Share

Bab 27

Author: Brown Sugar
last update publish date: 2026-10-22 23:06:46

Perlahan hujan turun membasahi jalanan dan kendaraan. Vabella terpaksa ikut Theo pulang ke apartemennya, meskipun ia merasa sedikit ngeri.

“Ayo masuk!” ajak Theo.

Ia sudah berada di dalam apartemennya. Sedangkan Vabella masih berdiri, menatapnya dari luar pintu yang masih terbuka.

“Kenapa? ayo! mau di situ aja?” tanya Theo menatapnya.

“Iya,” sahut Vabella.

Ia melangkahkan kaki gugup, jantungnya tiada henti berdebar cepat dan kencang. Kepalanya tengok kanan-kiri, seraya menatap seluruh inter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sst, JANGAN BERISIK MAS MANTAN!    Bab 29

    Gerimis masih membasahi jalanan, sinar lampu kendaraan membuat butiran air kecil itu tampak seperti debu yang tertiup angin. Meskipun hujan dan jalanan tergenang, kemacetan masih terjadi. Sejak keluar dari apartemen, Vabella hanya diam memainkan jari-jarinya yang lentik dan berkuku panjang itu. Begitupun Theo yang fokus pada kemudi juga jalanan. Sesekali ia menoleh beberapa detik pada lelaki di sampingnya itu. “Nanti aku turun pos security aja ya,” pinta Vabella memulai percakapan. “Kenapa?” tanya Theo mengerutkan alisnya. “Emh … aku takut Mama marah.” Vabella membetulkan posisi duduknya. “Oke,” sahut Theo paham. “Aku minta maaf soal tadi, aku …,” ucap Theo terpotong oleh Vabella. “Theo! gak usah dibahas,” kata Vabella menghela nafas lalu melanjutkan, “semua sudah terjadi.” “Kamu gak apa-apa?” Theo memastikan. “Takut juga sih,” timpal Vabella menggigit bibir bawahnya. “Itu jadi yang pertama dan terakhir, aku janji!” Theo sungguh-sungguh. Vabella tersenyum tipis, ia juga me

  • Sst, JANGAN BERISIK MAS MANTAN!    Bab 28

    Suasana sejuk dan romantis membuat mereka terhanyut. Mereka saling tatap dengan ritme nafas dan jantung masing-masing. Vabella mengelak saat Theo hendak membuka kancing bajunya. Namun, tubuh Theo menghimpit dirinya,sehingga sulit untuk bergerak. Satu kecupan mendarat di pipi, kemudian beralih pada bibir lembut Vabella. Gadis itu menyambut dengan perasaan takut. Saling melumat dan menikmati, jam dinding yang berdetak menjadi saksi bisu saat kedua insan yang penuh dengan gairah itu menyatu. “Ayo,” ajak Theo pelan seraya mencium leher Vabella. Tak ada jawaban, gadis hanya melenguh dan memekik saat jari-jemari Theo memainkan bagian penting dalam dirinya. “Ah! Theo jangan!” pinta Vabella. “Kenapa?” “Aku, belum mau melakukan itu,” tutur Vabella menyingkap kembali rok selututnya yang sudah terangkat. Namun, Theo tetap memaksa ia telah terbuai rayuan setan. “Theo, jangan!” pekik Vabella berkali-kali menyingkirkan tangan Theo dari area itu. Air matanya mulai nampak di sudut kedua mata

  • Sst, JANGAN BERISIK MAS MANTAN!    Bab 27

    Perlahan hujan turun membasahi jalanan dan kendaraan. Vabella terpaksa ikut Theo pulang ke apartemennya, meskipun ia merasa sedikit ngeri. “Ayo masuk!” ajak Theo. Ia sudah berada di dalam apartemennya. Sedangkan Vabella masih berdiri, menatapnya dari luar pintu yang masih terbuka. “Kenapa? ayo! mau di situ aja?” tanya Theo menatapnya.“Iya,” sahut Vabella. Ia melangkahkan kaki gugup, jantungnya tiada henti berdebar cepat dan kencang. Kepalanya tengok kanan-kiri, seraya menatap seluruh interior apartemen milik Theo. Semua tertata rapi, bahkan lebih rapi dari kamarnya sendiri. “Ini kamarku, maaf kalau kurang rapi.” Theo menaruh blazernya di sofa begitu saja, kemudian ia duduk dengan satu kaki di atas kaki sebelahnya sambil membuka sepatu. “Rapi kok,” puji Vabella duduk bersebrangan dengan Theo. “Mau minum teh hangat?” tanya Theo. “Ada air es gak?” pinta Vabella. “Ngaco! masa hujan gini minum air es,” cibir Theo beranjak pergi ke dapur mini barnya. “Haus banget,” keluh Vabella

