Arini tersenyum menatap sang putri. Sorot matanya sendu, menyimpan sebuah rahasia besar. “Kamu bukannya lagi ada tamu ?” tanya Arini mengusap air matanya yang menetes sedikit. “Udah pulang, tadi … dia cuman ngasih donat aja kok,” jawab Vabella sedikit mesem-mesem. “Tapi kamu cocok kok sama dia,” celoteh Arini mencubit lengan Vabella. “Mama ih! dia itu manajer aku,” rengek Vabella manja, sebetulnya bahagia. Arini terkekeh, ia tahu betul bagaimana reaksi sang anak saat sedang kasmaran. “Ya … enggak apa-apa dong.” “Hm, dia juga—nembak aku Mam,” jelas Vabella malu-malu. “Kamu terima saja, kelihatannya dia baik kok,” usul Arini antusias. Vabella terdiam sejenak, perlahan bibirnya menipis tersenyum manis. Seraya menatap sebuah objek dan membayangkan jika itu Theo. “Dia memang baik, tapi … aku masih mau istirahat dulu dari yang namanya pacaran,” ujar Vabella. “Yakin?” goda Arini menyentuh puncak hidung bangir Vabella. “Mama apa sih?” gerutu Vabella memeluk erat sang mama. Kedua w
Huling Na-update : 2026-09-10 Magbasa pa