เข้าสู่ระบบEh... eh... no no ya, Liam >_<
Tidak setara. Bianca tidak terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan Liam hari itu karena memang begitu adanya. Bianca tidak terusik. Namun entah mengapa, ada sensasi aneh yang merambat di dadanya saat membaca email dari Tuan Besar Hayes malam ini. Di layar tabletnya terpampang deretan biodata wanita cantik, cerdas, dan berkelas. Wanita-wanita yang tentunya setara dengan Liam. Bianca merasa pekerjaannya makin ke sini makin aneh saja. Ia mengempas tablet ke sisi kasur, lalu menyandarkan tubuhnya dengan lemas pada sandaran tempat tidur. “Ternyata bapak dan anak sama saja,” gumamnya. Kalau Liam memintanya datang ke apartemennya setiap pagi untuk menyiapkan segala keperluannya. Tak beda dengan Tuan Besar Hayes yang memintanya memilih kandidat yang tepat untuk menjadi pasangan putra bungsunya. “Ini buah jatuh sepohon-pohonnya. Memangnya aku ini Tuhan sampai jodoh buat Tuan Liam Hayes segala aku yang atur? Dunia makin ke sini makin ke sana aja. Aku sendiri jomblo sejak lahir, malah d
Bianca benar-benar tidak jauh-jauh dari Liam. Dia memilih duduk di kafetaria kantor yang berada satu lantai dengan aula pertemuan. Bianca bekerja dari kafetaria sambil ditemani dua potong roti dan secangkir kopi. Entah mengapa, kalimat Liam sebelumnya masih mengusik pikirannya. Cara lelaki itu mengucapkannya terdengar seperti sebuah permohonan, jarang sekali Bianca dengar. Biasanya yang keluar dari mulut atasannya itu selalu berupa perintah. Sore harinya, Liam baru saja keluar dari aula setelah mendampingi sejumlah petinggi menuju lobi. Saat mengantar kepergian mereka, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada Bianca yang duduk di kafetaria. Pada saat bersamaan, ponselnya berdenting. Sebuah pesan masuk dari dokter pribadinya. [Saya kirim obat dan vitaminnya malam ini.] Liam membaca pesan itu sekilas lalu kembali mengangkat pandangannya. Matanya kembali tertuju pada Bianca. Sementara Bianca di ujung sana mendongak. Begitu pandangan mereka bertemu, Bianca refleks tersenyum. Untuk beber
Bukan hal aneh bagi Bianca jika atasannya menyuruhnya datang ke kediamannya pada pagi hari. Tuan Besar Hayes juga begitu, terkadang melakukan hal yang sama. Namun yang benar-benar tidak habis pikir itu alasan kedatangannya yaitu untuk memilih pakaian untuk sang atasan. Bianca menelan ludahnya saat melihat deretan kemeja dan jas milik Liam. Lalu, ia menoleh ke arah rak lain yang dipenuhi dasi, tali pinggang dan jam tangan. “Kerja, Bianca, kerja…,” gumamnya menyemangati dirinya sendiri. Bianca mulai membuka lemari dan memilih pakaian yang tepat untuk atasannya hari ini. Hari ini ada konsolidasi partai yang harus dihadiri Liam atas arahan sang ayah. Sementara Bianca sibuk memilih penuh hati-hati karena tahu semua barang milik Liam mahal, pria itu masih berada di kamar mandi. “Sudah selesai.” Bianca tersenyum puas melihat pilihannya. Ia harus segera keluar sebelum Liam selesai mandi. Namun baru saja berbalik, tubuhnya membentur dada bidang Liam yang polos. Bianca membeku. Ia mendo
“Kamu sangat menikmati waktu istirahatmu, Bianca,” ujar Liam. Bola mata Bianca melirik ke kiri dan kanan. Semua rekannya sudah kembali duduk di kursi masing-masing menyibukkan diri. Kan… kan … hal memalukan seperti ini lagi-lagi Liam yang melihatnya. “Tuan butuh bantuan saya?” tanya Bianca lirih. Pelan-pelan ia menelan ludahnya. “Buatkan tiga kopi. Antar ke ruangan Tuan Besar Hayes,” titah Liam. “Baik, Tuan. Tiga kopi,” ulang Bianca. Liam menatap Bianca. Sementara yang ditatap tersenyum kaku. “Akan segera saya buat.” Liam pun pergi meninggalkan area kubikel kerja itu. Begitu sosok itu menghilang di balik lorong, Bianca langsung menjatuhkan kepalanya di meja briefing yang beberapa menit lalu menjadi tempatnya bermain bersama rekan-rekannya. ‘Kaget banget… kayak tiba-tiba… aarrgghhh!’ Bianca gusar di dalam hati. Tak lama terdengar suara kursi kerja beroda mendekatinya. “Bianca, are okay?” Salah seorang rekannya meraih lengannya. Namun, Bianca tetap menenggelamk
Percayalah saat bekerja dengan Tuan Besar Hayes, Bianca begitu cekatan, luwes, dan bisa diandalkan. Namun, entah kenapa… setiap kali bekerja dengan Liam, selalu saja ada salahnya dan celah memalukan yang membuatnya terlihat teledor. “Kita ketemu desainer interior, kan?” tanya Liam kepada Bianca sebelum masuk ke dalam mobil usai dari kunjungan kerja. “Benar, Tuan.” Liam mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Bianca menyusul, kemudian duduk di kursi depan bersama Nolan di sisi kemudi. Liam di belakang memperhatikan Bianca akhirnya membuka suara. “Tidak tanya saya mau makan siang di mana?” Bianca menoleh. Liam menyadari sesuatu terjadi pada Bianca karena wanita itu banyak diamnya sejak tadi. Biasanya, tanpa diminta pun wanita itu sibuk melaporkan ini dan itu. “Mau makan siang di mana, Tuan?” tanyanya akhirnya. “Kamu saja yang pilih tempatnya.” “Baik, Tuan.” Setelah itu, tidak ada lagi percakapan. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran yang tidak terlalu ja
“Tuan, Zoom meeting tadi... meeting apa? Tuan tidak punya jadwal meeting pagi ini—” “Seterusnya tugas kamu menyelipkan jadwal meeting seperti tadi, serta kunjungan ke proyek yang kita bahas kemarin,” potong Liam. Bianca langsung berdiri saat mendengar penjelasan Liam sambil merapikan dirinya. “Sebentar... berarti meeting tadi tidak ada orang kantor? Tidak ada Tuan Besar Hayes?” Liam mengangguk. Bianca langsung mengembuskan napas lega. “Bersiaplah. Nolan sudah siapkan pakaian untuk kamu. Ada di meja dekat pintu.” “Pakaian saya? Tidak perlu. Saya bisa pulang sebentar, lalu segera ke kantor—” Kalimat Bianca yang semula penuh semangat perlahan melemah. Matanya mengikuti arah pandang Liam. Lelaki itu mengangkat dagunya ke arah jam yang tergantung di dinding. Bianca menoleh, matanya langsung membulat. ‘Pukul delapan?’ teriaknya dalam hati. “Tuan... bagaimana ini?” Seketika saja wajahnya dipenuhi kepanikan. Sejak bekerja untuk Tuan Besar Hayes, Bianca tidak pernah terlamb







