แชร์

Bukan Wanita Penjual Cinta
Bukan Wanita Penjual Cinta
ผู้แต่ง: Agniya14

Bab 1. Kecelakaan

ผู้เขียน: Agniya14
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-27 21:53:40

"BRIAN!"

​Teriakan histeris terdengar di tepi jalan. Suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak disusul benturan keras, mengubah segalanya dalam sekejap mata.

​Tubuh Brian terlempar beberapa meter ke aspal setelah dihantam mobil berkecepatan tinggi yang langsung tancap gas melarikan diri.

Pria yang beberapa detik lalu tersenyum hangat ke arah Amara sambil membawa kantong plastik berisi makanan malam mereka, kini tergeletak tak berdaya. Tubuhnya bersimbah darah.

​"Brian! Brian, bangun! Jangan becanda, Brian!" Amara berlari kencang, melempar payung di genggamannya hingga terjatuh di kubangan air hujan.

​Tangan Amara gemetar hebat saat merengkuh kepala Brian. Bau amis darah langsung menyeruak, memenuhi indera penciumannya. Darah segar mengalir deras dari kepala Brian, membasahi pakaian Amara.

​"Tolong! Siapa saja tolong!" jerit Amara hysteris, menatap jalanan yang sepi. Tidak ada orang.

​Dengan jemari yang licin oleh darah, Amara merogoh ponsel murah dari saku celananya. Air matanya menetes deras, mengaburkan layar ponsel yang retak.

​"Halo! Ambulans! Tolong, suami saya ditabrak mobil di Jalan Flamboyan! Tolong, pendarahannya banyak sekali! Cepat, Mbak, tolong!" Suara Amara tercekat oleh tangisan yang tak terbendung.

​Suara roda brankar yang didorong cepat bergema di koridor Rumah Sakit Medika. Amara berlari pincang di samping tubuh Brian yang sudah dipasangi masker oksigen dan berbagai peralatan darurat.

​"Pak, Brian! Buka matamu, Brian! Aku di sini!" tangis Amara terus menggenggam jemari Brian yang kian dingin.

​"Maaf, Mbak. Anda harus tunggu di luar. Kami harus segera menangani pasien!" tegas seorang perawat menahan tubuh Amara di depan pintu ruang penanganan kritis.

​Pintu tertutup rapat. Amara luruh di lantai, menatap telapak tangannya yang dipenuhi darah kering suaminya. Tubuhnya bergetar hebat. Setiap detik terasa bagai siksaan yang membakar jiwanya.

​Satu jam berlalu. Pintu ruangan akhirnya terbuka. Seorang dokter pria berwajah tegang keluar sambil melepas sarung tangannya.

​Amara langsung bangkit berdiri, hampir tersandung kakinya sendiri. "Dokter! Bagaimana suami saya? Brian baik-baik saja, kan, Dok?"

​Dokter menatap Amara dengan raut wajah berat. "Apakah Anda keluarga dari Pasien Brian?"

​"Saya istrinya, Dok."

​"Ibu Amara, kondisi Pak Brian sangat kritis. Benturan keras di kepalanya menyebabkan pendarahan otak yang cukup parah. Tekanan di dalam tempurung kepalanya terus meningkat. Jika tidak segera dilakukan tindakan operasi pembedahan otak malam ini juga, nyawa suami Anda tidak akan tertolong."

​Bagaikan disambar petir di siang bolong, lutut Amara lemas. "O-operasi, Dok? Lakukan, Dok! Tolong selamatkan suami saya!"

​"Operasi ini tergolong bedah saraf rumit dan membutuhkan tim spesialis. Estimasi biaya awal yang harus diselesaikan untuk tindakan dan deposit adalah dua ratus juta rupiah. Kami butuh persetujuan dan pembayaran deposit sebelum operasi dimulai."

​"Dua ratus juta?" Amara memegang dadanya yang terasa sangat sesak. "Dok, kami tidak punya uang sebanyak itu ... tabungan kami tidak sampai sepuluh juta. Bisakah operasinya dilakukan dulu, Dok? Saya janji akan cari uangnya!"

