Compartir

Bab 3. Aira

Autor: Agniya14
last update Fecha de publicación: 2026-07-27 21:54:54

​"CUKUP, BU! CUKUP!" teriak Brian dengan suara pecah. Dadanya naik turun menahan guncangan emosi yang luar biasa. "Amara tak mungkin sejahat itu ... aku mau ketemu Amara! Aku mau dengar langsung dari mulutnya!"

​"Kamu tidak percaya pada ibumu sendiri?!" tangis Diana pecah, akting yang sangat sempurna. "Ibu yang membiayai seluruh operasimu sampai Ibu harus merendahkan diri mencari bantuan demi menyelamatkan nyawamu, Brian! Sementara wanita itu ... dia bahkan tidak pernah menengokmu satu kali pun sejak kamu masuk ruangan ini! Dia sudah pergi membawa uang dari pria barunya!"

​Brian terkulai. Kepalanya bagaikan dihantam ribuan jarum. Hatinya yang hancur terbakar oleh rasa sakit yang mendalam.

​Satu bulan kemudian, setelah kondisinya pulih dan diperbolehkan rawat jalan, hal pertama yang dilakukan Brian adalah mendatangi kontrakan kecil tempat ia dan Amara dulu merajut mimpi.

​Dengan langkah terseok-seok menggunakan tongkat, Brian mengetuk pintu kayu yang lapuk itu keras-keras.

​"Amara! Amara, buka pintunya! Amara!" panggil Brian, suaranya parau.

​Namun, tidak ada jawaban. Pintu itu terkunci rapat dari luar. Papan gembok besar sudah bertengger di sana.

​Seorang ibu pemilik kontrakan yang melintas menegurnya. "Cari siapa, Mas? Mas Brian, ya?"

​"Ibu! Amara di mana, Bu? Amara ada di dalam?" tanya Brian panik, memegang lengan ibu kontrakan itu.

​Ibu kontrakan menggelengkan kepala. "Mbak Amara sudah pindah dari tiga minggu yang lalu, Mas. Waktu Mas masih di rumah sakit."

​"Pindah? Pindah ke mana, Bu?!"

​"Wah, ndak tahu saya, Mas. Mbak Amara cuma pamit, bayar sisa kontrakan, terus bawa koper bajunya pergi naik taksi. Katanya mau pergi jauh dan ndak bakal balik lagi ke sini."

​Bagai disengat listrik ribuan volt, Brian mundur beberapa langkah. Pikirannya melayang pada kata-kata ibunya di rumah sakit.

​Dia sudah pergi. Dia benar-benar meninggalkanku saat aku sekarat.

​Brian mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kertas akta cerai yang tersimpan di sakunya terasa membakar dadanya. Tangisnya yang menahan rasa sakit perlahan berubah menjadi kekecewaan yang teramat dalam, lalu mengkristal menjadi dendam yang dingin.

​Ia menatap pintu kontrakan yang kosong itu untuk terakhir kalinya.

​"Kamu benar-benar tega, Amara ...," bisik Brian dengan suara dingin tanpa emosi, mata yang dulu selalu memancarkan kehangatan kini berubah menjadi penuh kebencian. "Kamu pergi karena aku miskin ... kamu buang aku saat aku hampir mati."

​Brian membalikkan badannya, melangkah meninggalkan kenangan pahit itu tanpa pernah menoleh lagi.

​"Amara, aku pastikan kamu akan menyesal telah mencampakkanku!"

*

Enam tahun berlalu, Amara bukan lagi wanita ringkih yang menangis meratapi nasib di koridor rumah sakit.

Melalui perjuangan berdarah-darah, merintis usaha desainer perhiasan secara online dari kamar kontrakan sempit, bakat alaminya akhirnya membawanya kembali ke kota.

​Ia berhasil diterima sebagai desainer perhiasan senior di Hartono Jewelry, anak perusahaan raksasa Hartono Group. Sebuah pencapaian besar, meski hati Amara sempat cemas mengingat nama besar keluarga mantan suaminya. Namun, demi masa depan putri kecilnya, Amara membuang semua ketakutan itu.

