Share

Bab 4

Author: Minjae
Sejak pertemuan yang berakhir dengan tidak menyenangkan di atap gedung itu, Aurel dan Adriel pun secara terbuka mengumumkan bahwa mereka sudah berpacaran.

Mereka membelikan kopi untuk seluruh staf di departemen. Perawat-perawat muda yang tidak mengetahui apa pun tersenyum sambil memanggilku, “Dokter Naura, cepat ke sini. Kami sudah menyisakan es kopi hitam untukmu.”

Adriel mengernyit dan tanpa sadar langsung berkata, “Lambungnya nggak kuat. Teh herbal hangat itu untuknya.”

Senyum Aurel langsung membeku. Ruangan itu pun seketika menjadi sunyi.

Aku tersenyum sambil mengangkat sedikit termosku. “Banyak-banyak minum air hangat.”

Hari itu, setelah selesai sif malam dan baru saja memarkir mobil, tiba-tiba kelopak mata kananku berkedut keras.

Beberapa hari terakhir aku selalu merasa ada yang tidak beres, seolah ada seseorang yang diam-diam mengawasiku.

Aku menarik napas dalam-dalam. Saat hendak melangkah pulang sesosok bayangan hitam tiba-tiba menghadangku.

Jantungku langsung berdegup kencang. Orang itu adalah mantan suami Aurel, Bagas.

Dia menggenggam sebuah tongkat bisbol sambil menatapku dengan garang.

“Naura, sudah lama kita nggak ketemu.”

Perasaanku langsung tidak enak. Aku spontan ingin pergi, tetapi dia menghalangiku.

“Dulu saat kamu bawa laki-laki itu ke rumahku dan memukuliku, bukankah kamu begitu berani? Kenapa sekarang malah ciut?”

“Oh, aku lupa. Pacarmu sudah direbut Aurel, kan?”

“Perempuan jalang itu sekarang sudah berhasil mendekati putra pemilik rumah sakit, jadi aku nggak bisa menyentuhnya lagi. Tapi kalau dendam ini nggak kulampiaskan, aku nggak akan puas. Dokter Naura, salahkan saja dirimu yang sial. Kamu rela membela Aurel sampai segitunya, tapi dia malah menusukmu dari belakang.”

Bagas berdecak pelan, genggamannya pada tongkat bisbol semakin kuat.

Aku menarik napas dalam-dalam, meraba ponsel di dalam saku, lalu menekan nomor kontak darurat tanpa melihat layar ponselku.

Tanganku sedikit gemetar, tetapi dari luar aku berusaha tetap terlihat tenang. Aku mencoba berbicara dengannya secara baik-baik

“Apa yang kamu mau? Uang? Atau apa? Kita bisa bicarakan nanti.”

Wajah Bagas berubah. Dia meludah kesal.

“Aku nggak mau apa pun. Aku cuma mau kamu membayar semua ini.”

Dia langsung mengayunkan tongkat bisbol itu ke arahku. Aku menjerit dan langsung berlari sekuat tenaga.

“Bagas, tenanglah! Melukai orang dengan sengaja itu ada risikonya.”

Bagas terus mengejarku dari belakang. “Istriku kabur dan aku jadi bahan tertawaan semua orang. Aku nggak peduli dengan apa pun risikonya. Aku sudah nggak peduli lagi!”

Dia menyudutkanku di sebuah gang buntu. Seluruh tubuhku gemetar.

“Tolong jangan lukai tanganku, ya? Besok aku harus melakukan operasi.”

“Pasienku seorang anak perempuan kecil. Dia sudah sakit sangat lama. Kalau operasinya berhasil, dia bisa tetap hidup.”

“Bagas, kumohon ....”

Belum selesai aku berbicara, tongkat bisbol itu sudah mengayun turun dan langsung menghantam lenganku dengan keras.

Aku mendengar jelas suara tulangku yang patah.

Sesaat sebelum kehilangan kesadaran, aku melihat ponselku yang terjatuh hingga hancur berkeping-keping. Terlihat bahwa panggilan kepada kontak darurat telah berhasil tersambung di layar ponselku.

Namun, dia tidak mengangkatnya.

...

Saat membuka mata lagi, yang pertama kulihat adalah dinding putih rumah sakit dan aroma disinfektan yang menyengat.

Aurel berlutut di ujung ranjangku dengan mata yang bengkak. “Maaf, Naura. Aku sungguh minta maaf.”

