Share

Keceplosan

Author: Aksara_Lizza
last update publish date: 2026-08-15 21:57:36

"Tidak ada... tidak ada apa-apa, Om," sahut Dhita cepat.

Lalu menggelengkan kepalanya dengan gerakan kaku, berusaha sekuat tenaga mengalihkan pandangan dari garis bibir Sean yang begitu dekat.

Namun, sebelum Dhita sempat mengambil satu langkah untuk mundur, bunyi halilintar menggelegar dahsyat di luar rumah.

Suara dentuman yang membelah malam itu begitu kencang hingga membuat kaca-kaca jendela dapur bergetar hebat.

DUARRR!

Dhita terperanjat hebat. Refleks ketakutan mengambil alih seluruh kendali tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, Dhita memekik kecil dan langsung melompat mendekap tubuh Sean.

Ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu, dan memejamkan matanya rapat-rapat dengan kedua tangan mencengkeram erat bagian belakang baju kaos Sean.

Sean membeku seketika di tempatnya.

Napas pria itu tertahan di tenggorokan. Telapak tangannya menggantung di udara selama beberapa detik sebelum perlahan menelan salivanya keras-keras.

Sean menunduk, menatap puncak kepala Dhita yang bersandar pasrah di dadanya.

Tubuh wanita muda itu bergetar pelan di dalam pelukannya, menghantarkan kehangatan dan keharuman rambut yang seketika meracuni indra penciuman Sean.

Di tengah gemuruh hujan di luar, Dhita yang masih diliputi panik dan kenyamanan tak sengaja bergumam pelan di balik dada Sean.

"Hangat sekali..."

Gumaman halus itu meluncur begitu saja tanpa disaring oleh pikiran rasionalnya.

Satu alis Sean terangkat tinggi. Tatapannya mendadak mengeras, dipenuhi intrik dan dorongan dominasi yang kelam. "Apakah suamimu tidak pernah sehangat ini, Dhita?"

Suara berat yang bergetar tepat di telinganya itu seketika menyengat kewaspadaan Dhita. Ia tersadar sepenuhnya atas apa yang baru saja ia lakukan dan katakan.

Dengan panik, Dhita melepaskan dekapan itu dan mendorong dada Sean secara spontan hingga tubuhnya menabrak tepi wastafel.

Dhita menelan ludahnya berkali-kali, matanya bergetar menatap Sean.

"Ma-maksudku... bukan begitu, Om! Aku... itu tadi hanya gurauan saja. Jangan dianggap serius!"

Sebuah kekehan rendah dan dingin lolos dari tenggorokan Sean. Pria itu tidak mundur.

Justru sebaliknya, Sean melangkah maju satu tahap, mengulurkan kedua tangannya ke sisi tubuh Dhita dan menumpukannya pada tepi wastafel. Ia mengurung Dhita sepenuhnya di dalam jangkauan tubuhnya yang tinggi besar.

Tatapan pekat Sean mengunci mata Dhita tanpa ampun, menyisakan jarak yang teramat tipis di antara wajah mereka.

"Apakah kau benar-benar bahagia dengan rumah tanggamu, Dhita?" tanya Sean dengan intonasi suara yang begitu rendah, dalam, dan mengintimidasi.

"Tampaknya kau terlihat sangat kesepian. Kau terlihat seperti wanita yang amat merindukan kehangatan dari seorang pria."

Dada Dhita berdesir hebat. Kata-kata itu menghantam tepat pada luka tersembunyinya.

Dhita merapatkan kedua tangannya di depan dada, memainkannya dengan jemari yang gemetar hebat karena rasa gugup yang memuncak.

"Itu... itu hanya asumsi Om Sean saja," jawab Dhita pelan, mencoba membela diri meski suaranya terdengar sangat rapuh. "Aku baik-baik saja. Randy hanya sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya."

Sean menatap raut wajah ragu itu dengan senyum tipis yang sarat akan dominasi.

"Aku seorang profesor, Dhita. Aku dilatih untuk membaca keraguan seseorang hanya dari gestur dan raut wajahnya. Kau tidak bisa berbohong padaku."

Sudut mata Dhita mulai terasa panas oleh gejolak emosi yang tertahan. Kebohongan yang selama ini ia susun rapi runtuh seketika di hadapan pria di depannya.

Keputusasaan, rasa diabaikan, dan gairah yang tak tersampaikan selama berbulan-bulan mendadak meluap keluar tanpa kendali.

"Kami sudah beberapa bulan ini tidak pernah bercinta," aku Dhita akhirnya. Suaranya bergetar, jujur dan tanpa topeng lagi.

Ia menunduk sebentar sebelum kembali menatap Sean dengan pandangan terluka.