​Pagi itu, di apartemen sederhana yang disewa Amara. Suara gelak tawa kecil memenuhi ruang makan.

​"Mama! Lihat, Aira bisa habiskan sayurnya!" seru seorang anak perempuan berusia lima tahun dengan mata bulat berbinar dan garis wajah yang sangat mirip dengan seseorang di masa lalu.

​Amara tersenyum manis, membelai rambut halus putrinya, Aira. "Pintar anak Mama. Kalau makanannya habis, nanti di sekolah energinya penuh buat bermain dan belajar."

​Amara lalu meraih kotak bekal berwarna merah muda, memasukkannya ke dalam tas kecil berbentuk kelinci milik Aira.

Hari ini adalah hari pertama Aira masuk di sekolah plus daycare terpadu yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Amara sengaja memilih lokasi apartemen strategis cukup jalan kaki sepuluh menit ke sekolah Aira, dan lima belas menit berjalan kaki menuju gedung kantor Hartono Jewelry.

​Amara berlutut di hadapan Aira, merapikan kerah baju putrinya dengan penuh kasih sayang.

​"Baik-baik di sekolah ya, Nak. Nanti di sana Aira punya banyak teman baru. Selesai kelas, Aira bisa main di daycare sampai Mama datang," tutur Amara lembut. "Tunggu Mama jemput setelah pulang dari kantor, ya?"

​Aira mengangguk mantap, lalu memeluk leher mamanya erat-erat. "Iya, Ma! Tapi Mama jangan lama-lama ya kerjanya ... Aira nanti kangen."

​Amara tertawa kecil, mencium kedua pipi gembul Aira. "Iya, Sayang. Mama janji begitu jam kantor selesai, Mama langsung lari ke sini buat jemput Aira."

​Setelah mengantar Aira dan memastikan putri kecilnya ditangani dengan baik oleh para guru di daycare, Amara melangkah menuju gedung pencakar langit Hartono Jewelry.

Langkah kakinya mantap, dibalut blazer krem yang rapi dan elegan. Amara bertekad menata hidup baru yang lebih tenang dan fokus pada karier demi Aira.

​Lantai lima gedung Hartono Jewelry dipenuhi kesibukan. Amara berdiri di tengah ruangan, menyunggingkan senyum ramah saat Manajer Tim Desain mengenalkannya pada rekan-rekan baru.

​"Perhatian semuanya, ini Amara Anindita Prameati, desainer perhiasan baru yang karya online-nya sempat viral kemarin. Mulai hari ini Amara bergabung di tim kita," ujar sang Manajer disambut tepuk tangan hangat dari staf lain.

​"Selamat bergabung, Amara! Desain mutiara kamu yang kemarin cantik banget!" sapa salah satu desainer senior wanita.

​"Terima kasih banyak semuanya. Mohon bimbingan dan kerja samanya ya," balas Amara ramah, merasa lega karena suasana kantor tampak sangat menyambutnya.

​Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama. Seorang sekretaris tiba-tiba melangkah cepat ke departemen desain dengan raut wajah tegang. Matanya menyapu ruangan sebelum tertuju lurus pada Amara.

​"Permisi, apakah ini Bu Amara Anindita Pramesti?" tanya sekretaris itu dengan suara formal.

​Amara mengangguk. "Iya, saya sendiri."

​"Anda diminta segera menghadap Direktur Utama di lantai paling atas. Sekarang juga."

​Aura di ruangan langsung berubah tegang. Beberapa rekan kerja saling berbisik heran. Seorang desainer baru di hari pertama dipanggil langsung oleh pimpinan tertinggi adalah hal yang sangat tidak biasa.

​Dada Amara berdebar kencang tanpa alasan yang jelas. "Direktur Utama? Maaf, ada apa ya?"

​"Saya hanya menjalankan perintah, Bu Amara. Pak Direktur sudah menunggu Anda di ruangannya," jawab sekretaris itu dingin sambil memberi isyarat agar Amara mengikutinya.