Kedua mata Adriel memerah. Dia menghantam dinding dengan keras, lalu berkata, “Aku nggak tahu ... dia ... soal panggilan telepon itu ....”

Aku hanya memejamkan mata sejenak. “Berikan hasil pemeriksaannya kepadaku.”

Adriel menyerahkannya dengan ragu.

Sebagai seorang dokter profesional, hanya dengan sekali lihat aku sudah tahu seberapa parah cedera pada tanganku.

Rasa sakit di tubuhku bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit di hatiku saat ini.

Seluruh tubuhku gemetar. Aku memandang rekan-rekan kerja yang datang menjenguk, serta Aurel dan Adriel yang tampak begitu tersiksa.

“Keluar ... kumohon.”

Mereka keluar dan pintu ruang rawat akhirnya tertutup. Setelah itu, barulah terdengar samar-samar tangisanku yang tertahan karena rasa sakit yang begitu hebat.

Setiap hari Adriel dan Aurel berjaga di depan ruang rawatku, tetapi aku sama sekali tidak bersedia menemui mereka.

Sampai akhirnya, dia berbicara kepadaku dari balik pintu dengan mata yang dipenuhi kepedihan.

“Naura, nggak apa-apa meski tanganmu terluka. Aku bisa bicara dengan ayahku agar kamu dipindahkan ke bagian administrasi. Atau, kalau kamu mau kembali mengajar di kampus, juga bisa. Apa pun yang kamu inginkan, akan kulakukan.”

Aku tidak menghiraukannya. Aku hanya menatap tanganku yang dibalut perban.

Kemudian, aku membalas sebuah surel yang datang dari Manteria dengan tangan yang gemetar.

[Aku sudah mempertimbangkannya dengan baik.]

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 9

    Ayah Kenzo pulih jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Setengah bulan kemudian, dia sudah dipindahkan dari ruang perawatan intensif ke bangsal rawat inap biasa.Setiap hari dia datang menjenguk ayahnya. Lama-kelamaan, kami pun menjadi semakin akrab.Dia tersenyum hangat dengan senyum yang begitu cerah.“Saya seorang pengacara. Kalau Dokter Naura ada masalah dengan sengketa medis apa pun, Anda bisa datang mencariku. Kalau bertemu keluarga pasien yang membuat keributan ....”Kenzo membuka kancing lengan jasnya. Otot-otot lengannya tampak kekar.“Kebetulan, saya juga lumayan bisa bela diri.”Seluruh ruang jaga perawat langsung dipenuhi tawa. Dokter Johan pun tidak bisa menahan diri untuk ikut menggoda, “Dokter Naura, Pak Kenzo ini memang boleh juga. Ayahnya yang dirawat, tapi datangnya malah lebih tepat waktu daripada para perawat.”Aku hanya tersenyum. Namun, samar-samar kurasakan ketenangan yang selama ini membeku di dalam hatiku seolah terusik oleh sebuah batu kecil.Hingga meninggal

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 8

    Operasi dijadwalkan dua minggu kemudian. Dalam rapat praoperasi, Adriel tetap mengajukan diri untuk bergabung dalam operasi ini.Dokter Johan menyadari ketegangan yang tersirat di antara kami. Dia berkata dengan ragu, “Adriel juga bisa dibilang sudah berprestasi sejak muda dan berpengalaman. Kalau dia bersedia menjadi asistenmu tentu sangat bagus, hanya saja kalian berdua ....”Aku tersenyum tipis kepadanya lalu mengangguk.“Nggak apa-apa, Dok. Begitu masuk ke ruang operasi, kami hanyalah dokter.”Tidak ada yang lebih memahami kemampuan Adriel selain diriku.Terlepas dari semua hal yang pernah terjadi, dia adalah dokter yang hebat. Selama bertahun-tahun ini, dia termasuk salah satu dari sebagian kecil orang yang benar-benar kukagumi.Pada hari operasi, saat lampu operasi menyala, aku menarik napas dalam-dalam.Di hadapanku hanya tersisa pembuluh darah yang mengalami kelainan itu. Bunyi bip monitor terdengar sangat jelas di ruang operasi yang sunyi.Adriel berdiri di seberangku, yang te

