LOGIN"Tidak ada... tidak ada apa-apa, Om," sahut Dhita cepat.
Lalu menggelengkan kepalanya dengan gerakan kaku, berusaha sekuat tenaga mengalihkan pandangan dari garis bibir Sean yang begitu dekat.
Namun, sebelum Dhita sempat mengambil satu langkah untuk mundur, bunyi halilintar menggelegar dahsyat di luar rumah.
Suara dentuman yang membelah malam itu begitu kencang hingga membuat kaca-kaca jendela dapur bergetar hebat.
DUARRR!
Dhita terperanjat hebat. Refleks ketakutan mengambil alih seluruh kendali tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, Dhita memekik kecil dan langsung melompat mendekap tubuh Sean.
Ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu, dan memejamkan matanya rapat-rapat dengan kedua tangan mencengkeram erat bagian belakang baju kaos Sean.
Sean membeku seketika di tempatnya.
Napas pria itu tertahan di tenggorokan. Telapak tangannya menggantung di udara selama beberapa detik sebelum perlahan menelan salivanya keras-keras.
Sean menunduk, menatap puncak kepala Dhita yang bersandar pasrah di dadanya.
Tubuh wanita muda itu bergetar pelan di dalam pelukannya, menghantarkan kehangatan dan keharuman rambut yang seketika meracuni indra penciuman Sean.
Di tengah gemuruh hujan di luar, Dhita yang masih diliputi panik dan kenyamanan tak sengaja bergumam pelan di balik dada Sean.
"Hangat sekali..."
Gumaman halus itu meluncur begitu saja tanpa disaring oleh pikiran rasionalnya.
Satu alis Sean terangkat tinggi. Tatapannya mendadak mengeras, dipenuhi intrik dan dorongan dominasi yang kelam. "Apakah suamimu tidak pernah sehangat ini, Dhita?"
Suara berat yang bergetar tepat di telinganya itu seketika menyengat kewaspadaan Dhita. Ia tersadar sepenuhnya atas apa yang baru saja ia lakukan dan katakan.
Dengan panik, Dhita melepaskan dekapan itu dan mendorong dada Sean secara spontan hingga tubuhnya menabrak tepi wastafel.
Dhita menelan ludahnya berkali-kali, matanya bergetar menatap Sean.
"Ma-maksudku... bukan begitu, Om! Aku... itu tadi hanya gurauan saja. Jangan dianggap serius!"
Sebuah kekehan rendah dan dingin lolos dari tenggorokan Sean. Pria itu tidak mundur.
Justru sebaliknya, Sean melangkah maju satu tahap, mengulurkan kedua tangannya ke sisi tubuh Dhita dan menumpukannya pada tepi wastafel. Ia mengurung Dhita sepenuhnya di dalam jangkauan tubuhnya yang tinggi besar.
Tatapan pekat Sean mengunci mata Dhita tanpa ampun, menyisakan jarak yang teramat tipis di antara wajah mereka.
"Apakah kau benar-benar bahagia dengan rumah tanggamu, Dhita?" tanya Sean dengan intonasi suara yang begitu rendah, dalam, dan mengintimidasi.
"Tampaknya kau terlihat sangat kesepian. Kau terlihat seperti wanita yang amat merindukan kehangatan dari seorang pria."
Dada Dhita berdesir hebat. Kata-kata itu menghantam tepat pada luka tersembunyinya.
Dhita merapatkan kedua tangannya di depan dada, memainkannya dengan jemari yang gemetar hebat karena rasa gugup yang memuncak.
"Itu... itu hanya asumsi Om Sean saja," jawab Dhita pelan, mencoba membela diri meski suaranya terdengar sangat rapuh. "Aku baik-baik saja. Randy hanya sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya."
Sean menatap raut wajah ragu itu dengan senyum tipis yang sarat akan dominasi.
"Aku seorang profesor, Dhita. Aku dilatih untuk membaca keraguan seseorang hanya dari gestur dan raut wajahnya. Kau tidak bisa berbohong padaku."
Sudut mata Dhita mulai terasa panas oleh gejolak emosi yang tertahan. Kebohongan yang selama ini ia susun rapi runtuh seketika di hadapan pria di depannya.
Keputusasaan, rasa diabaikan, dan gairah yang tak tersampaikan selama berbulan-bulan mendadak meluap keluar tanpa kendali.
"Kami sudah beberapa bulan ini tidak pernah bercinta," aku Dhita akhirnya. Suaranya bergetar, jujur dan tanpa topeng lagi.
Ia menunduk sebentar sebelum kembali menatap Sean dengan pandangan terluka.
"Randy selalu menolakku. Aku... aku kadang merasa sangat kesepian, Om. Aku bahkan mulai bertanyak-tanya pada diriku sendiri, apakah aku sudah tidak nikmat lagi untuk disentuh?"