Amara menelan ludah, merapikan blazernya yang tak kusut, lalu melangkah menuju lift eksekutif. Sepanjang perjalanan di dalam lift yang bergerak naik menuju lantai paling atas, jantung Amara berdegup kian kencang. Firasat buruk mendadak menyergap benaknya.

​Pintu lift terbuka di lantai paling atas yang sepi dan mewah. Lantai dipasangi karpet tebal dengan pintu kayu jati berukir di ujung koridor.

​"Silakan masuk, Bu Amara. Pak Direktur sudah di dalam," ujar sekretaris membukakan pintu untuknya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 19. Ke Kantor Mama

    Sejak Jumat malam, suasana di dalam unit apartemen sederhana milik Amara terasa lebih hangat. Di dalam kamar, Aira duduk bersila di atas tempat tidur dengan kedua tangan mungilnya memeluk boneka kelinci kesayangannya.Amara baru saja selesai merapikan beberapa lembar draf kertas di mejanya sebelum melangkah mendekati ranjang sang putri. Ia menyisir rambut hitam Aira yang halus dengan jemarinya, menyunggingkan senyum lembut yang menenangkan."Sayang, besok hari Sabtu ... Mama harus masuk kantor sebentar, ya," bisik Amara halus.Mata bundar Aira berbinar seketika. "Lho? Hari Sabtu Ibu kerja lagi? Berarti Aira ditinggal di rumah?"Amara menggeleng pelan, lalu mencubit gemas pipi mungil putrinya. "Nggak, dong. Besok Aira ikut Mama ke kantor. Mau?""Beneran, Ma?!" pekik Aira kegirangan. Anak kecil itu mendadak melompat duduk tegak, melupakan rasa kantuknya. "Aira boleh ikut ke tempat kerja Mama yang banyak gambar perhiasan cantiknya itu?!""Boleh, Sayang," kekeh Amara melihat antusiasme bu

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 18. Dua Minggu

    Malam harinya, di dalam kamar, Aira sudah lelap terbuai mimpi. Amara baru saja menyeduh segelas teh hangat dan bersiap melanjutkan draf perhiasan pesanan Siska di meja kerjanya ketika layar ponselnya menyala, menampilkan nama Naren.Amara menggeser tombol hijau di layar lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya."Halo, Ren?" panggil Amara lembut, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi."Halo, Ra! Belum tidur, kan?" Suara Naren terdengar dari seberang telepon, selalu membawa kehangatan tersendiri di tengah kelelahan Amara."Belum. Ini baru mau lanjut corat-coret draf lagi. Kamu sendiri baru selesai kerja?""Iya, baru banget menutup laptop. Capek banget minggu ini, Ra." Naren terkekeh pelan. "Nah, makanya aku telepon kamu sekarang. Akhir pekan ini kan Sabtu-Minggu, aku mau ngajak kamu sama Aira jalan-jalan. Aira kemarin bilang ke aku kalau dia mau banget ke kebun binatang, terus makan es krim yang corak pelangi itu. Gimana kalau hari Sabtu besok kita berangkat pagi-pagi?"Amara meng

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 17. Calon Istri Direktur

    "Aku tidak menjebakmu, Brian! Aku cuma mempertahankan hakku!" jerit Siska, air mata emosinya mulai menetes. "Kamu pikir aku tidak tahu?! Sejak Amara kembali, kamu tidak pernah menatapku lagi! Kamu selalu memikirkan wanita itu! Aku ini calon istrimu, Brian! Tapi kamu malah memperlakukan aku seperti sampah cuma gara-gara wanita sialan itu!""Cukup, Siska!" potong Brian dingin, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah. "Jangan bawa-bawa nama orang lain untuk menutupi tingkah lakumu yang melampaui batas.""Kenapa? Kamu takut Amara sakit hati melihat kita mesra?!" cecar Siska penuh kecemburuan yang membakar. "Kamu takut dia makin membencimu?! Ingat, Brian! Dia itu mantan istri yang sudah membuangmu saat kamu sekarat dulu! Kenapa kamu masih membela dia di depanku?!"Kata-kata Siska menusuk saraf sensitif Brian, rasa muak Brian pada tingkah Siska jauh lebih mendominasi saat ini. Brian merapikan jasnya yang sedikit kusut, memutar tubuhnya dan menunjuk pintu keluar dengan tegas."Keluar

