Dashel menatap Lenora tanpa berkedip. Raut wajahnya seketika mengeras, berusaha kembali tenang dan dominan dalam hitungan detik. Tak akan ia biarkan wanitanya mengendus apa pun yang jangga."Suara USG itu dari pasien bedah trauma darurat di Obgyn yang konsultasi. Kamu ingat, hm, wanita itu?" tanya Dashel, tangannya juga membelai jemari Lenora di atas meja, seolah memberi tekanan tanpa menekan. “Oh, Ibu Sandra. Iya, aku ingat. Kasihan beliau.” Lenora hela napas panjang."Kenapa? Kamu cemburu, hm?"Lenora bergeming, bibirnya menekuk sedikit. Sebenarnya, pengalihan itu tak lantas mengikis kabut keraguan di matanya. Meskipun bibirnya terkatup rapat, ia hanya membiarkan keheningan menguji ketahanan pria di hadapannya.Melihat respons dingin wanitanya, Dashel tidak memberi ruang untuk argumen lebih lanjut. Ia berdiri, meraih jemari Lenora dan menggenggamnya teramat erat … posesif dan tak terbantahkan."Ikut saya.”"Tapi saladnya—""Pak," panggil Dashel pada salah satu staf kantin yang kebe
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-02 Mehr lesen