LOGINKeesokan paginya, Bianca kembali tiba di kediaman Tuan Besar Hayes. Sesuai instruksi atasannya, hari ini ia kembali mendampingi seluruh agenda Tuan Besar Hayes sejak pagi.
Baru saja selesai memastikan jadwal di tablet yang dibawanya, sebuah suara menyapanya. "Hari ini kamu selesai jam berapa?" Bianca mendongak. Adrian berjalan menghampirinya dengan senyum hangat seperti biasa. Ia kembali menunduk, mengecek jadwal sekali lagi. "Kalau tidak ada perubahan, sekitar jam tiga atau empat sore agenda Tuan Besar Hayes sudah selesai. Setelah itu—" "Kamu tidak kembali ke kantor lagi," potong Adrian sambil tersenyum. Bianca mengangkat wajahnya. "Tuan tahu?" "Daddy yang kasih tahu," jawab Adiran singkat. "Ah begitu …” Bianca mengangguk sambil tersenyum kecil. Adrian menyelipkan kedua tangannya ke saku celana. "Kebetulan aku juga selesai lebih awal." Senyum pria itu semakin lebar. "Berarti hari ini aku boleh menagih janjimu." Bianca langsung teringat ucapannya kemarin. Ia memang berjanji akan mentraktir Adrian minum kopi sebagai ganti tumbler yang diberikan kepadanya. Bianca tampak ragu sejenak. "Tapi, Tuan...." "Deal." Adrian mengangkat telunjuk, menghentikan penolakan Bianca sebelum sempat keluar. "Nanti kabari aku kalau sudah selesai. Aku yang jemput." Sebelum berbalik menuju mobilnya, Adrian mengusap pelan puncak kepala Bianca. "See you later." Bianca hanya bisa mematung sambil memandangi punggung Adrian yang semakin menjauh. Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat tipis. Dari dalam rumah, Liam sempat melewati ruang depan saat Bianca mengantar Adrian keluar. Begitu melihat lelaki itu, Bianca refleks menundukkan kepala. "Selamat pagi, Tuan." Liam hanya melirik sinis sekilas sebelum terus melangkah tanpa membalas sapaan tersebut. Bianca sudah terbiasa. Meski begitu, sikap dingin Liam tetap saja membuat suasana di sekitarnya terasa ikut mendingin. *** Sore harinya, seluruh agenda Tuan Besar Hayes akhirnya selesai. Mengingat janjinya kepada Adrian, Bianca segera mengirim pesan bahwa ia sudah selesai bekerja dan akan langsung menuju coffee shop tempat mereka sepakat bertemu. Awalnya Adrian bersikeras ingin menjemput. Namun, Bianca menolak halus. Menurutnya, lebih mudah jika mereka bertemu langsung di lokasi. Tak lama kemudian, Adrian datang di coffee shop tempat Bianca bekerja. "Harusnya aku yang jemput kamu," ujar pria itu begitu berdiri di hadapan Bianca dengan wajah yang dibuat seolah kecewa. Bianca tersenyum kecil. "Lebih praktis begini, Tuan...." "Hm?" Adrian memotong sambil mengangkat sebelah alis, sengaja menatap Bianca penuh arti. Bianca langsung tersadar. Bibirnya refleks terkatup rapat sebelum ia menggigit pelan bibir bawahnya. "Maaf...." Bianca tertawa kecil karena salah tingkah. "Jujur, saya masih belum terbiasa dengan panggilan seperti itu." "Kamu harus mulai terbiasa,” sahut Adrian seolah tak ingin menerima alasan. Bianca menghembuskan napas pelan. Setelah beberapa detik mengumpulkan keberanian, akhirnya ia mengangkat wajah. "Adrian." Suara gadis itu begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh riuh percakapan para pengunjung. Namun, Adrian tetap mendengarnya. Senyum lelaki itu langsung merekah, ia mengangguk puas. "Nah… begitu lebih enak didengar." Bianca hanya bisa menghembuskan napas pelan melihat reaksi putra sulung atasannya itu. Akhirnya, ia mencoba menawarkan minuman sambil tersenyum tipis. "Kalau begitu, saya pesankan minuman untukmu...." "Hm? Sudah lebih baik, tapi masih terdengar kaku." Adrian mengangkat sebelah alisnya, sengaja menggoda. Bianca mendesah kecil. Ia pun mengulanginya dengan nada yang lebih santai. "Aku pesankan minuman buat kamu." Bianca tersenyum canggung. "Nah, begitu." Senyum