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 16. Memanggil Amara

    "Maksud Tante apa? Brian kenapa lagi, Tante? Jangan bikin Siska takut!"​Diana menarik napas panjang, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya walau suaranya tetap bergetar hebat. "Brian ... dia baru saja bilang kalau dia tidak mau menikah denganmu, Siska! Dia menolak pernikahan yang tinggal satu bulan lagi ini!"​​"A-apa, Tante?!" jerit Siska, suaranya meninggi. "Brian bilang apa?! Tidak mau menikah denganku?! Gimana bisa, Tante?! Semua undangan sudah siap dicetak! Gaun pernikahan Siska sudah hampir selesai! Kenapa tiba-tiba Brian bilang begitu?!"​"Tante juga kaget setengah mati, Siska!" adu Diana sambil berjalan bolak-balik di ruang keluarga. "Tante tadi cuma tanya persiapan pernikahan kalian yang tinggal satu bulan lagi. Tapi tiba-tiba dia mengamuk! Dia bilang dari dulu dia tidak pernah setuju dijodohkan denganmu! Dia bilang pernikahan ini cuma obsesi Tante saja!"​"Kurang ajar!" geram Siska. "Ini pasti gara-gara perempuan murahan itu, kan?! Ini pasti gara-gara Amara sialan itu kem

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 15. Tak Pernah Setuju

    "Mbak mau yang kayak gimana?" tanya Amara lurus, mencoba menggali keinginan spesifik Siska tanpa melibatkan perasaan pribadi.​Siska memutar bola matanya malas, menyunggingkan senyum sinis. "Ya sesuai dengan gambar referensi yang sudah aku kirimkan ke teleponmu semalam, Amara! Kenapa malah bikin yang bentuknya aneh begini? Kamu punya mata dan rasa seni tidak, sih?!"​Amara menahan napas sejenak, mengatupkan bibirnya rapat-rapt. "Referensi yang Mbak Siska kirim semalam adalah kombinasi gaya klasik Eropa dan modern. Draf yang saya buat ini sudah memadukan kedua unsur tersebut dengan memperhitungkan kenyamanan dan berat logamnya saat dikenakan—"​"Aku tidak butuh penjelasan teknismu yang membosankan itu!" potong Siska penuh keangkuhan, mengibaskan tangannya di udara. "Aku calon pengantinnya, dan aku katakan aku TIDAK SUKA! Aku mau kamu ulang dari awal! Bikin yang lebih megah, lebih mewah, dan bikin semua orang tahu kalau perhiasan ini harganya miliaran!"​"Baik, Mbak Siska. Saya akan bua

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 14. Minta Revisi

    Keesokan harinya, suasana di lantai departemen desain terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Sebuah pengumuman mendadak membuat seluruh staf sigap merapikan meja dan mengumpulkan draf kerja mereka. Direktur Utama, Brian, memutuskan untuk memimpin langsung rapat koordinasi persiapan pameran Royal Diamond.​Di dalam ruang rapat utama bernuansa modern itu, sepuluh orang desainer senior beserta kepala departemen sudah duduk rapi melingkari meja kaca panjang. Amara duduk di sudut tengah, berusaha tampil setenang mungkin walau lingkaran hitam tipis di bawah matanya menyiratkan betapa berat malam yang baru saja ia lalui.​Pintu ruang rapat terbuka. Brian melangkah masuk dengan setelan jas hitam elegan, memancarkan aura kepemimpinan yang dingin dan dominan. Di belakangnya, sekretaris pribadinya membawa sebuah map berkas tebal.​"Selamat pagi, semuanya," sapa Brian singkat, mengambil posisi berdiri di ujung meja rapat.​"Selamat pagi, Pak Brian," sahut seluruh peserta rapat serempak.​Pak Pa

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status