تسجيل الدخول“Eh mau ngapain tuh?” Raffi mendongakan kepalanya. Vabella menaikkan bahu, ia mengikuti Theo yang sudah masuk ke ruangannya terlebih dahulu. Ruangan itu terasa dingin, dua kali lipat dari luar. Vabella mengusap kedua lengan atasnya, bergidik saat hembusan AC menyentuh kulitnya. “Ada apa ya Pak?” tanya Vabella. Ia melihat ke arah luar—berjinjit. “Panggil yang benar dong,” pinta Theo. Ia berdiri di hadapan Vabella, dengan bokong yang bersandar pada meja. Lelaki itu menatap Vabella sambil berseri-seri. “Iya kan itu udah benar.” Vabella melipat kedua tangannya, mereka saling bertatapan. “Kita di sini cuman berdua,” jelas Theo. “Tapi ini area kantor,” gerutu Vabella. “Ruangan ini kedap suara, sedikit tertutup juga,” ungkap Theo, ia merendahkan sedikit badannya. Kini kedua wajah mereka begitu dekat, sorot matanya membuat Vabella lagi-lagi menghindar. “Iya—” keluh Vabella memalingkan muka. “Iya apa?” goda Theo. “Iya Theo,” cibir Vabella dengan bola mata memutar. “Panggil aku sa
Pukul setengah delapan, seluruh staff divisi yang dipimpin Theo berkumpul di ruangan kerja. Mereka kompak memperhatikan Theo yang berdiri di dekat pintu ruangannya. “Selamat pagi semua!” seru Theo sumringah. Matanya beberapa detik menatap Vabella. Gadis itu hanya bisa mengalihkan pandangan. “Pagi Pak,” sahut seluruh staf dengan beragam ekspresi,ada yang ceria, petakilan, fokus dan banyak beban . Theo memperhatikan seluruh staf yang ada di ruangan itu, ia diam sejenak saat ada beberapa staf yang tengah mengobrol sambil berbisik, kemudian berkata, “Hari ini kita briefing sejenak, sesuai arahan pak Hans untuk membahas acara ulang tahun perusahaan.” “Yuhu!” “Asik!” Mereka kegirangan, sambil bertepuk tangan—bersorak, seperti bebas merdeka dari pekerjaan. “Oke mohon tenang! jadi … tahun ini kita akan merayakan di Bali,” jelas Theo dengan suara lebih kencang. Lagi-lagi staf laki-laki dan perempuan itu makin girang. Mereka saling bertatapan senang, berjingkrak di atas kursi. “Serius?
“Kamu masih tagih jawaban?” tanya Vabella menatap Theo yang berdiri di sampingnya. Dalam lift itu hanya mereka berdua. Vabella berdiri sedikit mepet dengan Theo, ia sebahu Theo, matanya terus melirik pada lelaki di sampingnya itu. “Iya, gimana? kalau kamu gak mau balikan juga aku gak maksa kok,” kata Theo melirik sejenak. “Eh! mau kok, eh—” ucap Vabella, lalu menutup mulutnya dengan mata terbelalak. Jantungnya tak karuan, seperti genderang ditabuh. “Serius?” Theo memastikan dengan riang. Wajahnya sumringah, dengan kepala menghadap Vabella. Tatapan matanya meminta kesungguhan. Theo membuat gadis itu kikuk, ia memejamkan kedua mata. “Tadi cuman … aduh!” ungkap Vabella salah tingkah, menepuk-nepuk kening miliknya. “Kenapa? kita balikan?” tanya Theo cengengesan. “Emh … iya,” jawab Vabella sedikit ragu. Ia menghela nafas seraya mengumpat dalam hati, hanya gerakan bibir tanpa suara. Theo makin kegelian, tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Hal itu, membuat Vabella kesal.“Kok ke
Arini tersenyum menatap sang putri. Sorot matanya sendu, menyimpan sebuah rahasia besar. “Kamu bukannya lagi ada tamu ?” tanya Arini mengusap air matanya yang menetes sedikit. “Udah pulang, tadi … dia cuman ngasih donat aja kok,” jawab Vabella sedikit mesem-mesem. “Tapi kamu cocok kok sama dia,” celoteh Arini mencubit lengan Vabella. “Mama ih! dia itu manajer aku,” rengek Vabella manja, sebetulnya bahagia. Arini terkekeh, ia tahu betul bagaimana reaksi sang anak saat sedang kasmaran. “Ya … enggak apa-apa dong.” “Hm, dia juga—nembak aku Mam,” jelas Vabella malu-malu. “Kamu terima saja, kelihatannya dia baik kok,” usul Arini antusias. Vabella terdiam sejenak, perlahan bibirnya menipis tersenyum manis. Seraya menatap sebuah objek dan membayangkan jika itu Theo. “Dia memang baik, tapi … aku masih mau istirahat dulu dari yang namanya pacaran,” ujar Vabella. “Yakin?” goda Arini menyentuh puncak hidung bangir Vabella. “Mama apa sih?” gerutu Vabella memeluk erat sang mama. Kedua w
“Mama kamu oke?” tanya Theo dengan kepala mengintip ke arah jendela. “Kurang tau,” jawab Vabella melakukan hal yang sama. “Kalau gitu, aku pulang dulu ya, Bibel.” Theo membetulkan jaket yang ia kenakan. “Hmm! iya hati-hati,” kata Vabella tersipu dengan panggilan itu. Mata Vabella masih tertuju pada Theo, memperhatikan lelaki itu hingga mobilnya sudah melaju. Ia menghela nafas, seraya tersenyum menahan malu dan berbunga-bunga. ***Arini terisak saat memasuki kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur, sambil mengepalkan kedua tangan. Bayangan dan memori masa lalunya menghantui, seakan mengitari kepalanya. Air matanya jatuh begitu saja, bersamaan dengan guncangan bahu. Isakan kecil keluar dari mulutnya yang menutup. Ia tak akan menyangka, jika niatnya melabrak Laura malam itu adalah bumerang bagi dirinya sendiri. “Siapa yang memberitahu Genta soal ini?” gumam Arini dalam tangisnya. Flashback … Arini berjalan begitu cepat, menuju kamar Laura di Apartemen mewah Jakarta Selatan. Jantun
Gadis itu berjalan dengan ritme cepat, matanya sedikit bengkak—sembab,hidung merah muda di bagian puncaknya. Ia melipat kedua tangan, memandangi Theo keheranan. Kedua matanya tampak basah, berbinar. Apalagi, saat langkahnya mendekati Theo—yang masih di luar pagar rumah. Theo berusaha mengatur nafas, detak jantung kian bertalu-talu, belum lagi aliran darah yang terasa membeku. Kedua telapak tangannya dingin—gemetar dan berkeringat. “Kamu mau ngapain?” tanya Vabella suaranya sedikit serak. “A-aku … emh … aku,” ucap Theo mendadak gelagapan. Ia memindai tubuh lelaki itu, dari kaki hingga rambut. Tidak menggunakan kemeja, blazer atau dasi. Ia hanya mengenakan hoodie, celana di bawah lutut, dan membawa kantong plastik bening dengan kotak di dalamnya. Penampilan Theo saat itu membuat Vabella menelan saliva. Jauh berbeda saat tengah di kantor. Rambutnya pun tidak klimis. “Masuk,” ajak Vabella. Theo membuntuti Vabella, sambil menengok kiri kanan. “Mama kamu ada?” “Lagi keluar,” jawab







