LOGINBianca menghembuskan napas panjang sambil menatap punggung Liam yang perlahan menjauh. Baru setelah lelaki itu menghilang dari pandangannya, ia kembali menjatuhkan tubuh ke kursi.
Setiap kali berhadapan dengan Liam, Bianca selalu merasa waswas. Ketegasan dan wibawanya memang mengingatkannya pada Tuan Besar Hayes, tetapi sorot matanya yang dingin dan wajahnya yang nyaris tak pernah menunjukkan ekspresi membuatnya sulit ditebak. Sangat berbeda dengan Adrian yang hangat dan mudah mencairkan suasana. Bianca segera menggeleng pelan. Tidak sepantasnya ia membandingkan kedua putra atasannya. Beberapa saat kemudian, Bianca merapikan meja kerjanya dan bersiap pulang. Namun, pekerjaannya hari itu belum benar-benar selesai. Selain menjadi asisten Tuan Besar Hayes, malam ini ia juga harus bergegas ke coffee shop tempatnya bekerja paruh waktu. Tok. Sebuah ketukan pelan di atas meja membuat Bianca mendongak. "Ke ruangan saya." Liam menarik kembali tangannya dari meja Bianca, lalu berbalik begitu saja. "Saya, Tuan?" tanya Bianca bingung, sekaligus refleks. Tak ada jawaban. Lelaki itu terus melangkah seolah yakin Bianca akan mengikutinya. Bianca segera menyusul Liam hingga keduanya masuk ke dalam lift. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya sekali lagi, sedikit terengah karena harus mengejar langkah panjang lelaki itu. Liam menoleh sekilas. "Banyak." Jawaban singkat itu justru membuat Bianca semakin bingung. Ia sempat ragu untuk melanjutkan langkah, tetapi akhirnya tetap mengikuti Liam hingga tiba di ruang kerjanya. Begitu masuk, Liam meletakkan notulen rapat beserta beberapa berkas di atas meja sofa, lalu mendorongnya ke arah Bianca. "Rangkum semuanya,” titah Liam. Bianca mengerjap pelan. "Kenapa saya, Tuan? Bukankah tadi Randy yang mendampingi Tuan?" Liam mengangkat pandangan dari berkas di hadapannya. "Kamu keberatan?" "Bukan begitu, Tuan." Bianca buru-buru menggeleng. "Hanya saja, Tuan Besar Hayes tidak memberi instruksi agar saya membantu Tuan...." "Oh?" Liam menyandarkan tubuhnya ke tepi meja sambil menatap Bianca datar. "Jadi kamu pilih-pilih pekerjaan?" Bianca langsung terdiam. Jemarinya saling menggenggam, sementara pandangannya jatuh ke lantai. Sekilas ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Masih ada waktu sebelum jadwal shiftnya di coffee shop dimulai, salah satu pekerjaan sampingan yang selama ini Bianca jalani untuk menambah penghasilan. Asal pekerjaannya di sini selesai tepat waktu, ia masih bisa langsung berangkat ke sana. "Baik, Tuan," ucap Bianca akhirnya sambil mengambil berkas-berkas itu. "Akan saya kerjakan." Bianca membuka laptop yang sudah tersedia di atas meja, lalu mulai merangkum hasil pertemuan Liam tadi. Sesekali Bianca mengajukan pertanyaan saat menemukan bagian yang kurang dipahaminya. Di luar dugaan, Liam cukup kooperatif ketika membahas pekerjaan. Bianca beberapa kali merasa Liam sedang menatapnya. Benar saja, saat ia mengangkat kepala, lelaki itu tengah menatapnya tanpa mengalihkan pandangan seolah itu bukan apa-apa. Entah kenapa, ucapan rekannya tentang The Devil of the Hayes Family kembali terlintas di benaknya, membuatnya semakin was-was, khawatir pria itu benar-benar tidak akan mengampuninya karena