Begitu Bianca duduk di kursi penumpang depan dan menutup pintu, Liam langsung menyalakan mesin. Namun, baru beberapa detik mobil melaju, suaranya terdengar datar. "Barista tadi kekasihmu?" Bianca sontak menoleh. "Hah?" Liam tetap menatap jalan di depannya, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak penting. Bianca terdiam sejenak, sampai akhirnya ia seperti paham dengan siapa yang Liam bicarakan. Akhirnya, ia kembali bersuara, “Gery bukan kekasih saya, dia pemilik coffee shop itu.” Liam tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas. Dan bukannya merespon jawaban Bianca tadi, Liam justru menunjuk layar mobil yang menampilkan GPS dan berkata, “Masukkan alamat tempat tinggalmu.” “Tapi, Tuan—” “Bisakah tidak terus membantah, Bianca?” potong Liam cepat sambil menatap Bianca sejenak. Bianca menelan ludahnya sebelum akhirnya mengangguk pelan. Akhirnya, dengan ragu ia memasukkan alamat kosnya ke sistem navigasi. Tak ada lagi suara yang keluar, kecuali deru mobil yang melaju dengan tenang. Bah
Last Updated : 2026-07-25 Read more