Compartir

Bab 3

Autor: Minjae
Sore harinya, Aurel tampak melamun sepanjang waktu. Dia berkali-kali melirik ke arah ruang dokter.

Entah sebenarnya siapa yang sedang dilihatnya.

Saat aku melakukan kunjungan ke ruang rawat, pandanganku tertuju pada cairan infus yang terpasang pada pasien. Aku pun langsung mengernyit.

“Aurel.”

Dia langsung tersadar. “Dok .... Dokter Naura.”

Aku menutup pintu ruang rawat, suaraku benar-benar berubah menjadi dingin. “Ada apa dengan dosis obat pasien di ranjang nomor sebelas? Memangnya ini hari pertamamu bekerja? Kalau terjadi sesuatu, siapa yang mau bertanggung jawab?”

Wajah Aurel berubah panik. Setelah memeriksanya, wajahnya pun langsung memucat.

“Dokter Naura, ma, maaf.”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Jangan minta maaf kepadaku. Minta maaflah kepada pasien.”

Aku langsung berbalik menatap kepala perawat. “Mulai sekarang, Aurel jangan ditempatkan dalam sif yang sama denganku lagi. Terima kasih.”

Matanya seketika memerah. Dia menggigit bibirnya dengan kuat, berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.

Mendengar keributan itu, Adriel segera datang. Setelah melihat dosis obat tersebut, dia mengernyit lalu berkata, “Cuma kesalahan kecil, kamu nggak perlu semarah ini.”

Dia menepuk punggung Aurel dengan lembut untuk menenangkannya. Aku mendongak menatap wajah yang begitu kukenal itu dengan tenang, tetapi yang kurasakan hanya rasa bahwa semua ini sungguh tidak masuk akal.

“Adriel.”

“Seorang tenaga medis nggak boleh melakukan kecerobohan ataupun kesalahan sekecil apa pun. Di balik setiap kelalaian mungkin ada satu nyawa yang dipertaruhkan. Siapa yang pernah mengatakan kalimat itu?”

Ekspresi Adriel langsung berubah. Dia terdiam sejenak.

Adriel adalah putra sulung pemilik rumah sakit. Sejak kecil dia tumbuh dikelilingi perhatian dan sanjungan.

Saat masih kuliah, diam-diam dia selalu bersaing denganku, sedangkan aku tidak pernah mau mengalah.

Hingga suatu hari dia menjelaskan kepadaku sambil tersenyum, “Keluargaku mendidikku dengan sangat ketat. Jangan kira aku cuma anak orang kaya yang hidup bermalas-malasan. Naura, aku punya cita-cita dan ambisi yang sama sepertimu. Aku juga sampai sejauh ini dengan usahaku sendiri, selangkah demi selangkah. Jadi, jangan terus membenciku, ya?”

Saat itu aku benar-benar mengira kami adalah orang yang sejalan.

Cahaya dari lorong menyinari lembar catatan medis dan membuatnya tampak putih menyilaukan.

Tatapanku dipenuhi kekecewaan. Aku menggeleng pelan.

Saat Adriel masih ingin mengatakan sesuatu, Aurel sudah menutup mulutnya sambil menangis lalu berlari keluar.

Dia mengernyit dan menatapku dalam-dalam, lalu bergegas mengejarnya.

Gemerlap lampu kota terlihat membentang di kejauhan dari atap gedung. Aku berdiri diam di sana, membiarkan angin malam berembus menerpa wajahku.

Dari atap gedung di lantai paling atas terlihat gemerlap lampu kota pada malam hari. Aku berdiri diam di sana, membiarkan angin malam menerpa tubuhku.

Tiba-tiba pintu terbuka. Aurel masuk dengan mata yang sembap.

“Adriel bilang ... setiap kali kamu sedang sedih, kamu pasti datang ke sini.”

Aku tertegun. Dulu, setiap kali menghadapi pasien atau kondisi penyakit yang sulit, aku selalu suka datang ke sini untuk menenangkan diriku.

Padahal tempat ini dulunya adalah rahasia yang hanya dimiliki aku dan Adriel.

Kami selalu saling bertentangan di hadapan orang lain, tetapi di sudut atap yang sepi ini kami saling mencintai tanpa takut.

Aurel melangkah mendekat. “Nau, maaf. Aku tahu kata maaf saja nggak akan cukup. Tapi, aku benar-benar ... nggak bisa menahan perasaanku.”

Suaranya mulai tercekat menahan tangis. “Kamu begitu hebat. Kamu bisa mendapatkan apa pun, entah itu karier, kemampuan, atau rasa hormat dari semua orang. Tapi aku berbeda. Aku cuma orang biasa. Aku cuma mau ada seseorang yang menemaniku.”