Adrian langsung mengembang. "Okey. Aku akan suka apapun pilihan kamu." Bianca hanya menggeleng pelan sebelum beranjak menuju meja bar. Ia meracik sendiri minuman pilihan untuk Adrian, lalu membawanya kembali beberapa saat kemudian. "Nih, coba." Bianca mendorong gelas itu ke hadapannya. Adrian menerima gelas tersebut dan menyesapnya perlahan. Baru satu tegukan, kedua alisnya langsung terangkat. "Oh, I love it." Adrian mengangguk puas. "Approved. Ini enak." Bianca ikut tersenyum lega. Ternyata Adrian benar-benar menyukai racikan kopi pilihannya. Jenis kopinya sama seperti yang pernah dipilih Liam, hanya komposisinya sedikit berbeda. Setelah itu, obrolan mereka mengalir begitu saja. Adrian banyak bertanya tentang pekerjaan dan daerah asal Bianca, sementara Bianca sesekali ikut bertanya tentang kepindahannya ke Montclair dan pekerjaannya sebagai jaksa. Cara Adrian bercerita yang santai membuat Bianca perlahan melupakan batas di antara mereka. Bersamanya, Bianca bisa mengobrol dengan leluasa tanpa terus memikirkan bahwa Adrian adalah putra atasannya. "Kita harus ke sini lagi lain waktu," ujar Adrian saat mereka bersiap berpisah. Senyumnya mengembang, seolah sudah menemukan alasan untuk bertemu lagi. "Tapi, lain kali aku yang traktir." Bianca terkekeh kecil. "Baiklah." Adrian sebenarnya ingin mengantar Bianca pulang, tetapi Bianca buru-buru menolak dengan alasan masih menunggu seorang teman. Ia sengaja tidak mengatakan bahwa setelah ini dirinya harus kembali bekerja di coffee shop tersebut. "Kalau begitu, sampai ketemu lagi," ujar Adrian sebelum melangkah menuju mobilnya. Bianca mengangguk dan memperhatikannya sampai mobil itu meninggalkan area parkir. Begitu mobil Adrian menghilang dari pandangan, Bianca segera masuk ke ruang karyawan untuk berganti pakaian kerja. Ia mengenakan celemek, mengikat rambutnya kembali, lalu keluar beberapa menit kemudian. Hampir bersamaan dengan mobil Adrian yang meninggalkan area kafe, sebuah mobil lain memasuki parkiran. Bianca yang baru keluar dari ruang karyawan jelas tidak langsung menyadarinya. Apalagi di saat yang sama, Gery muncul di hadapannya. "Siapa tadi?" Gery menggoda sambil melirik ke arah parkiran. Bianca refleks menoleh ke arah pintu, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Teman." "Cuma teman?" Gery menyeringai, jelas tidak percaya. "Iya. Teman," ulang Bianca sambil terkekeh kecil. Ia segera mengambil lap di meja kasir untuk mengalihkan perhatian. "Sudah ah, aku mau kembali kerja." Gery tertawa kecil. "Kavin masih libur. Malam ini kamu di kasir saja. Biar aku yang urus pesanan." "Siap." Bianca mengangguk, lalu kembali berdiri di balik meja kasir. Malam itu suasana kafe masih cukup lengang. Bianca bahkan sempat menghela napas lega karena belum banyak pelanggan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari sudut matanya, Bianca melihat seseorang melangkah masuk ke dalam kafe. Langkahnya tenang. Posturnya tegap. Wajahnya begitu mudah dikenali. Siapa lagi kalau bukan Liam Hayes. Bianca langsung menundukkan kepala dan pura-pura sibuk memperhatikan layar kasir. "Ya Tuhan… dia lagi," gumam Bianca pelan sambil berpura-pura sibuk menatap layar kasir. “Satu Caramel Praline Macchiato,” kata Liam begitu berdiri tepat di hadapannya. Ia bahkan menyebutkan komposisi yang sama seperti kunjungan sebelumnya. “Ada tambahan yang lain, Tuan?” tanya Bianca dengan nada profesional. “Tidak. Itu saja,” jawab Liam singkat. Bianca mengulang pesanannya, lalu memberi tahu bahwa minuman akan segera diantar ke mejanya. Kali ini Liam tidak berdiri lama di depan kasir. Ia memilih duduk di meja paling pojok, cukup dekat dengan area kasir. Bianca kembali sibuk melayani pelanggan lain. Namun, beberapa