Beranda / Romansa / Terlena Cinta Dua Tuan Muda / Bab 5. Pelanggan Tetap

Share

Bab 5. Pelanggan Tetap

Penulis: Dinis Selmara
last update Tanggal publikasi: 2026-07-25 16:15:54

Keesokan paginya, Bianca kembali tiba di kediaman Tuan Besar Hayes. Sesuai instruksi atasannya, hari ini ia kembali mendampingi seluruh agenda Tuan Besar Hayes sejak pagi.

Baru saja selesai memastikan jadwal di tablet yang dibawanya, sebuah suara menyapanya.

"Hari ini kamu selesai jam berapa?"

Bianca mendongak. Adrian berjalan menghampirinya dengan senyum hangat seperti biasa. Ia kembali menunduk, mengecek jadwal sekali lagi.

"Kalau tidak ada perubahan, sekitar jam tiga atau empat sore agenda Tuan Besar Hayes sudah selesai. Setelah itu—"

"Kamu tidak kembali ke kantor lagi," potong Adrian sambil tersenyum.

Bianca mengangkat wajahnya. "Tuan tahu?"

"Daddy yang kasih tahu," jawab Adiran singkat.

"Ah begitu …” Bianca mengangguk sambil tersenyum kecil.

Adrian menyelipkan kedua tangannya ke saku celana.

"Kebetulan aku juga selesai lebih awal." Senyum pria itu semakin lebar. "Berarti hari ini aku boleh menagih janjimu."

Bianca langsung teringat ucapannya kemarin. Ia memang berjanji akan mentraktir Adrian minum kopi sebagai ganti tumbler yang diberikan kepadanya.

Bianca tampak ragu sejenak. "Tapi, Tuan...."

"Deal." Adrian mengangkat telunjuk, menghentikan penolakan Bianca sebelum sempat keluar. "Nanti kabari aku kalau sudah selesai. Aku yang jemput."

Sebelum berbalik menuju mobilnya, Adrian mengusap pelan puncak kepala Bianca. "See you later."

Bianca hanya bisa mematung sambil memandangi punggung Adrian yang semakin menjauh. Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat tipis.

Dari dalam rumah, Liam sempat melewati ruang depan saat Bianca mengantar Adrian keluar. Begitu melihat lelaki itu, Bianca refleks menundukkan kepala.

"Selamat pagi, Tuan."

Liam hanya melirik sinis sekilas sebelum terus melangkah tanpa membalas sapaan tersebut.

Bianca sudah terbiasa. Meski begitu, sikap dingin Liam tetap saja membuat suasana di sekitarnya terasa ikut mendingin.

***

Sore harinya, seluruh agenda Tuan Besar Hayes akhirnya selesai. Mengingat janjinya kepada Adrian, Bianca segera mengirim pesan bahwa ia sudah selesai bekerja dan akan langsung menuju coffee shop tempat mereka sepakat bertemu.

Awalnya Adrian bersikeras ingin menjemput. Namun, Bianca menolak halus. Menurutnya, lebih mudah jika mereka bertemu langsung di lokasi.

Tak lama kemudian, Adrian datang di coffee shop tempat Bianca bekerja.

"Harusnya aku yang jemput kamu," ujar pria itu begitu berdiri di hadapan Bianca dengan wajah yang dibuat seolah kecewa.

Bianca tersenyum kecil. "Lebih praktis begini, Tuan...."

"Hm?" Adrian memotong sambil mengangkat sebelah alis, sengaja menatap Bianca penuh arti.

Bianca langsung tersadar. Bibirnya refleks terkatup rapat sebelum ia menggigit pelan bibir bawahnya.

"Maaf...." Bianca tertawa kecil karena salah tingkah. "Jujur, saya masih belum terbiasa dengan panggilan seperti itu."

"Kamu harus mulai terbiasa,” sahut Adrian seolah tak ingin menerima alasan.

Bianca menghembuskan napas pelan. Setelah beberapa detik mengumpulkan keberanian, akhirnya ia mengangkat wajah.

"Adrian." Suara gadis itu begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh riuh percakapan para pengunjung.

Namun, Adrian tetap mendengarnya. Senyum lelaki itu langsung merekah, ia mengangguk puas. "Nah… begitu lebih enak didengar."

Bianca hanya bisa menghembuskan napas pelan melihat reaksi putra sulung atasannya itu. Akhirnya, ia mencoba menawarkan minuman sambil tersenyum tipis.

"Kalau begitu, saya pesankan minuman untukmu...."

"Hm? Sudah lebih baik, tapi masih terdengar kaku." Adrian mengangkat sebelah alisnya, sengaja menggoda.

Bianca mendesah kecil. Ia pun mengulanginya dengan nada yang lebih santai.

"Aku pesankan minuman buat kamu." Bianca tersenyum canggung.