​"Maaf sekali, Bu Amara. Ini regulasi rumah sakit swasta untuk tindakan khusus. Tanpa kejelasan biaya dan penanggung jawab, kami tidak bisa mengeluarkan alat dan obat-obatan medis tertentu. Tolong diusahakan secepatnya, waktu kita tidak banyak."

​Dokter itu menepuk bahu Amara prihatin sebelum kembali ke dalam. Amara menyandar di dinding, napasnya memburu. Dari mana dia bisa mendapat uang dua ratus juta dalam hitungan jam? Teman-teman Brian sesama pekerja serabutan jelas tidak memiliki uang sebesar itu.

​Saat keputusasaan berada di puncak, suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang tegas bergema di koridor. Seorang wanita paruh baya berpakaian sangat elegan dengan perhiasan berlian berjalan mendekat, didampingi dua orang pengawal berjas hitam.

​Ibu Diana. Ibu kandung Brian.

​Mata Amara berbinar melihat kehadiran wanita itu. Tanpa berpikir panjang, Amara berlari mendekat. Tanpa peduli pada harga dirinya, Amara langsung menjatuhkan tubuhnya, berlutut dan memeluk erat kaki Ibu Diana.

​"Ibu ... Ibu Diana! Tolong Brian, Bu! Brian kecelakaan parah!" tangis Amara pecah, terisak-isak di bawah kaki wanita yang selama ini membencinya.

​Ibu Diana menghentikan langkahnya. Ia menatap dingin ke arah Amara yang berlutut di tanah, lalu menarik kakinya sedikit karena jijik melihat pakaian Amara yang bernoda darah.

​"Lepaskan tanganmu dari sepatuku," ujar Diana dengan suara dingin bagai es. "Mana Brian?"

​"Brian di dalam, Bu ... Brian mengalami pendarahan otak. Dokter bilang harus segera dioperasi malam ini juga, kalau tidak ... Brian bisa meninggal, Bu!" Amara mendongak, matanya yang sembab menatap Diana penuh pemohonan. "Biayanya dua ratus juta, Bu. Amara nggak punya uang sebanyak itu. Tolong bantu Brian, Bu. Dia anak kandung Ibu."

​Diana tersenyum sinis. Ia bersedekap dada, menatap Amara dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan.

​"Anak kandung?" Diana tertawa hambar. "Baru sekarang kamu mengakui dia anakku? Dulu, saat aku melarangnya menikah denganmu, apa yang dia katakan? Dia bilang dia siap melepaskan kemewahan keluarganya demi kamu! Dia rela hidup sengsara, bekerja serabutan jadi kuli dan buruh, hanya demi menikahi gadis yatim piatu miskin seperti kamu!"

​"Amara mohon, Bu ... marahi Amara, caci maki Amara, tapi tolong selamatkan nyawa Brian dulu. Brian butuh Ibu sekarang." Amara menggenggam kedua tangan Diana, memohon histeris.

​Diana menepis tangan Amara dengan kasar. "Dia menderita seperti ini karena kamu, Amara! Kalau dia tidak bersamamu, dia tidak akan hidup sengsara! Dia melupakan statusnya sebagai ahli waris tunggal keluarga hanya karena terpesona oleh wanita miskin yang tidak punya masa depan seperti kamu!"

​"Saya tahu saya salah, Bu ... saya yang bodoh ... Tapi tolong, Bu, nyawa Brian dalam bahaya. Waktunya tidak banyak!" Amara kembali menundukkan kepalanya hingga dahi menyentuh lantai koridor yang dingin. "Amara rela melakukan apa saja, Bu ... asal Brian bisa selamat dan sehat lagi. Amara mohon ...."

​Koridor itu hening sejenak. Hanya terdengar suara terisak Amara yang pilu.

​Diana menatap wanita di bawah kakinya dengan mata menyipit. Sebuah ide melintas di benaknya. Ini adalah kesempatan emas untuk menarik kembali putra tunggalnya ke dalam genggamannya.

​"Kamu bilang ... kamu rela melakukan apa saja demi keselamatan Brian?" tanya Diana datar, suaranya menusuk.

​Amara mendongak cepat, menyapu air matanya. "Iya, Bu! Apa saja! Amara janji akan turuti semua kemauan Ibu, asal Ibu mau bayar biaya operasi Brian!"