Sean menaikkan alisnya mendengarnya. Kerutan tipis muncul di dahinya saat mendengar keputusasaan dari wanita muda di hadapannya.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Sean pelan.
"Karena Randy sama sekali tidak pernah menginginkanku lagi!" seru Dhita dengan nada getir yang tertahan.
Sean menatap bibir Dhita yang gemetar, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke dalam mata wanita itu.
"Aku rasa alasannya bukan karena kau tidak nikmat lagi untuk disentuh," ujar Sean dengan nada pasti yang terdengar begitu menghipnotis.
"Tetapi karena suamimu yang bodoh itu tidak bersyukur memiliki istri yang secantik dan seindah dirimu."
Deg.
Darah Dhita seketika berdesir panas mendengarnya.
Kalimat validasi dari pria sematang dan sekharismatik Sean meruntuhkan rasa percaya dirinya yang hancur. Jantungnya berdentam begitu keras di dalam dada, membakar seluruh kesadarannya.
Tanpa sadar, dipengaruhi oleh luapan gairah dan emosi yang meluap, Dhita terkekeh pelan dengan tatapan menantang.
"Om Sean bicara begitu seolah-olah Om sudah tahu rasanya. Padahal Om kan belum pernah mencobanya. Kenapa bisa berpikir seperti itu?"
Satu detik kemudian, mata Dhita membelalak lebar. Ia langsung menutup mulutnya erat-erat dengan kedua telapak tangan.
‘Sial! Aku keceplosan!’ batin Dhita menjerit panik.
Atmosfer di antara mereka seketika berubah menjadi sangat pekat dan berbahaya.
Tatapan Sean makin menggelap, dipenuhi gairah posesif yang tak lagi disembunyikan.
Sean mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas hangatnya menyapu pipi Dhita.
Bibirnya tersenyum miring, memancarkan dominasi mutlak yang membuat lutut Dhita mendadak lemas.
"Maksudmu?" bisik Sean dengan suara serak yang teramat rendah di depan bibir Dhita. "Kau ingin aku merasakan tubuhmu, hm?"
Sean mendorong lebih dalam. Satu hentakan kuat membuat tubuh Dhita terdorong ke atas kasur.Jeritannya terpotong menjadi erangan panjang.Sean menarik keluar hampir sepenuhnya, lalu menghantam masuk lagi dengan ritme yang langsung liar.Setiap dorongan padat, dalam, menekan dinding basah yang menyempit di sekelilingnya.Dhita mencengkeram bahu Sean. Kuku-kukunya menancap di kulit pria itu. Matanya terbuka, menatap mata Sean yang sudah gelap oleh gairah.Sean membalas tatapan itu tanpa berhenti bergerak. Napas mereka saling bertubrukan.Sean menarik tubuh Dhita ke atas. Dalam satu gerakan dia duduk bersandar di kepala ranjang, lalu mendudukkan Dhita di pangkuannya.Kejantanannya masih tertanam dalam.Dhita mengerang saat posisi itu membuatnya merasakan lebih dalam.Tangannya langsung melingkar di leher Sean. Jari-jarinya menyentuh rambut di tengkuk pria itu.Sean menciumnya lagi. Lidahnya masuk kasar, melilit, menghisap.Tangan kanannya menekan pinggang Dhita, memandu gerakan naik-turu
Dhita baru saja menutup pintu kamar ketika Sean menarik pergelangan tangannya. Gerakan itu tegas, tanpa keraguan.Dia membawanya masuk lebih dalam, menjauh dari pintu, sampai punggung Dhita menempel ke dinding dingin.Sean menunduk. Bibirnya menempel ke bibir Dhita tanpa pendahuluan. Ciuman itu langsung dalam.Lidah Sean masuk, menjilat, melilit lidah Dhita dengan gerakan liar yang membuat napas wanita itu tersangkut.Dhita menutup mata.Tangannya naik ke dada Sean, mencengkeram kemeja pria itu.Sean memiringkan kepala, memperdalam ciuman. Lidahnya bergerak lebih agresif, menghisap, menggigit bibir bawah Dhita pelan, lalu kembali menyesap dalam.Tangan Sean melingkar di pinggang ramping Dhita.Jari-jarinya menekan, menarik tubuh wanita itu lebih dekat sampai dada mereka saling menempel.Dia melepaskan ciuman hanya sejengkal, napasnya panas di bibir Dhita.Matanya menatap mata Sean yang sudah membara. Pupilnya melebar. Napasnya masih tersengal dari ciuman barusan. Dia tidak menjawab. H
