LOGINPekerjaan Bianca hari ini cukup padat. Mulai dari menghadiri rapat hingga menyiapkan berbagai kebutuhan Tuan Besar Hayes.
Tanpa terasa, langit di luar jendela mulai meredup. Bianca masih sibuk menatap layar laptopnya, memeriksa kembali beberapa dokumen, sampai sebuah suara membuyarkan konsentrasinya. "Tuan Hayes?" Bianca mendongak. Sedetik kemudian, ia mendapati Adrian berdiri di hadapannya dengan senyum hangat yang sudah begitu khas. "Oh..." Adrian terkekeh pelan sambil menggeleng. "Aku tidak suka dipanggil sekaku itu. Just Adrian." Bianca langsung menggeleng kecil. "Tidak bisa, Tuan." Bianca tersenyum canggung. "Rasanya kurang sopan." "Kenapa?" Adrian menyandarkan satu tangan di meja Bianca, masih menatapnya penuh rasa ingin tahu. "Bagaimanapun juga, Tuan adalah putra atasan saya," jawab Bianca berusaha tetap menjaga profesionalitasnya. Adrian menghembuskan napas panjang dengan ekspresi kecewa yang jelas dibuat-buat. "Bagaimana kalau..." Bianca berpikir sejenak sebelum mengangkat pandangan. "Tuan Adrian?" "Oh, come on." Adrian menepuk dahinya pelan, seolah baru saja mendengar jawaban paling mengecewakan hari itu. Melihat tingkah lelaki itu, Bianca tak kuasa menahan senyum. "...Adrian." "Nah..." Sudut bibir Adrian langsung terangkat puas. "Begitu, dong." "Tapi," Bianca buru-buru menyela sebelum Adrian salah paham. "Saya hanya akan memanggil Tuan seperti itu di luar jam kerja." Senyum Adrian sedikit memudar, tetapi ia tetap mengangguk. "Deal." Pria itu lalu mengulurkan tangan ke arah Bianca. "Now, give me your phone." Bianca berkedip bingung, tetapi tetap menyerahkan ponsel kerjanya. Adrian hanya melirik sekilas, lalu terkekeh pelan sambil mengembalikannya. "Bukan yang ini." Ia kembali mengulurkan tangan. "Ponsel pribadimu." "Tapi, Tuan..." Bianca tampak ragu. Adrian hanya mengangkat sebelah alis. Tangannya masih terulur, seolah tidak akan ditarik sebelum Bianca menyerah. Dengan helaan napas pelan, Bianca akhirnya memberikan ponsel pribadinya. Adrian segera menyimpan nomor teleponnya. Saat layar menyala, matanya sempat menangkap wallpaper bergambar siluet Bianca di tepi pantai saat matahari terbenam. "Kamu suka pantai?" tanyanya sambil mengembalikan ponsel itu. Bianca tampak sedikit terkejut. Jemarinya refleks menerima ponsel tersebut. "Iya," jawab Bianca singkat. "Aku juga." Adrian tersenyum kecil sambil menyelipkan kedua tangannya ke saku celana. "Sayang sekali kita jauh dari laut." Bianca hanya membalas dengan senyum tipis. "Oh ya..." Adrian tiba-tiba teringat sesuatu. "Kopinya gimana? Kamu suka?" Senyum Bianca seketika membeku. Ia bahkan belum sempat mencicipinya. Tumbler itu lebih dulu dirampas Liam, dan sampai sekarang isinya pun entah masih tersisa atau tidak karena tumbler itu bahkan tidak ada di tangannya. "Ya... saya suka," jawabnya akhirnya, memaksakan senyum. Adrian terkekeh pelan. "I knew it." Entah kenapa, ucapan itu justru membuat Bianca semakin merasa bersalah. "Kalau begitu..." Bianca menggenggam ponselnya canggung. "Lain kali biar saya yang traktir Tuan minum kopi. Sekalian mengembalikan tumblernya." Senyum Adrian sontak melebar. "Deal." Ia mengangguk mantap. "Tapi tumblernya nggak usah dikembalikan." Bianca mengernyit bingung. "Tapi, Tuan...." Adrian terkekeh pelan. "Kalau kamu mengembalikannya, aku bakal menganggap kamu sengaja minta refill karena sesuka itu sama kopi buatanku. Dan setelah itu, kopinya sudah tidak gratis lagi." Bianca terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil mendengar candaan itu. "Baiklah." Adrian ikut tersenyum melihat tawanya. "Kalau ada yang belum paham soal materi rapat, langsung hubungi aku." "Baik, Tuan Adrian." Bianca mengangguk dengan senyum di wajahnya. Adrian melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Bianca. "Ups... jam