​Diana tersenyum tipis. ​"Baik. Aku akan menanggung seluruh biaya operasi Brian sampai dia benar-benar sembuh. Aku bahkan akan membawanya ke rumah sakit terbaik di luar negeri jika diperlukan."

​Napas Amara tertahan. "Terima kasih, Bu ... Terima kasih banyak—"

​"Tapi ada syaratnya," potong Diana cepat, menghentikan kalimat Amara.

​Amara terpaku. "S-syarat apa, Bu?"

​Diana membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya pada Amara, membisikkan kata-kata yang memotong habis seluruh napas kehidupan Amara.

​"Tinggalkan Brian. Ceraikan dia, dan pergi jauh dari kehidupannya selamanya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 19. Ke Kantor Mama

    Sejak Jumat malam, suasana di dalam unit apartemen sederhana milik Amara terasa lebih hangat. Di dalam kamar, Aira duduk bersila di atas tempat tidur dengan kedua tangan mungilnya memeluk boneka kelinci kesayangannya.Amara baru saja selesai merapikan beberapa lembar draf kertas di mejanya sebelum melangkah mendekati ranjang sang putri. Ia menyisir rambut hitam Aira yang halus dengan jemarinya, menyunggingkan senyum lembut yang menenangkan."Sayang, besok hari Sabtu ... Mama harus masuk kantor sebentar, ya," bisik Amara halus.Mata bundar Aira berbinar seketika. "Lho? Hari Sabtu Ibu kerja lagi? Berarti Aira ditinggal di rumah?"Amara menggeleng pelan, lalu mencubit gemas pipi mungil putrinya. "Nggak, dong. Besok Aira ikut Mama ke kantor. Mau?""Beneran, Ma?!" pekik Aira kegirangan. Anak kecil itu mendadak melompat duduk tegak, melupakan rasa kantuknya. "Aira boleh ikut ke tempat kerja Mama yang banyak gambar perhiasan cantiknya itu?!""Boleh, Sayang," kekeh Amara melihat antusiasme bu

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 18. Dua Minggu

    Malam harinya, di dalam kamar, Aira sudah lelap terbuai mimpi. Amara baru saja menyeduh segelas teh hangat dan bersiap melanjutkan draf perhiasan pesanan Siska di meja kerjanya ketika layar ponselnya menyala, menampilkan nama Naren.Amara menggeser tombol hijau di layar lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya."Halo, Ren?" panggil Amara lembut, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi."Halo, Ra! Belum tidur, kan?" Suara Naren terdengar dari seberang telepon, selalu membawa kehangatan tersendiri di tengah kelelahan Amara."Belum. Ini baru mau lanjut corat-coret draf lagi. Kamu sendiri baru selesai kerja?""Iya, baru banget menutup laptop. Capek banget minggu ini, Ra." Naren terkekeh pelan. "Nah, makanya aku telepon kamu sekarang. Akhir pekan ini kan Sabtu-Minggu, aku mau ngajak kamu sama Aira jalan-jalan. Aira kemarin bilang ke aku kalau dia mau banget ke kebun binatang, terus makan es krim yang corak pelangi itu. Gimana kalau hari Sabtu besok kita berangkat pagi-pagi?"Amara meng

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 17. Calon Istri Direktur

    "Aku tidak menjebakmu, Brian! Aku cuma mempertahankan hakku!" jerit Siska, air mata emosinya mulai menetes. "Kamu pikir aku tidak tahu?! Sejak Amara kembali, kamu tidak pernah menatapku lagi! Kamu selalu memikirkan wanita itu! Aku ini calon istrimu, Brian! Tapi kamu malah memperlakukan aku seperti sampah cuma gara-gara wanita sialan itu!""Cukup, Siska!" potong Brian dingin, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah. "Jangan bawa-bawa nama orang lain untuk menutupi tingkah lakumu yang melampaui batas.""Kenapa? Kamu takut Amara sakit hati melihat kita mesra?!" cecar Siska penuh kecemburuan yang membakar. "Kamu takut dia makin membencimu?! Ingat, Brian! Dia itu mantan istri yang sudah membuangmu saat kamu sekarat dulu! Kenapa kamu masih membela dia di depanku?!"Kata-kata Siska menusuk saraf sensitif Brian, rasa muak Brian pada tingkah Siska jauh lebih mendominasi saat ini. Brian merapikan jasnya yang sedikit kusut, memutar tubuhnya dan menunjuk pintu keluar dengan tegas."Keluar