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 7

    Satu bulan kemudian, aku kembali bertemu dengan Adriel.Dia memiliki seorang pasien dengan kondisi yang kompleks. Karena belum juga dapat menentukan metode operasi yang tepat, dia datang ke rumah sakit kami untuk berdiskusi dengan Dokter Johan mengenai operasi yang akan mereka tangani bersama.Semua dokter dari departemen kardiologi berkumpul di kantor Dokter Johan. Kami melihat lembar rekam medis itu dan semuanya serentak terdiam.Setelah beberapa saat, Dokter Johan mengernyitkan dahi dan berkata, “Risiko operasi ini terlalu besar. Di negara kita ini nggak ada seorang pun yang berani mengatakan dirinya mampu melakukannya. Mungkin Profesor Lukas yang ada di Manteria bisa melakukannya.”Saat hendak pergi, Adriel menatapku dengan ekspresi yang rumit. Dia membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tetap pergi dalam diam.…Tiga hari kemudian, kami bersama-sama mengadakan konferensi jarak jauh dengan Profesor Lukas di ruang rapat.Adriel menjelaskan kondisi dasa

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 6

    Pekerjaan baruku berada di rumah sakit terbaik dan terbesar di kota ini. Ruang departemennya luas. Cahaya matahari di luar jendela juga begitu indah.Kepala Departemen Johan adalah kenalan lama pembimbingku. Pada hari pertama kami bertemu, dia langsung menepuk bahuku sambil tersenyum. “Pembimbingmu itu hampir setiap hari melakukan panggilan video denganku hanya untuk memujimu. Dia bilang kamu adalah mahasiswa paling gigih yang pernah dia bimbing. Selamat datang kembali, ya.”Aku tersenyum sambil menyematkan kartu identitas pada jas dokterku.Aku bercermin di ruang ganti. Terlihat lebih kurus dibanding tiga tahun lalu, tetapi sorot mata ini masih tetap jernih dan cerah.Latihan rehabilitasi di Manteria membuat tangan kananku pulih 90%. Meskipun menggenggam pisau bedah dalam waktu lama masih akan terasa pegal dan mati rasa, itu sudah cukup untuk menangani sebagian besar operasi.Pada hari ketiga setelah mulai bekerja, seseorang mengetuk pintu kantorku. Adriel berdiri di luar pintu dengan

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 5

    Tiga tahun kemudian, pesawat melintas dengan mulus di atas Samudra Raya.Aku menatap senja di luar jendela, lalu tanpa sadar menyentuh lengan kananku.Tulang yang patah tiga tahun lalu itu sudah pulih dengan cukup baik, hanya saja setiap kali cuaca mendung dan hujan, rasanya masih sedikit nyeri samar.Setelah kejadian yang membuat aku cedera saat itu, aku menerima undangan dari pembimbingku di Manteria dan bergabung dalam penelitian proyeknya.Sejak lama dia sudah berulang kali berusaha mengajakku untuk tinggal di Manteria. Namun saat itu, aku masih mengingat pasien-pasienku, masih memikirkan kekasih dan sahabatku, sehingga aku menolak tawaran itu dengan halus.Aku pulang ke rumah dengan membawa koper berat dan hati yang penuh kegembiraan, tetapi yang menyambutku justru pengkhianatan dari dua orang paling penting dalam hidupku.Selama tiga tahun di Manteria, aku hampir menjadikan diriku seperti mesin yang tidak pernah melakukan kesalahan.Siang hari aku melakukan penelitian bersama pem

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 4

    Sejak pertemuan yang berakhir dengan tidak menyenangkan di atap gedung itu, Aurel dan Adriel pun secara terbuka mengumumkan bahwa mereka sudah berpacaran.Mereka membelikan kopi untuk seluruh staf di departemen. Perawat-perawat muda yang tidak mengetahui apa pun tersenyum sambil memanggilku, “Dokter Naura, cepat ke sini. Kami sudah menyisakan es kopi hitam untukmu.”Adriel mengernyit dan tanpa sadar langsung berkata, “Lambungnya nggak kuat. Teh herbal hangat itu untuknya.”Senyum Aurel langsung membeku. Ruangan itu pun seketika menjadi sunyi.Aku tersenyum sambil mengangkat sedikit termosku. “Banyak-banyak minum air hangat.”…Hari itu, setelah selesai sif malam dan baru saja memarkir mobil, tiba-tiba kelopak mata kananku berkedut keras.Beberapa hari terakhir aku selalu merasa ada yang tidak beres, seolah ada seseorang yang diam-diam mengawasiku.Aku menarik napas dalam-dalam. Saat hendak melangkah pulang sesosok bayangan hitam tiba-tiba menghadangku.Jantungku langsung berdegup kenca

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status