kali ia menangkap tatapan Liam yang mengarah kepadanya. Ia mulai salah tingkah, tetapi memilih berpura-pura tidak menyadarinya. Tak lama kemudian, pesanan Liam diantar. Bianca kembali fokus pada pekerjaannya, sampai sekitar tiga puluh menit kemudian lelaki itu kembali berdiri di depan kasir. "Satu lagi seperti tadi," ucap Liam singkat sambil memesan minuman yang sama. Bianca mengangguk dan memasukkan pesanannya ke sistem. Ia pikir hanya sekali itu, tapi ternyata tidak. Beberapa waktu kemudian, Liam kembali memesan minuman yang sama untuk ketiga kalinya. Bianca mulai meliriknya dengan tatapan heran. Malam itu, lelaki tersebut sudah menghabiskan tiga gelas kopi. ‘Ada apa dengan lelaki satu ini?’ pikir Bianca dalam hati. Bianca memilih tidak memikirkannya lebih jauh. Selama Liam membayar pesanannya dan tidak membuat masalah, itu bukan urusannya. Lagi pula, pekerjaan di kafe masih cukup banyak. Hingga akhirnya waktu kerjanya selesai. Setelah berpamitan kepada rekan-rekan lainnya Bianca langsung menuju parkiran. Namun, baru beberapa langkah, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya. Bianca refleks menghentikan langkah. Ketika kaca jendela mobil itu turun, Bianca seketika tersentak. ‘Pria ini lagi?!’ gerutu Bianca dalam hati begitu melihat wajah Liam di hadapannya. “Masuk,” titah Liam tanpa banyak basa-basi. "Tapi, Tuan, saya—" "Jangan membuat saya mengulanginya," potong Liam cepat. Bianca menelan ludah, lalu dengan ragu melangkah masuk ke dalam mobil.“Kamu sangat menikmati waktu istirahatmu, Bianca,” ujar Liam. Bola mata Bianca melirik ke kiri dan kanan. Semua rekannya sudah kembali duduk di kursi masing-masing menyibukkan diri. Kan… kan … hal memalukan seperti ini lagi-lagi Liam yang melihatnya. “Tuan butuh bantuan saya?” tanya Bianca lirih. Pelan-pelan ia menelan ludahnya. “Buatkan tiga kopi. Antar ke ruangan Tuan Besar Hayes,” titah Liam. “Baik, Tuan. Tiga kopi,” ulang Bianca. Liam menatap Bianca. Sementara yang ditatap tersenyum kaku. “Akan segera saya buat.” Liam pun pergi meninggalkan area kubikel kerja itu. Begitu sosok itu menghilang di balik lorong, Bianca langsung menjatuhkan kepalanya di meja briefing yang beberapa menit lalu menjadi tempatnya bermain bersama rekan-rekannya. ‘Kaget banget… kayak tiba-tiba… aarrgghhh!’ Bianca gusar di dalam hati. Tak lama terdengar suara kursi kerja beroda mendekatinya. “Bianca, are okay?” Salah seorang rekannya meraih lengannya. Namun, Bianca tetap menenggelamk
Percayalah saat bekerja dengan Tuan Besar Hayes, Bianca begitu cekatan, luwes, dan bisa diandalkan. Namun, entah kenapa… setiap kali bekerja dengan Liam, selalu saja ada salahnya dan celah memalukan yang membuatnya terlihat teledor. “Kita ketemu desainer interior, kan?” tanya Liam kepada Bianca sebelum masuk ke dalam mobil usai dari kunjungan kerja. “Benar, Tuan.” Liam mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Bianca menyusul, kemudian duduk di kursi depan bersama Nolan di sisi kemudi. Liam di belakang memperhatikan Bianca akhirnya membuka suara. “Tidak tanya saya mau makan siang di mana?” Bianca menoleh. Liam menyadari sesuatu terjadi pada Bianca karena wanita itu banyak diamnya sejak tadi. Biasanya, tanpa diminta pun wanita itu sibuk melaporkan ini dan itu. “Mau makan siang di mana, Tuan?” tanyanya akhirnya. “Kamu saja yang pilih tempatnya.” “Baik, Tuan.” Setelah itu, tidak ada lagi percakapan. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran yang tidak terlalu ja
