Share

Bab 9. Accident

Author: Dinis Selmara
last update publish date: 2026-09-09 00:40:55
Liam menghempaskan tangan Bianca dengan kasar. Gerakannya membuat wanita itu sedikit tersentak.

“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud—”

“Kalau pekerjaanmu sudah selesai, kamu boleh pulang.”

Bianca terdiam sesaat. Ia menoleh pada mejanya, kemudian mengangguk kaku.

“Ah, iya. Sudah selesai.”

Liam tidak lagi menghiraukan keberadaan Bianca. Tatapannya kembali tertuju pada berkas di hadapannya.

Bianca menarik napas pelan. Ia kembali ke mejanya untuk merapikan barang-barangnya, memastik
Dinis Selmara

Eh... eh... no no ya, Liam >_<

| 7
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
cemburu yaaaaa Liam. achhhhh kamu
goodnovel comment avatar
Hanum Layla
maksud Lo apaan? gw kerja pake bra doang gitu??? menang banyak dong Lo wkwkwk
goodnovel comment avatar
roso wulan
astaga kegedean baju nya Adrian tapi lumayan lah daripada pakai baju yang ketumpahan kopi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 9. Accident

    Liam menghempaskan tangan Bianca dengan kasar. Gerakannya membuat wanita itu sedikit tersentak. “Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud—” “Kalau pekerjaanmu sudah selesai, kamu boleh pulang.” Bianca terdiam sesaat. Ia menoleh pada mejanya, kemudian mengangguk kaku. “Ah, iya. Sudah selesai.” Liam tidak lagi menghiraukan keberadaan Bianca. Tatapannya kembali tertuju pada berkas di hadapannya. Bianca menarik napas pelan. Ia kembali ke mejanya untuk merapikan barang-barangnya, memastikan tidak ada lagi miliknya yang tertinggal. “Saya permisi, Tuan.” Tidak ada jawaban. Bianca menatap Liam selama beberapa detik sebelum akhirnya memilih pergi. Suara pintu terbuka, membuat Liam mengangkat pandangannya. Tatapannya tertuju pada punggung Bianca yang kemudian hilang dan pintu tertutup rapat. Liam mengusap wajahnya kasar. Ia menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi. Apa dirinya baru saja tertidur? Sementara itu, Bianca masih berdiri di depan

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 8. Mimpi Buruk

    “Per pokok masalah, Tuan?” tanya Bianca ragu. Ia melirik sekilas ke arah sudut layar tabletnya yang sudah menunjukkan jam pulang kantor, lalu beralih menatap nanar tumpukan berkas yang tingginya hampir menyamai kepalanya. Pandangannya kemudian tertuju pada Liam, seolah meminta kepastian.“Keberatan?” tanya Liam balik, nada bicaranya memang terdengar datar, tapi sarat intimidasi.Tentu saja Bianca keberatan! Selain karena jam kerja sudah berakhir, menyortir dokumen per pokok masalah berarti sedikit banyak Bianca harus membaca berkas-berkas itu. Dan itu akan memakan banyak waktu. Namun, alih-alih protes, Bianca terpaksa menggeleng sambil mengulas senyuman manis yang palsu.“Bagus. Kamu tidak sedang terburu-buru karena tidak harus ke coffee shop, ‘kan? Atau… kamu memang sangat ingin menikmati sore ini dengan minum kopi bersama saudara saya?” sindir Liam tajam.“Tidak tuan. Tidak sama sekali. Saya akan langsung mengerjakannya,” jawab Bianca cepat.Liam mendengus samar, lalu berbalik kembal

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 7. Pekerjaan Baru

    Meski ragu, Bianca menerima amplop tersebut. Matanya melirik Liam yang duduk dengan wajah datar, sama datarnya dengan lelaki paruh baya yang duduk di sampingnya. Perlahan, Bianca membuka amplop itu dan mengeluarkan berkas di dalamnya. Matanya sedikit membesar ketika menyadari bahwa dokumen tersebut merupakan surat penugasan sementara yang menetapkannya sebagai asisten Liam. ‘Bukan surat pemutusan kerja?’ batinnya. Sudut bibir Liam terangkat tipis saat melihat Bianca membaca surat tersebut. Bianca kembali mengangkat pandangan. Tatapannya bertemu dengan Liam yang sejak tadi memperhatikannya. Entah mengapa, sorot mata lelaki itu membuat Bianca merasa tidak nyaman. “Tolong dampingi Liam sampai saya menemukan asisten yang tepat untuknya,” ujar Tuan Besar Hayes. “Saya merasa tidak pantas menerima tugas ini, Tuan,” elak Bianca. Rahang Liam seketika mengeras. “Randy lebih cocok.” “Randy masih saya plot untuk menangani mega proyek.” “Lalu bagaimana dengan Tuan?” Bianca memasang raut waj

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 6. Ketahuan?