Aku tanpa sadar mencibir. “Begitu banyak pria di dunia ini, kenapa harus Adriel?”

Wajahnya berubah. Setelah terdiam cukup lama, dia akhirnya berkata sambil mengatupkan gigi, “Naura, mau kamu membenciku ataupun menyalahkanku, aku nggak menyesal. Memang benar kamu sudah banyak membantuku, tapi aku juga nggak berutang apa pun padamu. Anggap saja kita impas.”

Aku nyaris menangis karena tertawa. Setelah Aurel pergi, Adriel berdiri diam sekitar selangkah dariku.

Dia menyalakan sebatang rokok. “Naura, selama bertahun-tahun bersamamu, kamu selalu menjadi orang yang paling tenang. Kamu nggak pernah bilang kalau kamu butuh aku, nggak pernah bilang rindu padaku, bahkan nggak pernah bilang kalau kamu takut. Semua sumber daya dan koneksiku nggak pernah kamu perlukan. Setiap kali kuberi hadiah, kamu selalu membalasnya dengan hadiah yang nilainya setara.”

“Aku pernah mengira sebenarnya kamu nggak terlalu peduli padaku.”

Saat menyebut Aurel, tatapannya langsung melembut. “Tapi dia berbeda. Di matanya hanya ada aku.”

Aku terdiam cukup lama. Pada akhirnya aku hanya tersenyum getir tanpa mengatakan apa pun.

Aurel adalah tipe orang yang menjadikan cinta sebagai pusat hidupnya. Cinta adalah seluruh dunianya, sehingga dia rela meninggalkan kampung halaman demi mengejar cintanya.

Aku berbeda dengannya. Cinta hanya merupakan sebagian dari hidupku, mungkin hanya menempati sepuluh persen hidupku.

Namun, seluruh perasaan yang berani kutunjukkan selama ini hanya untuk Adriel.

Sayangnya, dia tidak pernah memahaminya.

Aku pun berbalik pergi. Tepat saat itu, angin malam menerpa pintu atap gedung hingga perlahan tertutup.

Aku juga tidak akan pernah datang ke sini lagi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 9

    Ayah Kenzo pulih jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Setengah bulan kemudian, dia sudah dipindahkan dari ruang perawatan intensif ke bangsal rawat inap biasa.Setiap hari dia datang menjenguk ayahnya. Lama-kelamaan, kami pun menjadi semakin akrab.Dia tersenyum hangat dengan senyum yang begitu cerah.“Saya seorang pengacara. Kalau Dokter Naura ada masalah dengan sengketa medis apa pun, Anda bisa datang mencariku. Kalau bertemu keluarga pasien yang membuat keributan ....”Kenzo membuka kancing lengan jasnya. Otot-otot lengannya tampak kekar.“Kebetulan, saya juga lumayan bisa bela diri.”Seluruh ruang jaga perawat langsung dipenuhi tawa. Dokter Johan pun tidak bisa menahan diri untuk ikut menggoda, “Dokter Naura, Pak Kenzo ini memang boleh juga. Ayahnya yang dirawat, tapi datangnya malah lebih tepat waktu daripada para perawat.”Aku hanya tersenyum. Namun, samar-samar kurasakan ketenangan yang selama ini membeku di dalam hatiku seolah terusik oleh sebuah batu kecil.Hingga meninggal

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 8

    Operasi dijadwalkan dua minggu kemudian. Dalam rapat praoperasi, Adriel tetap mengajukan diri untuk bergabung dalam operasi ini.Dokter Johan menyadari ketegangan yang tersirat di antara kami. Dia berkata dengan ragu, “Adriel juga bisa dibilang sudah berprestasi sejak muda dan berpengalaman. Kalau dia bersedia menjadi asistenmu tentu sangat bagus, hanya saja kalian berdua ....”Aku tersenyum tipis kepadanya lalu mengangguk.“Nggak apa-apa, Dok. Begitu masuk ke ruang operasi, kami hanyalah dokter.”Tidak ada yang lebih memahami kemampuan Adriel selain diriku.Terlepas dari semua hal yang pernah terjadi, dia adalah dokter yang hebat. Selama bertahun-tahun ini, dia termasuk salah satu dari sebagian kecil orang yang benar-benar kukagumi.Pada hari operasi, saat lampu operasi menyala, aku menarik napas dalam-dalam.Di hadapanku hanya tersisa pembuluh darah yang mengalami kelainan itu. Bunyi bip monitor terdengar sangat jelas di ruang operasi yang sunyi.Adriel berdiri di seberangku, yang te