masalah kopi. Bianca pun memilih menghindari tatapan itu. Meski begitu, pekerjaannya hampir selesai, bahkan lebih cepat dari yang ia perkirakan. Senyum tipis mulai menghiasi wajah Bianca. Jemarinya terus bergerak lincah di atas papan ketik. Tatapan Liam masih terpaku pada wajah Bianca. Kali ini, tanpa Bianca sadari tiba-tiba saja tangan Liam terangkat terulur ke arah wajah Bianca seolah hendak menyentuhnya. "Tuan, sudah selesai." Bianca refleks bersuara. Liam pun segera menarik kembali tangannya. Bianca mengernyit heran. Sekilas ia merasa Liam hendak melakukan sesuatu, tetapi tak sempat menangkap apa. Liam mengambil laptop di hadapannya dan memeriksa hasil pekerjaan Bianca sekilas. Sesaat kemudian ia mengangguk. "Kamu boleh keluar," ujar Liam singkat. "Baik, Tuan." Bianca segera berpamitan dan meninggalkan ruang kerja Liam. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Bianca menghembuskan napas lega. Syukurlah, ia masih ada waktu. *** Malam harinya, Bianca bergegas menuju coffee shop tempatnya bekerja paruh waktu. Begitu mengenakan celemek dan merapikan rambutnya, ia langsung mengambil alih pekerjaannya seperti biasa. "Bianca, Kevin nggak masuk hari ini. Kamu bisa pegang kasir sekaligus barista?" tanya Gery, pemilik coffee shop. "Oh, ya. Tentu saja." Gery tersenyum lega sambil menepuk pelan lengan Bianca. "Thank you. Nanti kalau urusan di bakery selesai, aku bantu." "Oke," balas Bianca. Tak butuh waktu lama hingga antrean pelanggan kembali memenuhi area kasir. Bianca melayani satu per satu pesanan sambil sesekali berpindah ke mesin kopi ketika minuman selesai diracik. Baru setelah antrian mulai lenggang, seorang pria melangkah mendekat. "Selamat malam...." Senyum Bianca seketika membeku. Liam Hayes berdiri tepat di hadapannya dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Tatapannya menyapu celemek yang dikenakan Bianca sebelum berhenti di wajahnya. Lalu, Liam mengalihkan pandangannya ke papan menu di belakang Bianca. "Satu caramel praline macchiato, cinnamon roll, dan croissant,” ujar Liam sambil melirik Bianca sekilas. Liam juga menyebutkan detail komposisi minumannya membuat Bianca seolah tersihir. Bianca kemudian tersadar dari lamunannya. Ia buru-buru meraih tablet kasir dan mulai memasukkan pesanan. "Satu caramel praline macchiato, satu cinnamon roll, satu... croissant...." "Almond croissant," ralat Liam singkat. Jemari Bianca seketika terhenti di atas layar kasir. Almond croissant. Bukankah... itu pesanan yang sama seperti di bandara waktu itu? Bianca melirik pria itu sejenak, tapi hanya mendapati satu alis terangkat dengan senyum tipis di bibir Liam. Akhirnya, Bianca segera kembali fokus dan mengoreksi pesanannya. "Baik, Tuan. Pesanan Tuan sudah saya terima. Silakan menunggu di meja. Nanti pesanan akan kami antar." "Saya akan menunggu pesanan saya." Liam dengan santai menatap sekitar, mengamati kafe itu. “Pesanan Tuan akan diantar–” Liam menatap Bianca menajamkan tatapannya tak suka dibantah. “Saya buatkan pesanan Tuan. Mohon menunggu,” lanjut Bianca mengangguk sungkan. Bianca benar-benar diawasi oleh manik mata tajam itu, membuatnya gugup dan salah tingkah. Tatapannya sungguh mengintidasi. Beberapa menit kemudian, Bianca membawa pesanan