"Nah, begitu." Senyum Adrian langsung mengembang. "Okey. Aku akan suka apapun pilihan kamu."

Bianca hanya menggeleng pelan sebelum beranjak menuju meja bar. Ia meracik sendiri minuman pilihan untuk Adrian, lalu membawanya kembali beberapa saat kemudian.

"Nih, coba." Bianca mendorong gelas itu ke hadapannya.

Adrian menerima gelas tersebut dan menyesapnya perlahan. Baru satu tegukan, kedua alisnya langsung terangkat.

"Oh, I love it." Adrian mengangguk puas. "Approved. Ini enak."

Bianca ikut tersenyum lega. Ternyata Adrian benar-benar menyukai racikan kopi pilihannya. Jenis kopinya sama seperti yang pernah dipilih Liam, hanya komposisinya sedikit berbeda.

Setelah itu, obrolan mereka mengalir begitu saja. Adrian banyak bertanya tentang pekerjaan dan daerah asal Bianca, sementara Bianca sesekali ikut bertanya tentang kepindahannya ke Montclair dan pekerjaannya sebagai jaksa.

Cara Adrian bercerita yang santai membuat Bianca perlahan melupakan batas di antara mereka. Bersamanya, Bianca bisa mengobrol dengan leluasa tanpa terus memikirkan bahwa Adrian adalah putra atasannya.

"Kita harus ke sini lagi lain waktu," ujar Adrian saat mereka bersiap berpisah. Senyumnya mengembang, seolah sudah menemukan alasan untuk bertemu lagi. "Tapi, lain kali aku yang traktir."

Bianca terkekeh kecil. "Baiklah."

Adrian sebenarnya ingin mengantar Bianca pulang, tetapi Bianca buru-buru menolak dengan alasan masih menunggu seorang teman. Ia sengaja tidak mengatakan bahwa setelah ini dirinya harus kembali bekerja di coffee shop tersebut.

"Kalau begitu, sampai ketemu lagi," ujar Adrian sebelum melangkah menuju mobilnya.

Bianca mengangguk dan memperhatikannya sampai mobil itu meninggalkan area parkir. Begitu mobil Adrian menghilang dari pandangan, Bianca segera masuk ke ruang karyawan untuk berganti pakaian kerja. Ia mengenakan celemek, mengikat rambutnya kembali, lalu keluar beberapa menit kemudian.

Hampir bersamaan dengan mobil Adrian yang meninggalkan area kafe, sebuah mobil lain memasuki parkiran.

Bianca yang baru keluar dari ruang karyawan jelas tidak langsung menyadarinya. Apalagi di saat yang sama, Gery muncul di hadapannya.

"Siapa tadi?" Gery menggoda sambil melirik ke arah parkiran.

Bianca refleks menoleh ke arah pintu, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Teman."

"Cuma teman?" Gery menyeringai, jelas tidak percaya.

"Iya. Teman," ulang Bianca sambil terkekeh kecil. Ia segera mengambil lap di meja kasir untuk mengalihkan perhatian. "Sudah ah, aku mau kembali kerja."

Gery tertawa kecil. "Kavin masih libur. Malam ini kamu di kasir saja. Biar aku yang urus pesanan."

"Siap." Bianca mengangguk, lalu kembali berdiri di balik meja kasir.

Malam itu suasana kafe masih cukup lengang. Bianca bahkan sempat menghela napas lega karena belum banyak pelanggan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari sudut matanya, Bianca melihat seseorang melangkah masuk ke dalam kafe.

Langkahnya tenang. Posturnya tegap. Wajahnya begitu mudah dikenali.

Siapa lagi kalau bukan Liam Hayes.

Bianca langsung menundukkan kepala dan pura-pura sibuk memperhatikan layar kasir.

"Ya Tuhan… dia lagi," gumam Bianca pelan sambil berpura-pura sibuk menatap layar kasir.

“Satu Caramel Praline Macchiato,” kata Liam begitu berdiri tepat di hadapannya. Ia bahkan menyebutkan komposisi yang sama seperti kunjungan sebelumnya.

“Ada tambahan yang lain, Tuan?” tanya Bianca dengan nada profesional.

“Tidak. Itu saja,” jawab Liam singkat.

Bianca mengulang pesanannya, lalu memberi tahu bahwa minuman akan segera diantar ke mejanya. Kali ini Liam tidak berdiri lama di depan kasir. Ia memilih duduk di meja paling pojok, cukup dekat dengan area kasir.

Bianca kembali sibuk melayani pelanggan lain. Namun, beberapa kali ia menangkap tatapan Liam yang mengarah kepadanya. Ia mulai salah tingkah, tetapi memilih berpura-pura tidak menyadarinya.

