Sorot mata Brian yang dulu hangat kini meredup, dipenuhi dengan dendam. Di matanya saat ini, anak perempuan yang menggemaskan itu adalah bukti nyata "pengkhianatan" Amara bersama Naren Mahardika, pria berpendidikan dan kaya raya yang mampu memberikan kebahagiaan yang tak bisa ia berikan enam tahun lalu.Brian menyaksikan SUV putih itu perlahan melaju meninggalkan area sekolah, membawa Amara, Aira, dan Naren jauh dari pandangannya."Kamu terlihat sangat bahagia, Amara ...," ujar Brian dingin. "Kamu meninggalkanku saat aku sekarat, lalu membangun keluarga harmonis di atas penderitaanku?"Brian melepaskan cengkeramannya dari kemudi, lalu bersandar di kursi dengan helaan napas berat. Ia menyapu air mata yang nyaris menetes di sudut matanya, menyembunyikan kelemahannya di balik topeng kebencian."Aku membiarkanmu enam tahun lalu ...," desis Brian. "Tapi sekarang kamu berada di bawah genggamanku. Jangan harap aku akan biarkan kamu menikmati kebahagiaan itu dengan tenang, Amara. Aku pas
Last Updated : 2026-08-23 Read more