kerja sudah selesai." Senyumnya kembali mengembang. "Mungkin kamu mau mengoreksi panggilanmu?" Bianca menghembuskan napas pelan sambil menggeleng geli. "Tuan...." Adrian menaikkan alisnya menunggu. “Baik, Adrian,” koreksi Bianca tersenyum malu. "I love it,” balas Adrian, setelah melambaikan tangan kecil, ia pun berlalu. Bianca menundukkan kepala sambil tersenyum sendiri. Rasanya lucu melihat seorang putra sulung keluarga Hayes bisa tampak begitu puas hanya karena namanya dipanggil tanpa embel-embel "Tuan". Tanpa sadar, ia menggeleng kecil mengingat tingkah Adrian yang terkadang terasa jauh lebih kekanak-kanakan daripada usianya. Namun, senyum itu belum sempat benar-benar hilang ketika sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakangnya. "Kamu dibayar untuk bekerja atau hanya tersenyum-senyum saja, hmm?" Senyum di wajah Bianca seketika lenyap. Ia refleks menoleh dan mendapati Liam sudah berdiri hanya beberapa langkah di belakangnya. "Maaf, Tuan." Bianca buru-buru berdiri tegak. "Ada yang bisa saya bantu?" Liam hanya menatapnya dengan sorot mata datar yang sulit diartikan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Setelah beberapa detik membiarkan Bianca berdiri canggung, lelaki itu melewatinya begitu saja dan langsung masuk ke ruang kerja Tuan Besar Hayes. Bianca hanya bisa mengikuti punggung Liam dengan tatapan bingung. Apa maksudnya? Kalau memang tidak membutuhkan bantuannya, lalu untuk apa pria itu tiba-tiba menghampirinya dan melontarkan komentar seperti itu?Tidak setara. Bianca tidak terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan Liam hari itu karena memang begitu adanya. Bianca tidak terusik. Namun entah mengapa, ada sensasi aneh yang merambat di dadanya saat membaca email dari Tuan Besar Hayes malam ini. Di layar tabletnya terpampang deretan biodata wanita cantik, cerdas, dan berkelas. Wanita-wanita yang tentunya setara dengan Liam. Bianca merasa pekerjaannya makin ke sini makin aneh saja. Ia mengempas tablet ke sisi kasur, lalu menyandarkan tubuhnya dengan lemas pada sandaran tempat tidur. “Ternyata bapak dan anak sama saja,” gumamnya. Kalau Liam memintanya datang ke apartemennya setiap pagi untuk menyiapkan segala keperluannya. Tak beda dengan Tuan Besar Hayes yang memintanya memilih kandidat yang tepat untuk menjadi pasangan putra bungsunya. “Ini buah jatuh sepohon-pohonnya. Memangnya aku ini Tuhan sampai jodoh buat Tuan Liam Hayes segala aku yang atur? Dunia makin ke sini makin ke sana aja. Aku sendiri jomblo sejak lahir, malah d
Bianca benar-benar tidak jauh-jauh dari Liam. Dia memilih duduk di kafetaria kantor yang berada satu lantai dengan aula pertemuan. Bianca bekerja dari kafetaria sambil ditemani dua potong roti dan secangkir kopi. Entah mengapa, kalimat Liam sebelumnya masih mengusik pikirannya. Cara lelaki itu mengucapkannya terdengar seperti sebuah permohonan, jarang sekali Bianca dengar. Biasanya yang keluar dari mulut atasannya itu selalu berupa perintah. Sore harinya, Liam baru saja keluar dari aula setelah mendampingi sejumlah petinggi menuju lobi. Saat mengantar kepergian mereka, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada Bianca yang duduk di kafetaria. Pada saat bersamaan, ponselnya berdenting. Sebuah pesan masuk dari dokter pribadinya. [Saya kirim obat dan vitaminnya malam ini.] Liam membaca pesan itu sekilas lalu kembali mengangkat pandangannya. Matanya kembali tertuju pada Bianca. Sementara Bianca di ujung sana mendongak. Begitu pandangan mereka bertemu, Bianca refleks tersenyum. Untuk beber