“Tuan, Zoom meeting tadi... meeting apa? Tuan tidak punya jadwal meeting pagi ini—” “Seterusnya tugas kamu menyelipkan jadwal meeting seperti tadi, serta kunjungan ke proyek yang kita bahas kemarin,” potong Liam. Bianca langsung berdiri saat mendengar penjelasan Liam sambil merapikan dirinya. “Sebentar... berarti meeting tadi tidak ada orang kantor? Tidak ada Tuan Besar Hayes?” Liam mengangguk. Bianca langsung mengembuskan napas lega. “Bersiaplah. Nolan sudah siapkan pakaian untuk kamu. Ada di meja dekat pintu.” “Pakaian saya? Tidak perlu. Saya bisa pulang sebentar, lalu segera ke kantor—” Kalimat Bianca yang semula penuh semangat perlahan melemah. Matanya mengikuti arah pandang Liam. Lelaki itu mengangkat dagunya ke arah jam yang tergantung di dinding. Bianca menoleh, matanya langsung membulat. ‘Pukul delapan?’ teriaknya dalam hati. “Tuan... bagaimana ini?” Seketika saja wajahnya dipenuhi kepanikan. Sejak bekerja untuk Tuan Besar Hayes, Bianca tidak pernah terlamb
Bianca mengeratkan pelukannya dengan nyaman. Kepalanya mendusel manja pada dada bidang yang terasa empuk dan wangi. ‘Dada bidang? Wangi ini?’ Bianca tiba-tiba membuka matanya yang langsung membulat. Otaknya baru mencerna apa yang sedang terjadi. Ia mengingat kejadian sebelumnya, Liam yang terkulai dan tertidur di atas kepalanya karena tubuh lelaki itu jauh lebih tinggi dibandingkan tubuhnya yang mungil. Tapi … kenapa sekarang posisi mereka malah berbaring sambil berpelukan di sofa? Oh, lebih tepatnya Bianca yang memeluk Liam. Bianca memejamkan matanya rapat-rapat, merutuki dirinya. ‘Sumpah … ini gimana cara lepasinnya?’ rengek Bianca dalam hati. Sementara Bianca sibuk menyusun strategi agar bisa melepaskan tangannya dari tubuh Liam tanpa membangunkannya, lelaki itu justru tengah menjelingkan matanya jengah. “Sampai kapan ini kamu mau peluk saya?” ujar Liam datar. “Saya tahu kamu sudah bangun.” ‘Matilah kamu, Bianca,’ rutuk Bianca lagi pada dirinya, tentunya di dalam ha
Liam meraih tangan Bianca, lalu perlahan menjauhkannya dari bibirnya. Padahal gerakannya tenang, tapi tetap saja Bianca salah tingkah. Ia abaikan degup jantungnya yang tak karuan saat ini. “Sa–saya pesan makan malam,” ujar Bianca terbata. Ia mengangguk sopan, lalu menunduk segan ketika melewati Liam. Baru beberapa langkah Bianca berbalik bertanya, “Apa Tuan ada alergi makanan?” Liam tidak menjawab, lelaki itu menatap Bianca tanpa berkedip. “Saya hanya ingin memastikan–” “Udang,” pangkas Liam, membuat Bianca membeku, pasalnya ia juga alergi seafood satu itu. “Baik, Tuan.” Bianca pun kembali menuju sofa. Kini, keduanya sudah kembali duduk berdampingan di sofa. “Saya tidak lapar,” kata Liam, entah untuk keberapa kalinya seraya menatap Bianca yang tengah menyiapkan makan malam yang wanita itu pesan untuk mereka malam ini. “Nurut,” balas Bianca. Entah keberanian dari mana pula yang membuatnya mengatur hidup the devil of Hayes family itu. Belum lagi telunjuk nakalnya y
Bianca tersenyum kaku ketika mendengar Adrian mengatakan kalau ia menemukan tumbler miliknya di mobil Liam. Lelaki itu mengira Bianca sengaja menitipkannya kepada sang atasan. “Lain kali jangan begitu,” ujar Adrian mengingatkan Bianca yang hanya bisa meringis tanpa mengklarifikasi. Kini keduanya sedang menikmati kopi di sebuah kafe. Ya, Bianca memilih menemui Adrian siang itu. Rencananya, sore nanti barulah ia mendatangi apartemen Liam. Panggilan Liam kali ini juga tidak mendesak. Bianca sudah memastikan hal itu. Saat ditanya saja, lelaki itu tidak memberitahu untuk apa sebenarnya ia meminta Bianca datang ke apartemen barunya. “Katanya Montclair ini kopinya bagus,” ujar Adrian sambil memperhatikan cangkir di hadapannya. “Kamu bisa menyarankan Liam berkunjung ke petani kopi di sini.” Bianca hanya tersenyum. “Tapi jujur, aku lebih suka kopi di kafe sebelumnya,” lanjut Adrian. “Kalau tempatnya di-upgrade, mungkin memang karena seenak itu sampai layak dikembangkan.” Bianca mengangg