Tak lama kemudian, pesanan Liam diantar. Bianca kembali fokus pada pekerjaannya, sampai sekitar tiga puluh menit kemudian lelaki itu kembali berdiri di depan kasir.

"Satu lagi seperti tadi," ucap Liam singkat sambil memesan minuman yang sama.

Bianca mengangguk dan memasukkan pesanannya ke sistem. Ia pikir hanya sekali itu, tapi ternyata tidak.

Beberapa waktu kemudian, Liam kembali memesan minuman yang sama untuk ketiga kalinya. Bianca mulai meliriknya dengan tatapan heran. Malam itu, lelaki tersebut sudah menghabiskan tiga gelas kopi.

‘Dia sebenarnya mau pesan kopi atau menghabiskan persediaan kafe?’ pikir Bianca dalam hati.

Bianca memilih tidak memikirkannya lebih jauh. Selama Liam membayar pesanannya dan tidak membuat masalah, itu bukan urusannya. Lagi pula, pekerjaan di kafe masih cukup banyak.

Hingga akhirnya waktu kerjanya selesai. Setelah berpamitan kepada rekan-rekan lainnya Bianca langsung menuju parkiran.

Namun, baru beberapa langkah, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya. Bianca refleks menghentikan langkah.

Ketika kaca jendela mobil itu turun, Bianca seketika tersentak.

‘Pria ini lagi?!’ gerutu Bianca dalam hati begitu melihat wajah Liam di hadapannya.

“Masuk,” titah Liam tanpa banyak basa-basi.

"Tapi, Tuan, saya—"

"Jangan membuat saya mengulanginya," potong Liam cepat.

Bianca menelan ludah, lalu dengan ragu melangkah mendekati mobil.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (19)
goodnovel comment avatar
roso wulan
demi melihatdan menunggu Bianca pulang liam sampai pesan kopi tuga cangkir
goodnovel comment avatar
Viva Oke
Adrian kelihatan kalem, sopan tapi GK tau juga sih liar di luar. Liam kelihatan tegas, dingin dan kejam. moga perhatian ke Bianca. persaingan bakal dimulai ini
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Liam masih berusaha untuk menagih ke bianca. Sabar lah, kasih waktu bianca nafas dulu kek
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 9. Accident

    Liam menghempaskan tangan Bianca dengan kasar. Gerakannya membuat wanita itu sedikit tersentak. “Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud—” “Kalau pekerjaanmu sudah selesai, kamu boleh pulang.” Bianca terdiam sesaat. Ia menoleh pada mejanya, kemudian mengangguk kaku. “Ah, iya. Sudah selesai.” Liam tidak lagi menghiraukan keberadaan Bianca. Tatapannya kembali tertuju pada berkas di hadapannya. Bianca menarik napas pelan. Ia kembali ke mejanya untuk merapikan barang-barangnya, memastikan tidak ada lagi miliknya yang tertinggal. “Saya permisi, Tuan.” Tidak ada jawaban. Bianca menatap Liam selama beberapa detik sebelum akhirnya memilih pergi. Suara pintu terbuka, membuat Liam mengangkat pandangannya. Tatapannya tertuju pada punggung Bianca yang kemudian hilang dan pintu tertutup rapat. Liam mengusap wajahnya kasar. Ia menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi. Apa dirinya baru saja tertidur? Sementara itu, Bianca masih berdiri di depan

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 8. Mimpi Buruk

    “Per pokok masalah, Tuan?” tanya Bianca ragu. Ia melirik sekilas ke arah sudut layar tabletnya yang sudah menunjukkan jam pulang kantor, lalu beralih menatap nanar tumpukan berkas yang tingginya hampir menyamai kepalanya. Pandangannya kemudian tertuju pada Liam, seolah meminta kepastian.“Keberatan?” tanya Liam balik, nada bicaranya memang terdengar datar, tapi sarat intimidasi.Tentu saja Bianca keberatan! Selain karena jam kerja sudah berakhir, menyortir dokumen per pokok masalah berarti sedikit banyak Bianca harus membaca berkas-berkas itu. Dan itu akan memakan banyak waktu. Namun, alih-alih protes, Bianca terpaksa menggeleng sambil mengulas senyuman manis yang palsu.“Bagus. Kamu tidak sedang terburu-buru karena tidak harus ke coffee shop, ‘kan? Atau… kamu memang sangat ingin menikmati sore ini dengan minum kopi bersama saudara saya?” sindir Liam tajam.“Tidak tuan. Tidak sama sekali. Saya akan langsung mengerjakannya,” jawab Bianca cepat.Liam mendengus samar, lalu berbalik kembal