  • Sst, JANGAN BERISIK MAS MANTAN!    Bab 26 Salah sangka

    “Mau kemana lo Indah?” tanya Raffi menekuk alisnya. Indah tersentak saat ia berdiri, senyuman getir tipis menghiasi dirinya yang tengah dirundung rasa grogi. “Haus gue, mau ke pantry ambil minum.” Ia memainkan jari jemarinya. “Nitip bikin kopi ya,” pinta Raffi memohon. “Kebiasaan,” ketus Indah. Dengan langkah cepat, Indah berjalan menuju pantry. Hatinya berdebar-debar, sepanjang koridor ia tersenyum. Saat sudah di depan pintu, ia mengatur nafas. Aliran darahnya membuat kedua tangan gemetar dan dingin. Klek! Pintu pantry terbuka, menyeruak aroma kopi hitam tubruk. Di dekat jendela Theo tengah berdiri menatap kearah luar, dengan secangkir kopi yang masih beruap. Ia menoleh saat pintu mulai terbuka lebar. “Hei Indah,” sapa Theo biasa saja. “Bapak tadi panggil saya,” kata Indah berdiri di samping rak. “Loh, kapan? enggak kok?” Theo merasa ada yang janggal. Indah menunduk,wajahnya merah. “Eh, tadi kertas kecil itu, Pak Theo bukan nyuruh saya?” “Kertas? kertas apa?”Theo susa

  • Sst, JANGAN BERISIK MAS MANTAN!    Bab 25

    “Eh mau ngapain tuh?” Raffi mendongakan kepalanya. Vabella menaikkan bahu, ia mengikuti Theo yang sudah masuk ke ruangannya terlebih dahulu. Ruangan itu terasa dingin, dua kali lipat dari luar. Vabella mengusap kedua lengan atasnya, bergidik saat hembusan AC menyentuh kulitnya. “Ada apa ya Pak?” tanya Vabella. Ia melihat ke arah luar—berjinjit. “Panggil yang benar dong,” pinta Theo. Ia berdiri di hadapan Vabella, dengan bokong yang bersandar pada meja. Lelaki itu menatap Vabella sambil berseri-seri. “Iya kan itu udah benar.” Vabella melipat kedua tangannya, mereka saling bertatapan. “Kita di sini cuman berdua,” jelas Theo. “Tapi ini area kantor,” gerutu Vabella. “Ruangan ini kedap suara, sedikit tertutup juga,” ungkap Theo, ia merendahkan sedikit badannya. Kini kedua wajah mereka begitu dekat, sorot matanya membuat Vabella lagi-lagi menghindar. “Iya—” keluh Vabella memalingkan muka. “Iya apa?” goda Theo. “Iya Theo,” cibir Vabella dengan bola mata memutar. “Panggil aku sa

  • Sst, JANGAN BERISIK MAS MANTAN!    Bab 24

    Pukul setengah delapan, seluruh staff divisi yang dipimpin Theo berkumpul di ruangan kerja. Mereka kompak memperhatikan Theo yang berdiri di dekat pintu ruangannya. “Selamat pagi semua!” seru Theo sumringah. Matanya beberapa detik menatap Vabella. Gadis itu hanya bisa mengalihkan pandangan. “Pagi Pak,” sahut seluruh staf dengan beragam ekspresi,ada yang ceria, petakilan, fokus dan banyak beban . Theo memperhatikan seluruh staf yang ada di ruangan itu, ia diam sejenak saat ada beberapa staf yang tengah mengobrol sambil berbisik, kemudian berkata, “Hari ini kita briefing sejenak, sesuai arahan pak Hans untuk membahas acara ulang tahun perusahaan.” “Yuhu!” “Asik!” Mereka kegirangan, sambil bertepuk tangan—bersorak, seperti bebas merdeka dari pekerjaan. “Oke mohon tenang! jadi … tahun ini kita akan merayakan di Bali,” jelas Theo dengan suara lebih kencang. Lagi-lagi staf laki-laki dan perempuan itu makin girang. Mereka saling bertatapan senang, berjingkrak di atas kursi. “Serius?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status