Bukan hal aneh bagi Bianca jika atasannya menyuruhnya datang ke kediamannya pada pagi hari. Tuan Besar Hayes juga begitu, terkadang melakukan hal yang sama. Namun yang benar-benar tidak habis pikir itu alasan kedatangannya yaitu untuk memilih pakaian untuk sang atasan. Bianca menelan ludahnya saat melihat deretan kemeja dan jas milik Liam. Lalu, ia menoleh ke arah rak lain yang dipenuhi dasi, tali pinggang dan jam tangan. “Kerja, Bianca, kerja…,” gumamnya menyemangati dirinya sendiri. Bianca mulai membuka lemari dan memilih pakaian yang tepat untuk atasannya hari ini. Hari ini ada konsolidasi partai yang harus dihadiri Liam atas arahan sang ayah. Sementara Bianca sibuk memilih penuh hati-hati karena tahu semua barang milik Liam mahal, pria itu masih berada di kamar mandi. “Sudah selesai.” Bianca tersenyum puas melihat pilihannya. Ia harus segera keluar sebelum Liam selesai mandi. Namun baru saja berbalik, tubuhnya membentur dada bidang Liam yang polos. Bianca membeku. Ia mendo
“Kamu sangat menikmati waktu istirahatmu, Bianca,” ujar Liam. Bola mata Bianca melirik ke kiri dan kanan. Semua rekannya sudah kembali duduk di kursi masing-masing menyibukkan diri. Kan… kan … hal memalukan seperti ini lagi-lagi Liam yang melihatnya. “Tuan butuh bantuan saya?” tanya Bianca lirih. Pelan-pelan ia menelan ludahnya. “Buatkan tiga kopi. Antar ke ruangan Tuan Besar Hayes,” titah Liam. “Baik, Tuan. Tiga kopi,” ulang Bianca. Liam menatap Bianca. Sementara yang ditatap tersenyum kaku. “Akan segera saya buat.” Liam pun pergi meninggalkan area kubikel kerja itu. Begitu sosok itu menghilang di balik lorong, Bianca langsung menjatuhkan kepalanya di meja briefing yang beberapa menit lalu menjadi tempatnya bermain bersama rekan-rekannya. ‘Kaget banget… kayak tiba-tiba… aarrgghhh!’ Bianca gusar di dalam hati. Tak lama terdengar suara kursi kerja beroda mendekatinya. “Bianca, are okay?” Salah seorang rekannya meraih lengannya. Namun, Bianca tetap menenggelamk
Percayalah saat bekerja dengan Tuan Besar Hayes, Bianca begitu cekatan, luwes, dan bisa diandalkan. Namun, entah kenapa… setiap kali bekerja dengan Liam, selalu saja ada salahnya dan celah memalukan yang membuatnya terlihat teledor. “Kita ketemu desainer interior, kan?” tanya Liam kepada Bianca sebelum masuk ke dalam mobil usai dari kunjungan kerja. “Benar, Tuan.” Liam mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Bianca menyusul, kemudian duduk di kursi depan bersama Nolan di sisi kemudi. Liam di belakang memperhatikan Bianca akhirnya membuka suara. “Tidak tanya saya mau makan siang di mana?” Bianca menoleh. Liam menyadari sesuatu terjadi pada Bianca karena wanita itu banyak diamnya sejak tadi. Biasanya, tanpa diminta pun wanita itu sibuk melaporkan ini dan itu. “Mau makan siang di mana, Tuan?” tanyanya akhirnya. “Kamu saja yang pilih tempatnya.” “Baik, Tuan.” Setelah itu, tidak ada lagi percakapan. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran yang tidak terlalu ja
“Tuan, Zoom meeting tadi... meeting apa? Tuan tidak punya jadwal meeting pagi ini—” “Seterusnya tugas kamu menyelipkan jadwal meeting seperti tadi, serta kunjungan ke proyek yang kita bahas kemarin,” potong Liam. Bianca langsung berdiri saat mendengar penjelasan Liam sambil merapikan dirinya. “Sebentar... berarti meeting tadi tidak ada orang kantor? Tidak ada Tuan Besar Hayes?” Liam mengangguk. Bianca langsung mengembuskan napas lega. “Bersiaplah. Nolan sudah siapkan pakaian untuk kamu. Ada di meja dekat pintu.” “Pakaian saya? Tidak perlu. Saya bisa pulang sebentar, lalu segera ke kantor—” Kalimat Bianca yang semula penuh semangat perlahan melemah. Matanya mengikuti arah pandang Liam. Lelaki itu mengangkat dagunya ke arah jam yang tergantung di dinding. Bianca menoleh, matanya langsung membulat. ‘Pukul delapan?’ teriaknya dalam hati. “Tuan... bagaimana ini?” Seketika saja wajahnya dipenuhi kepanikan. Sejak bekerja untuk Tuan Besar Hayes, Bianca tidak pernah terlamb