    Begitu Bianca duduk di kursi penumpang depan dan menutup pintu, Liam langsung menyalakan mesin. Namun, baru beberapa detik mobil melaju, suaranya terdengar datar. "Barista tadi kekasihmu?" Bianca sontak menoleh. "Hah?" Liam tetap menatap jalan di depannya, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak penting. Bianca terdiam sejenak, sampai akhirnya ia seperti paham dengan siapa yang Liam bicarakan. Akhirnya, ia kembali bersuara, “Gery bukan kekasih saya, dia pemilik coffee shop itu.” Liam tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas. Dan bukannya merespon jawaban Bianca tadi, Liam justru menunjuk layar mobil yang menampilkan GPS dan berkata, “Masukkan alamat tempat tinggalmu.” “Tapi, Tuan—” “Bisakah tidak terus membantah, Bianca?” potong Liam cepat sambil menatap Bianca sejenak. Bianca menelan ludahnya sebelum akhirnya mengangguk pelan. Akhirnya, dengan ragu ia memasukkan alamat kosnya ke sistem navigasi. Tak ada lagi suara yang keluar, kecuali deru mobil yang melaju dengan tenang. Bah

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 5. Pelanggan Tetap

    Keesokan paginya, Bianca kembali tiba di kediaman Tuan Besar Hayes. Sesuai instruksi atasannya, hari ini ia kembali mendampingi seluruh agenda Tuan Besar Hayes sejak pagi. Baru saja selesai memastikan jadwal di tablet yang dibawanya, sebuah suara menyapanya. "Hari ini kamu selesai jam berapa?" Bianca mendongak. Adrian berjalan menghampirinya dengan senyum hangat seperti biasa. Ia kembali menunduk, mengecek jadwal sekali lagi. "Kalau tidak ada perubahan, sekitar jam tiga atau empat sore agenda Tuan Besar Hayes sudah selesai. Setelah itu—" "Kamu tidak kembali ke kantor lagi," potong Adrian sambil tersenyum. Bianca mengangkat wajahnya. "Tuan tahu?" "Daddy yang kasih tahu," jawab Adiran singkat. "Ah begitu …” Bianca mengangguk sambil tersenyum kecil. Adrian menyelipkan kedua tangannya ke saku celana. "Kebetulan aku juga selesai lebih awal." Senyum pria itu semakin lebar. "Berarti hari ini aku boleh menagih janjimu." Bianca langsung teringat ucapannya kemarin. Ia memang berjanji

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 4. Tugas Tambahan

    Bianca menghembuskan napas panjang sambil menatap punggung Liam yang perlahan menjauh. Baru setelah lelaki itu menghilang dari pandangannya, ia kembali menjatuhkan tubuh ke kursi. Setiap kali berhadapan dengan Liam, Bianca selalu merasa waswas. Ketegasan dan wibawanya memang mengingatkannya pada Tuan Besar Hayes, tetapi sorot matanya yang dingin dan wajahnya yang nyaris tak pernah menunjukkan ekspresi membuatnya sulit ditebak. Sangat berbeda dengan Adrian yang hangat dan mudah mencairkan suasana. Bianca segera menggeleng pelan. Tidak sepantasnya ia membandingkan kedua putra atasannya. Beberapa saat kemudian, Bianca merapikan meja kerjanya dan bersiap pulang. Namun, pekerjaannya hari itu belum benar-benar selesai. Selain menjadi asisten Tuan Besar Hayes, malam ini ia juga harus bergegas ke coffee shop tempatnya bekerja paruh waktu. Tok. Sebuah ketukan pelan di atas meja membuat Bianca mendongak. "Ke ruangan saya." Liam menarik kembali tangannya dari meja Bianca, lalu berbalik beg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status