Liam ke meja penyajian. "Pesanan Tuan sudah siap." Baru saja Bianca hendak melepaskan gelas kopi itu, Liam lebih dulu meraihnya. Jemarinya sengaja menahan tangan Bianca yang masih menggenggam gelas beberapa detik lebih lama. Bianca refleks mengangkat kepala. "T-Tuan?" Liam menatapnya datar. "Pastikan kali ini tidak ada orang lancang yang merebut kopi saya." Bianca langsung tercekat. Jadi... pria ini benar-benar tidak akan melupakan kejadian itu?Tidak setara. Bianca tidak terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan Liam hari itu karena memang begitu adanya. Bianca tidak terusik. Namun entah mengapa, ada sensasi aneh yang merambat di dadanya saat membaca email dari Tuan Besar Hayes malam ini. Di layar tabletnya terpampang deretan biodata wanita cantik, cerdas, dan berkelas. Wanita-wanita yang tentunya setara dengan Liam. Bianca merasa pekerjaannya makin ke sini makin aneh saja. Ia mengempas tablet ke sisi kasur, lalu menyandarkan tubuhnya dengan lemas pada sandaran tempat tidur. “Ternyata bapak dan anak sama saja,” gumamnya. Kalau Liam memintanya datang ke apartemennya setiap pagi untuk menyiapkan segala keperluannya. Tak beda dengan Tuan Besar Hayes yang memintanya memilih kandidat yang tepat untuk menjadi pasangan putra bungsunya. “Ini buah jatuh sepohon-pohonnya. Memangnya aku ini Tuhan sampai jodoh buat Tuan Liam Hayes segala aku yang atur? Dunia makin ke sini makin ke sana aja. Aku sendiri jomblo sejak lahir, malah d
Bianca benar-benar tidak jauh-jauh dari Liam. Dia memilih duduk di kafetaria kantor yang berada satu lantai dengan aula pertemuan. Bianca bekerja dari kafetaria sambil ditemani dua potong roti dan secangkir kopi. Entah mengapa, kalimat Liam sebelumnya masih mengusik pikirannya. Cara lelaki itu mengucapkannya terdengar seperti sebuah permohonan, jarang sekali Bianca dengar. Biasanya yang keluar dari mulut atasannya itu selalu berupa perintah. Sore harinya, Liam baru saja keluar dari aula setelah mendampingi sejumlah petinggi menuju lobi. Saat mengantar kepergian mereka, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada Bianca yang duduk di kafetaria. Pada saat bersamaan, ponselnya berdenting. Sebuah pesan masuk dari dokter pribadinya. [Saya kirim obat dan vitaminnya malam ini.] Liam membaca pesan itu sekilas lalu kembali mengangkat pandangannya. Matanya kembali tertuju pada Bianca. Sementara Bianca di ujung sana mendongak. Begitu pandangan mereka bertemu, Bianca refleks tersenyum. Untuk beber
Bukan hal aneh bagi Bianca jika atasannya menyuruhnya datang ke kediamannya pada pagi hari. Tuan Besar Hayes juga begitu, terkadang melakukan hal yang sama. Namun yang benar-benar tidak habis pikir itu alasan kedatangannya yaitu untuk memilih pakaian untuk sang atasan. Bianca menelan ludahnya saat melihat deretan kemeja dan jas milik Liam. Lalu, ia menoleh ke arah rak lain yang dipenuhi dasi, tali pinggang dan jam tangan. “Kerja, Bianca, kerja…,” gumamnya menyemangati dirinya sendiri. Bianca mulai membuka lemari dan memilih pakaian yang tepat untuk atasannya hari ini. Hari ini ada konsolidasi partai yang harus dihadiri Liam atas arahan sang ayah. Sementara Bianca sibuk memilih penuh hati-hati karena tahu semua barang milik Liam mahal, pria itu masih berada di kamar mandi. “Sudah selesai.” Bianca tersenyum puas melihat pilihannya. Ia harus segera keluar sebelum Liam selesai mandi. Namun baru saja berbalik, tubuhnya membentur dada bidang Liam yang polos. Bianca membeku. Ia mendo
