuk dada, perut dan paha Lenora yang transparan menempel di kulit. Bahkan, sebelah tangan Dashel yang berada di paha Lenora ikut tersiram tumpahan jus.Kejadian itu seketika mengalihkan atensi Dewi. Ibu Dashel itu panik, menatap Lenora penuh keprihatinan."Kamu baik-baik saja, Lenora? Kamu sakit, Nak?" tanya Dewi, cemas."Bu... bukan, Bu..
Zuletzt aktualisiert : 2026-08-20 Mehr lesen