“Kau tidak sendirian lagi di rumah ini, Dhita… karena kita adalah orang yang sama.”Suara Sean masih menggantung di antara mereka ketika kilatan putih menyambar jendela perpustakaan.Dentuman petir menyusul, begitu keras hingga kaca bergetar.Dhita memekik tanpa suara dan tubuhnya langsung jatuh ke depan, menubruk dada Sean.Kedua lengannya melingkar di pinggang pria itu, jari-jari mencengkeram kain kemeja dengan kekuatan yang hampir putus asa.Sean tidak terkejut. Ia langsung mendekap punggung Dhita, satu tangan menahan tengkuknya, tangan lain mengusap tulang belikat dengan gerakan lambat dan stabil. Napasnya hangat di rambut Dhita.“Tidak apa-apa,” bisiknya rendah. “Aku di sini. Tidak ada yang akan terjadi padamu selama aku ada.”Dhita tidak menjawab. Wajahnya terbenam di dada Sean, mendengarkan detak jantung yang kuat dan teratur.Bau cologne dan whisky yang samar masih menempel di kulit pria itu. Untuk beberapa detik, hanya suara hujan yang menghantam atap dan napas mereka yang sa
"Masuklah, Dhita. Jangan berdiri di pintu seperti orang asing," ucap Sean tenang, memecah keheningan yang menyiksa.Dhita berdiri gemetar di ambang pintu, wajahnya pucat pasi diterpa cahaya lilin yang meliuk-liuk.Hawa dingin malam dan guncangan petir di luar membuat tubuhnya terus menggigil.Mendengar panggilan itu, Dhita melangkah masuk secara perlahan, namun ia berhenti beberapa langkah dari meja kerja Sean.Ia merapatkan kedua tangannya di depan dada, memeluk tubuhnya sendiri sebagai perisai dari intimidasi keberadaan pria itu."Om..." suara Dhita bergetar hebat, bercampur dengan emosi panik, cemas, dan rasa bersalah yang telah menumpuk hingga ke puncaknya. "Tolong, aku mohon, hentikan semua permainan gila ini."Sean tidak menyela. Ia hanya memegang gelas whisky-nya, memperhatikan setiap jengkal perubahan raut wajah Dhita di balik kegelapan."Kita berdua sudah melangkah terlalu jauh, Om Sean!" seru Dhita dengan nada tertekan yang ditahan agar tak terdengar sampai keluar."Ibu akan
Sabtu sore tiba membawa badai hujan lebat yang mengguyur seisi kota tanpa henti.Di dalam rumah megah dua lantai itu, suasana terasa sunyi dan hampa bagaikan makam tak berpenghuni.Sarah masih tertahan di luar pulau untuk urusan ekspansi bisnis, sementara Randy masih berada di kota lain untuk urusan dinas luar kotanya.Bi Sumi sudah pulang sejak siang hari sebelum hujan deras turun, menyisakan Dhita dan Sean berdua saja di dalam bangunan luas tersebut.Dhita sengaja mengurung diri di dalam kamar tidurnya di lantai dua sejak pagi.Ia mencoba membentengi diri dengan menenggelamkan pikirannya ke dalam tumpukan buku tebal untuk persiapan ujian komprehensif.Namun, usaha penolakan itu terasa sia-sia. Deru angin kencang yang menghantam jendela kaca dan suara gemuruh air di talang atap terus-menerus memecah konsentrasinya.Setiap kali ia memejamkan mata untuk meredakan pusing, sentuhan kasar Sean di balik pintu ruang dosen dan bisikan intimidatif pria itu di dalam mobil terus berputar bagai
"Jangan sampai ada yang melihatmu keluar dari ruangan ini dengan penampilan kacau seperti itu," bisik Sean datar sebelum akhirnya membukakan pintu untuk Dhita beberapa saat lalu.Kini, kabin mobil SUV hitam milik Sean melaju membelah jalanan kota yang mulai basah disiram gerimis sore.Di kursi penumpang, napas Dhita masih belum sepenuhnya teratur.Tangannya gemetar hebat saat ia berusaha mengancingkan kembali kemejanya yang kusut dan merapikan rok plisketnya yang berantakan seusai kegilaan di balik pintu ruang kerja dosen.Aroma parfum maskulin Sean bercampur hawa dingin dari AC mobil menguar pekat, seolah terus mengikat kesadaran Dhita pada dosa yang baru saja terjadi.Dhita menarik kaca rias di atas pelindung matahari untuk membenahi rambutnya yang kusut. Namun, gerakannya seketika terhenti kaku.Di pantulan cermin kecil itu, ia melihat jejak noda merah keunguan yang tercetak jelas di leher bagian bawahnya, tepat di atas tulang selangka.Tidak hanya itu, saat Dhita membetulkan lenga