"Randy selalu menolakku. Aku... aku kadang merasa sangat kesepian, Om. Aku bahkan mulai bertanyak-tanya pada diriku sendiri, apakah aku sudah tidak nikmat lagi untuk disentuh?"

Sean menaikkan alisnya mendengarnya. Kerutan tipis muncul di dahinya saat mendengar keputusasaan dari wanita muda di hadapannya.

"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Sean pelan.

"Karena Randy sama sekali tidak pernah menginginkanku lagi!" seru Dhita dengan nada getir yang tertahan.

Sean menatap bibir Dhita yang gemetar, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke dalam mata wanita itu.

"Aku rasa alasannya bukan karena kau tidak nikmat lagi untuk disentuh," ujar Sean dengan nada pasti yang terdengar begitu menghipnotis.

"Tetapi karena suamimu yang bodoh itu tidak bersyukur memiliki istri yang secantik dan seindah dirimu."

Deg.

Darah Dhita seketika berdesir panas mendengarnya.

Kalimat validasi dari pria sematang dan sekharismatik Sean meruntuhkan rasa percaya dirinya yang hancur. Jantungnya berdentam begitu keras di dalam dada, membakar seluruh kesadarannya.

Tanpa sadar, dipengaruhi oleh luapan gairah dan emosi yang meluap, Dhita terkekeh pelan dengan tatapan menantang.

"Om Sean bicara begitu seolah-olah Om sudah tahu rasanya. Padahal Om kan belum pernah mencobanya. Kenapa bisa berpikir seperti itu?"

Satu detik kemudian, mata Dhita membelalak lebar. Ia langsung menutup mulutnya erat-erat dengan kedua telapak tangan.

‘Sial! Aku keceplosan!’ batin Dhita menjerit panik.

Atmosfer di antara mereka seketika berubah menjadi sangat pekat dan berbahaya.

Tatapan Sean makin menggelap, dipenuhi gairah posesif yang tak lagi disembunyikan.

Sean mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas hangatnya menyapu pipi Dhita.

Bibirnya tersenyum miring, memancarkan dominasi mutlak yang membuat lutut Dhita mendadak lemas.

"Maksudmu?" bisik Sean dengan suara serak yang teramat rendah di depan bibir Dhita. "Kau ingin aku merasakan tubuhmu, hm?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Sudah Terikat Dengannya

    “Kau tidak sendirian lagi di rumah ini, Dhita… karena kita adalah orang yang sama.”Suara Sean masih menggantung di antara mereka ketika kilatan putih menyambar jendela perpustakaan.Dentuman petir menyusul, begitu keras hingga kaca bergetar.Dhita memekik tanpa suara dan tubuhnya langsung jatuh ke depan, menubruk dada Sean.Kedua lengannya melingkar di pinggang pria itu, jari-jari mencengkeram kain kemeja dengan kekuatan yang hampir putus asa.Sean tidak terkejut. Ia langsung mendekap punggung Dhita, satu tangan menahan tengkuknya, tangan lain mengusap tulang belikat dengan gerakan lambat dan stabil. Napasnya hangat di rambut Dhita.“Tidak apa-apa,” bisiknya rendah. “Aku di sini. Tidak ada yang akan terjadi padamu selama aku ada.”Dhita tidak menjawab. Wajahnya terbenam di dada Sean, mendengarkan detak jantung yang kuat dan teratur.Bau cologne dan whisky yang samar masih menempel di kulit pria itu. Untuk beberapa detik, hanya suara hujan yang menghantam atap dan napas mereka yang sa

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Memiliki Nasib yang Sama

    "Masuklah, Dhita. Jangan berdiri di pintu seperti orang asing," ucap Sean tenang, memecah keheningan yang menyiksa.Dhita berdiri gemetar di ambang pintu, wajahnya pucat pasi diterpa cahaya lilin yang meliuk-liuk.Hawa dingin malam dan guncangan petir di luar membuat tubuhnya terus menggigil.Mendengar panggilan itu, Dhita melangkah masuk secara perlahan, namun ia berhenti beberapa langkah dari meja kerja Sean.Ia merapatkan kedua tangannya di depan dada, memeluk tubuhnya sendiri sebagai perisai dari intimidasi keberadaan pria itu."Om..." suara Dhita bergetar hebat, bercampur dengan emosi panik, cemas, dan rasa bersalah yang telah menumpuk hingga ke puncaknya. "Tolong, aku mohon, hentikan semua permainan gila ini."Sean tidak menyela. Ia hanya memegang gelas whisky-nya, memperhatikan setiap jengkal perubahan raut wajah Dhita di balik kegelapan."Kita berdua sudah melangkah terlalu jauh, Om Sean!" seru Dhita dengan nada tertekan yang ditahan agar tak terdengar sampai keluar."Ibu akan