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 16. Memanggil Amara

    "Maksud Tante apa? Brian kenapa lagi, Tante? Jangan bikin Siska takut!"​Diana menarik napas panjang, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya walau suaranya tetap bergetar hebat. "Brian ... dia baru saja bilang kalau dia tidak mau menikah denganmu, Siska! Dia menolak pernikahan yang tinggal satu bulan lagi ini!"​​"A-apa, Tante?!" jerit Siska, suaranya meninggi. "Brian bilang apa?! Tidak mau menikah denganku?! Gimana bisa, Tante?! Semua undangan sudah siap dicetak! Gaun pernikahan Siska sudah hampir selesai! Kenapa tiba-tiba Brian bilang begitu?!"​"Tante juga kaget setengah mati, Siska!" adu Diana sambil berjalan bolak-balik di ruang keluarga. "Tante tadi cuma tanya persiapan pernikahan kalian yang tinggal satu bulan lagi. Tapi tiba-tiba dia mengamuk! Dia bilang dari dulu dia tidak pernah setuju dijodohkan denganmu! Dia bilang pernikahan ini cuma obsesi Tante saja!"​"Kurang ajar!" geram Siska. "Ini pasti gara-gara perempuan murahan itu, kan?! Ini pasti gara-gara Amara sialan itu kem

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 15. Tak Pernah Setuju

    "Mbak mau yang kayak gimana?" tanya Amara lurus, mencoba menggali keinginan spesifik Siska tanpa melibatkan perasaan pribadi.​Siska memutar bola matanya malas, menyunggingkan senyum sinis. "Ya sesuai dengan gambar referensi yang sudah aku kirimkan ke teleponmu semalam, Amara! Kenapa malah bikin yang bentuknya aneh begini? Kamu punya mata dan rasa seni tidak, sih?!"​Amara menahan napas sejenak, mengatupkan bibirnya rapat-rapt. "Referensi yang Mbak Siska kirim semalam adalah kombinasi gaya klasik Eropa dan modern. Draf yang saya buat ini sudah memadukan kedua unsur tersebut dengan memperhitungkan kenyamanan dan berat logamnya saat dikenakan—"​"Aku tidak butuh penjelasan teknismu yang membosankan itu!" potong Siska penuh keangkuhan, mengibaskan tangannya di udara. "Aku calon pengantinnya, dan aku katakan aku TIDAK SUKA! Aku mau kamu ulang dari awal! Bikin yang lebih megah, lebih mewah, dan bikin semua orang tahu kalau perhiasan ini harganya miliaran!"​"Baik, Mbak Siska. Saya akan bua

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 14. Minta Revisi

    Keesokan harinya, suasana di lantai departemen desain terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Sebuah pengumuman mendadak membuat seluruh staf sigap merapikan meja dan mengumpulkan draf kerja mereka. Direktur Utama, Brian, memutuskan untuk memimpin langsung rapat koordinasi persiapan pameran Royal Diamond.​Di dalam ruang rapat utama bernuansa modern itu, sepuluh orang desainer senior beserta kepala departemen sudah duduk rapi melingkari meja kaca panjang. Amara duduk di sudut tengah, berusaha tampil setenang mungkin walau lingkaran hitam tipis di bawah matanya menyiratkan betapa berat malam yang baru saja ia lalui.​Pintu ruang rapat terbuka. Brian melangkah masuk dengan setelan jas hitam elegan, memancarkan aura kepemimpinan yang dingin dan dominan. Di belakangnya, sekretaris pribadinya membawa sebuah map berkas tebal.​"Selamat pagi, semuanya," sapa Brian singkat, mengambil posisi berdiri di ujung meja rapat.​"Selamat pagi, Pak Brian," sahut seluruh peserta rapat serempak.​Pak Pa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status