“Kamu sangat menikmati waktu istirahatmu, Bianca,” ujar Liam. Bola mata Bianca melirik ke kiri dan kanan. Semua rekannya sudah kembali duduk di kursi masing-masing menyibukkan diri. Kan… kan … hal memalukan seperti ini lagi-lagi Liam yang melihatnya. “Tuan butuh bantuan saya?” tanya Bianca lirih. Pelan-pelan ia menelan ludahnya. “Buatkan tiga kopi. Antar ke ruangan Tuan Besar Hayes,” titah Liam. “Baik, Tuan. Tiga kopi,” ulang Bianca. Liam menatap Bianca. Sementara yang ditatap tersenyum kaku. “Akan segera saya buat.” Liam pun pergi meninggalkan area kubikel kerja itu. Begitu sosok itu menghilang di balik lorong, Bianca langsung menjatuhkan kepalanya di meja briefing yang beberapa menit lalu menjadi tempatnya bermain bersama rekan-rekannya. ‘Kaget banget… kayak tiba-tiba… aarrgghhh!’ Bianca gusar di dalam hati. Tak lama terdengar suara kursi kerja beroda mendekatinya. “Bianca, are okay?” Salah seorang rekannya meraih lengannya. Namun, Bianca tetap menenggelamk
Percayalah saat bekerja dengan Tuan Besar Hayes, Bianca begitu cekatan, luwes, dan bisa diandalkan. Namun, entah kenapa… setiap kali bekerja dengan Liam, selalu saja ada salahnya dan celah memalukan yang membuatnya terlihat teledor. “Kita ketemu desainer interior, kan?” tanya Liam kepada Bianca sebelum masuk ke dalam mobil usai dari kunjungan kerja. “Benar, Tuan.” Liam mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Bianca menyusul, kemudian duduk di kursi depan bersama Nolan di sisi kemudi. Liam di belakang memperhatikan Bianca akhirnya membuka suara. “Tidak tanya saya mau makan siang di mana?” Bianca menoleh. Liam menyadari sesuatu terjadi pada Bianca karena wanita itu banyak diamnya sejak tadi. Biasanya, tanpa diminta pun wanita itu sibuk melaporkan ini dan itu. “Mau makan siang di mana, Tuan?” tanyanya akhirnya. “Kamu saja yang pilih tempatnya.” “Baik, Tuan.” Setelah itu, tidak ada lagi percakapan. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran yang tidak terlalu ja
“Tuan, Zoom meeting tadi... meeting apa? Tuan tidak punya jadwal meeting pagi ini—” “Seterusnya tugas kamu menyelipkan jadwal meeting seperti tadi, serta kunjungan ke proyek yang kita bahas kemarin,” potong Liam. Bianca langsung berdiri saat mendengar penjelasan Liam sambil merapikan dirinya. “Sebentar... berarti meeting tadi tidak ada orang kantor? Tidak ada Tuan Besar Hayes?” Liam mengangguk. Bianca langsung mengembuskan napas lega. “Bersiaplah. Nolan sudah siapkan pakaian untuk kamu. Ada di meja dekat pintu.” “Pakaian saya? Tidak perlu. Saya bisa pulang sebentar, lalu segera ke kantor—” Kalimat Bianca yang semula penuh semangat perlahan melemah. Matanya mengikuti arah pandang Liam. Lelaki itu mengangkat dagunya ke arah jam yang tergantung di dinding. Bianca menoleh, matanya langsung membulat. ‘Pukul delapan?’ teriaknya dalam hati. “Tuan... bagaimana ini?” Seketika saja wajahnya dipenuhi kepanikan. Sejak bekerja untuk Tuan Besar Hayes, Bianca tidak pernah terlamb