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 7

    Satu bulan kemudian, aku kembali bertemu dengan Adriel.Dia memiliki seorang pasien dengan kondisi yang kompleks. Karena belum juga dapat menentukan metode operasi yang tepat, dia datang ke rumah sakit kami untuk berdiskusi dengan Dokter Johan mengenai operasi yang akan mereka tangani bersama.Semua dokter dari departemen kardiologi berkumpul di kantor Dokter Johan. Kami melihat lembar rekam medis itu dan semuanya serentak terdiam.Setelah beberapa saat, Dokter Johan mengernyitkan dahi dan berkata, “Risiko operasi ini terlalu besar. Di negara kita ini nggak ada seorang pun yang berani mengatakan dirinya mampu melakukannya. Mungkin Profesor Lukas yang ada di Manteria bisa melakukannya.”Saat hendak pergi, Adriel menatapku dengan ekspresi yang rumit. Dia membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tetap pergi dalam diam.…Tiga hari kemudian, kami bersama-sama mengadakan konferensi jarak jauh dengan Profesor Lukas di ruang rapat.Adriel menjelaskan kondisi dasa

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 6

    Pekerjaan baruku berada di rumah sakit terbaik dan terbesar di kota ini. Ruang departemennya luas. Cahaya matahari di luar jendela juga begitu indah.Kepala Departemen Johan adalah kenalan lama pembimbingku. Pada hari pertama kami bertemu, dia langsung menepuk bahuku sambil tersenyum. “Pembimbingmu itu hampir setiap hari melakukan panggilan video denganku hanya untuk memujimu. Dia bilang kamu adalah mahasiswa paling gigih yang pernah dia bimbing. Selamat datang kembali, ya.”Aku tersenyum sambil menyematkan kartu identitas pada jas dokterku.Aku bercermin di ruang ganti. Terlihat lebih kurus dibanding tiga tahun lalu, tetapi sorot mata ini masih tetap jernih dan cerah.Latihan rehabilitasi di Manteria membuat tangan kananku pulih 90%. Meskipun menggenggam pisau bedah dalam waktu lama masih akan terasa pegal dan mati rasa, itu sudah cukup untuk menangani sebagian besar operasi.Pada hari ketiga setelah mulai bekerja, seseorang mengetuk pintu kantorku. Adriel berdiri di luar pintu dengan

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 5

    Tiga tahun kemudian, pesawat melintas dengan mulus di atas Samudra Raya.Aku menatap senja di luar jendela, lalu tanpa sadar menyentuh lengan kananku.Tulang yang patah tiga tahun lalu itu sudah pulih dengan cukup baik, hanya saja setiap kali cuaca mendung dan hujan, rasanya masih sedikit nyeri samar.Setelah kejadian yang membuat aku cedera saat itu, aku menerima undangan dari pembimbingku di Manteria dan bergabung dalam penelitian proyeknya.Sejak lama dia sudah berulang kali berusaha mengajakku untuk tinggal di Manteria. Namun saat itu, aku masih mengingat pasien-pasienku, masih memikirkan kekasih dan sahabatku, sehingga aku menolak tawaran itu dengan halus.Aku pulang ke rumah dengan membawa koper berat dan hati yang penuh kegembiraan, tetapi yang menyambutku justru pengkhianatan dari dua orang paling penting dalam hidupku.Selama tiga tahun di Manteria, aku hampir menjadikan diriku seperti mesin yang tidak pernah melakukan kesalahan.Siang hari aku melakukan penelitian bersama pem

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 4

    Sejak pertemuan yang berakhir dengan tidak menyenangkan di atap gedung itu, Aurel dan Adriel pun secara terbuka mengumumkan bahwa mereka sudah berpacaran.Mereka membelikan kopi untuk seluruh staf di departemen. Perawat-perawat muda yang tidak mengetahui apa pun tersenyum sambil memanggilku, “Dokter Naura, cepat ke sini. Kami sudah menyisakan es kopi hitam untukmu.”Adriel mengernyit dan tanpa sadar langsung berkata, “Lambungnya nggak kuat. Teh herbal hangat itu untuknya.”Senyum Aurel langsung membeku. Ruangan itu pun seketika menjadi sunyi.Aku tersenyum sambil mengangkat sedikit termosku. “Banyak-banyak minum air hangat.”…Hari itu, setelah selesai sif malam dan baru saja memarkir mobil, tiba-tiba kelopak mata kananku berkedut keras.Beberapa hari terakhir aku selalu merasa ada yang tidak beres, seolah ada seseorang yang diam-diam mengawasiku.Aku menarik napas dalam-dalam. Saat hendak melangkah pulang sesosok bayangan hitam tiba-tiba menghadangku.Jantungku langsung berdegup kenca

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status