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 7. Pekerjaan Baru

    Meski ragu, Bianca menerima amplop tersebut. Matanya melirik Liam yang duduk dengan wajah datar, sama datarnya dengan lelaki paruh baya yang duduk di sampingnya. Perlahan, Bianca membuka amplop itu dan mengeluarkan berkas di dalamnya. Matanya sedikit membesar ketika menyadari bahwa dokumen tersebut merupakan surat penugasan sementara yang menetapkannya sebagai asisten Liam. ‘Bukan surat pemutusan kerja?’ batinnya. Sudut bibir Liam terangkat tipis saat melihat Bianca membaca surat tersebut. Bianca kembali mengangkat pandangan. Tatapannya bertemu dengan Liam yang sejak tadi memperhatikannya. Entah mengapa, sorot mata lelaki itu membuat Bianca merasa tidak nyaman. “Tolong dampingi Liam sampai saya menemukan asisten yang tepat untuknya,” ujar Tuan Besar Hayes. “Saya merasa tidak pantas menerima tugas ini, Tuan,” elak Bianca. Rahang Liam seketika mengeras. “Randy lebih cocok.” “Randy masih saya plot untuk menangani mega proyek.” “Lalu bagaimana dengan Tuan?” Bianca memasang raut waj

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 6. Ketahuan?

    Begitu Bianca duduk di kursi penumpang depan dan menutup pintu, Liam langsung menyalakan mesin. Namun, baru beberapa detik mobil melaju, suaranya terdengar datar. "Barista tadi kekasihmu?" Bianca sontak menoleh. "Hah?" Liam tetap menatap jalan di depannya, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak penting. Bianca terdiam sejenak, sampai akhirnya ia seperti paham dengan siapa yang Liam bicarakan. Akhirnya, ia kembali bersuara, “Gery bukan kekasih saya, dia pemilik coffee shop itu.” Liam tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas. Dan bukannya merespon jawaban Bianca tadi, Liam justru menunjuk layar mobil yang menampilkan GPS dan berkata, “Masukkan alamat tempat tinggalmu.” “Tapi, Tuan—” “Bisakah tidak terus membantah, Bianca?” potong Liam cepat sambil menatap Bianca sejenak. Bianca menelan ludahnya sebelum akhirnya mengangguk pelan. Akhirnya, dengan ragu ia memasukkan alamat kosnya ke sistem navigasi. Tak ada lagi suara yang keluar, kecuali deru mobil yang melaju dengan tenang. Bah

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 5. Pelanggan Tetap

    Keesokan paginya, Bianca kembali tiba di kediaman Tuan Besar Hayes. Sesuai instruksi atasannya, hari ini ia kembali mendampingi seluruh agenda Tuan Besar Hayes sejak pagi. Baru saja selesai memastikan jadwal di tablet yang dibawanya, sebuah suara menyapanya. "Hari ini kamu selesai jam berapa?" Bianca mendongak. Adrian berjalan menghampirinya dengan senyum hangat seperti biasa. Ia kembali menunduk, mengecek jadwal sekali lagi. "Kalau tidak ada perubahan, sekitar jam tiga atau empat sore agenda Tuan Besar Hayes sudah selesai. Setelah itu—" "Kamu tidak kembali ke kantor lagi," potong Adrian sambil tersenyum. Bianca mengangkat wajahnya. "Tuan tahu?" "Daddy yang kasih tahu," jawab Adiran singkat. "Ah begitu …” Bianca mengangguk sambil tersenyum kecil. Adrian menyelipkan kedua tangannya ke saku celana. "Kebetulan aku juga selesai lebih awal." Senyum pria itu semakin lebar. "Berarti hari ini aku boleh menagih janjimu." Bianca langsung teringat ucapannya kemarin. Ia memang berjanji

  • Terlena Cinta Dua Tuan Muda   Bab 4. Tugas Tambahan

    Bianca menghembuskan napas panjang sambil menatap punggung Liam yang perlahan menjauh. Baru setelah lelaki itu menghilang dari pandangannya, ia kembali menjatuhkan tubuh ke kursi. Setiap kali berhadapan dengan Liam, Bianca selalu merasa waswas. Ketegasan dan wibawanya memang mengingatkannya pada Tuan Besar Hayes, tetapi sorot matanya yang dingin dan wajahnya yang nyaris tak pernah menunjukkan ekspresi membuatnya sulit ditebak. Sangat berbeda dengan Adrian yang hangat dan mudah mencairkan suasana. Bianca segera menggeleng pelan. Tidak sepantasnya ia membandingkan kedua putra atasannya. Beberapa saat kemudian, Bianca merapikan meja kerjanya dan bersiap pulang. Namun, pekerjaannya hari itu belum benar-benar selesai. Selain menjadi asisten Tuan Besar Hayes, malam ini ia juga harus bergegas ke coffee shop tempatnya bekerja paruh waktu. Tok. Sebuah ketukan pelan di atas meja membuat Bianca mendongak. "Ke ruangan saya." Liam menarik kembali tangannya dari meja Bianca, lalu berbalik beg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status