تسجيل الدخولAyah Kenzo pulih jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Setengah bulan kemudian, dia sudah dipindahkan dari ruang perawatan intensif ke bangsal rawat inap biasa.Setiap hari dia datang menjenguk ayahnya. Lama-kelamaan, kami pun menjadi semakin akrab.Dia tersenyum hangat dengan senyum yang begitu cerah.“Saya seorang pengacara. Kalau Dokter Naura ada masalah dengan sengketa medis apa pun, Anda bisa datang mencariku. Kalau bertemu keluarga pasien yang membuat keributan ....”Kenzo membuka kancing lengan jasnya. Otot-otot lengannya tampak kekar.“Kebetulan, saya juga lumayan bisa bela diri.”Seluruh ruang jaga perawat langsung dipenuhi tawa. Dokter Johan pun tidak bisa menahan diri untuk ikut menggoda, “Dokter Naura, Pak Kenzo ini memang boleh juga. Ayahnya yang dirawat, tapi datangnya malah lebih tepat waktu daripada para perawat.”Aku hanya tersenyum. Namun, samar-samar kurasakan ketenangan yang selama ini membeku di dalam hatiku seolah terusik oleh sebuah batu kecil.Hingga meninggal
Operasi dijadwalkan dua minggu kemudian. Dalam rapat praoperasi, Adriel tetap mengajukan diri untuk bergabung dalam operasi ini.Dokter Johan menyadari ketegangan yang tersirat di antara kami. Dia berkata dengan ragu, “Adriel juga bisa dibilang sudah berprestasi sejak muda dan berpengalaman. Kalau dia bersedia menjadi asistenmu tentu sangat bagus, hanya saja kalian berdua ....”Aku tersenyum tipis kepadanya lalu mengangguk.“Nggak apa-apa, Dok. Begitu masuk ke ruang operasi, kami hanyalah dokter.”Tidak ada yang lebih memahami kemampuan Adriel selain diriku.Terlepas dari semua hal yang pernah terjadi, dia adalah dokter yang hebat. Selama bertahun-tahun ini, dia termasuk salah satu dari sebagian kecil orang yang benar-benar kukagumi.Pada hari operasi, saat lampu operasi menyala, aku menarik napas dalam-dalam.Di hadapanku hanya tersisa pembuluh darah yang mengalami kelainan itu. Bunyi bip monitor terdengar sangat jelas di ruang operasi yang sunyi.Adriel berdiri di seberangku, yang te
Satu bulan kemudian, aku kembali bertemu dengan Adriel.Dia memiliki seorang pasien dengan kondisi yang kompleks. Karena belum juga dapat menentukan metode operasi yang tepat, dia datang ke rumah sakit kami untuk berdiskusi dengan Dokter Johan mengenai operasi yang akan mereka tangani bersama.Semua dokter dari departemen kardiologi berkumpul di kantor Dokter Johan. Kami melihat lembar rekam medis itu dan semuanya serentak terdiam.Setelah beberapa saat, Dokter Johan mengernyitkan dahi dan berkata, “Risiko operasi ini terlalu besar. Di negara kita ini nggak ada seorang pun yang berani mengatakan dirinya mampu melakukannya. Mungkin Profesor Lukas yang ada di Manteria bisa melakukannya.”Saat hendak pergi, Adriel menatapku dengan ekspresi yang rumit. Dia membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tetap pergi dalam diam.…Tiga hari kemudian, kami bersama-sama mengadakan konferensi jarak jauh dengan Profesor Lukas di ruang rapat.Adriel menjelaskan kondisi dasa
Pekerjaan baruku berada di rumah sakit terbaik dan terbesar di kota ini. Ruang departemennya luas. Cahaya matahari di luar jendela juga begitu indah.Kepala Departemen Johan adalah kenalan lama pembimbingku. Pada hari pertama kami bertemu, dia langsung menepuk bahuku sambil tersenyum. “Pembimbingmu itu hampir setiap hari melakukan panggilan video denganku hanya untuk memujimu. Dia bilang kamu adalah mahasiswa paling gigih yang pernah dia bimbing. Selamat datang kembali, ya.”Aku tersenyum sambil menyematkan kartu identitas pada jas dokterku.Aku bercermin di ruang ganti. Terlihat lebih kurus dibanding tiga tahun lalu, tetapi sorot mata ini masih tetap jernih dan cerah.Latihan rehabilitasi di Manteria membuat tangan kananku pulih 90%. Meskipun menggenggam pisau bedah dalam waktu lama masih akan terasa pegal dan mati rasa, itu sudah cukup untuk menangani sebagian besar operasi.Pada hari ketiga setelah mulai bekerja, seseorang mengetuk pintu kantorku. Adriel berdiri di luar pintu dengan
Tiga tahun kemudian, pesawat melintas dengan mulus di atas Samudra Raya.Aku menatap senja di luar jendela, lalu tanpa sadar menyentuh lengan kananku.Tulang yang patah tiga tahun lalu itu sudah pulih dengan cukup baik, hanya saja setiap kali cuaca mendung dan hujan, rasanya masih sedikit nyeri samar.Setelah kejadian yang membuat aku cedera saat itu, aku menerima undangan dari pembimbingku di Manteria dan bergabung dalam penelitian proyeknya.Sejak lama dia sudah berulang kali berusaha mengajakku untuk tinggal di Manteria. Namun saat itu, aku masih mengingat pasien-pasienku, masih memikirkan kekasih dan sahabatku, sehingga aku menolak tawaran itu dengan halus.Aku pulang ke rumah dengan membawa koper berat dan hati yang penuh kegembiraan, tetapi yang menyambutku justru pengkhianatan dari dua orang paling penting dalam hidupku.Selama tiga tahun di Manteria, aku hampir menjadikan diriku seperti mesin yang tidak pernah melakukan kesalahan.Siang hari aku melakukan penelitian bersama pem
Sejak pertemuan yang berakhir dengan tidak menyenangkan di atap gedung itu, Aurel dan Adriel pun secara terbuka mengumumkan bahwa mereka sudah berpacaran.Mereka membelikan kopi untuk seluruh staf di departemen. Perawat-perawat muda yang tidak mengetahui apa pun tersenyum sambil memanggilku, “Dokter Naura, cepat ke sini. Kami sudah menyisakan es kopi hitam untukmu.”Adriel mengernyit dan tanpa sadar langsung berkata, “Lambungnya nggak kuat. Teh herbal hangat itu untuknya.”Senyum Aurel langsung membeku. Ruangan itu pun seketika menjadi sunyi.Aku tersenyum sambil mengangkat sedikit termosku. “Banyak-banyak minum air hangat.”…Hari itu, setelah selesai sif malam dan baru saja memarkir mobil, tiba-tiba kelopak mata kananku berkedut keras.Beberapa hari terakhir aku selalu merasa ada yang tidak beres, seolah ada seseorang yang diam-diam mengawasiku.Aku menarik napas dalam-dalam. Saat hendak melangkah pulang sesosok bayangan hitam tiba-tiba menghadangku.Jantungku langsung berdegup kenca