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Tak Tahan Lagi

    Sabtu sore tiba membawa badai hujan lebat yang mengguyur seisi kota tanpa henti.Di dalam rumah megah dua lantai itu, suasana terasa sunyi dan hampa bagaikan makam tak berpenghuni.Sarah masih tertahan di luar pulau untuk urusan ekspansi bisnis, sementara Randy masih berada di kota lain untuk urusan dinas luar kotanya.Bi Sumi sudah pulang sejak siang hari sebelum hujan deras turun, menyisakan Dhita dan Sean berdua saja di dalam bangunan luas tersebut.Dhita sengaja mengurung diri di dalam kamar tidurnya di lantai dua sejak pagi.Ia mencoba membentengi diri dengan menenggelamkan pikirannya ke dalam tumpukan buku tebal untuk persiapan ujian komprehensif.Namun, usaha penolakan itu terasa sia-sia. Deru angin kencang yang menghantam jendela kaca dan suara gemuruh air di talang atap terus-menerus memecah konsentrasinya.Setiap kali ia memejamkan mata untuk meredakan pusing, sentuhan kasar Sean di balik pintu ruang dosen dan bisikan intimidatif pria itu di dalam mobil terus berputar bagai

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Kepanikan Dhita

    "Jangan sampai ada yang melihatmu keluar dari ruangan ini dengan penampilan kacau seperti itu," bisik Sean datar sebelum akhirnya membukakan pintu untuk Dhita beberapa saat lalu.Kini, kabin mobil SUV hitam milik Sean melaju membelah jalanan kota yang mulai basah disiram gerimis sore.Di kursi penumpang, napas Dhita masih belum sepenuhnya teratur.Tangannya gemetar hebat saat ia berusaha mengancingkan kembali kemejanya yang kusut dan merapikan rok plisketnya yang berantakan seusai kegilaan di balik pintu ruang kerja dosen.Aroma parfum maskulin Sean bercampur hawa dingin dari AC mobil menguar pekat, seolah terus mengikat kesadaran Dhita pada dosa yang baru saja terjadi.Dhita menarik kaca rias di atas pelindung matahari untuk membenahi rambutnya yang kusut. Namun, gerakannya seketika terhenti kaku.Di pantulan cermin kecil itu, ia melihat jejak noda merah keunguan yang tercetak jelas di leher bagian bawahnya, tepat di atas tulang selangka.Tidak hanya itu, saat Dhita membetulkan lenga

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Permainan Gila Sean

    Dhita menahan napas saat suara ketukan keras menggetarkan pintu kayu di belakang punggungnya.“Profesor Sean? Apakah Anda ada di dalam? Berkas evaluasi semester sudah siap ditandatangani.”Suara sekretaris dekanat terdengar jelas, diikuti langkah kaki dan gumaman rekan dosen senior. Dhita membeku.Bola matanya membelalak. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Jantungnya berdetak kencang sampai terasa di telinga.Sean bergerak cepat tanpa suara. Tangannya memutar gerendel kunci.Klik.Pintu terkunci. Dalam satu gerakan, dia menekan tubuh Dhita ke kayu pintu, telapak tangan kirinya yang lebar membungkam mulut wanita itu rapat-rapat.Dhita bisa merasakan aroma cologne Sean yang samar bercampur keringat tipis. Tubuhnya gemetar.Dari luar, gagang pintu ditarik sekali ke bawah. Tertahan.“Mungkin sedang istirahat,” kata suara pria yang lebih tua. “Atau ke ruang rektor. Kita tunggu sebentar saja di bangku luar.”Langkah kaki menjauh sedikit, tapi tidak hilang. Suara obrolan rendah masih terden

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Perintah yang Tidak Bisa Ditolak

    "Bimbingan skripsimu belum selesai, Dhita," ucap suara dingin itu dari balik podium, menahan langkah Dhita yang hendak melarikan diri dari auditorium.Kuliah berakhir saat jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang.Ketika puluhan mahasiswa berhamburan keluar kelas sambil bersenda gurau, Sean merapikan berkas-berkasnya di meja dosen tanpa memandang Dhita secara langsung.Namun, sebelum Dhita sempat melangkah keluar membaur bersama teman-temannya, suara berat Sean kembali memanggil namanya.Pria itu memerintahkan Dhita membawa draf bab skripsinya ke ruang kerja pribadinya di sayap timur gedung rektorat dalam waktu sepuluh menit.Alasan yang dilontarkan sangat akademis: koreksi metodologi mendesak yang harus segera diperbaiki.Teman-teman sekelas Dhita menganggap hal itu sebagai keberuntungan, bahkan menepuk bahunya pelan untuk memberikan semangat.Dhita hanya bisa mengulas senyum tipis yang dipaksakan.Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada tali ranselnya, menyadari betul bahwa panggil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status