Tepat pukul dua belas malam, aku terbangun dari tidur. Aku dengan refleks hendak mendorong orang di sampingku pelan. “Tolong ambilkan aku segelas air.”Namun, yang kusentuh hanyalah ruang kosong.Ruang tamu gelap gulita, hanya terdengar suara detak jam di dalam rumah ini.Aku berdiri diam cukup lama. Saat itu bel pintu berbunyi, tidak ada siapa pun di luar. Hanya ada sebuah tas makanan termal yang diletakkan di depan pintu.Di atasnya tertempel secarik catatan dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.[Kamu pasti nggak makan lagi. Apa pun yang terjadi, jangan menyiksa tubuhmu sendiri.]Aku hanya melirik catatan itu dengan dingin, lalu berbalik dan menutup pintu.Aku menyalakan lampu dapur, merebus air dan memasak mie dengan tenang.Dulu, setiap kali aku pulang lembur, Aurel selalu bergegas masuk ke dapur dengan sandal rumahnya sambil terus mengomel, lalu merebus air dan memasakkan semangkuk mie kuah hangat.Kini, aku duduk di atas karpet. Rasanya aku benar-benar lelah. Mungkin tadi ak
Read more