مشاركة

Bab 2

مؤلف: Minjae
Tepat pukul dua belas malam, aku terbangun dari tidur. Aku dengan refleks hendak mendorong orang di sampingku pelan. “Tolong ambilkan aku segelas air.”

Namun, yang kusentuh hanyalah ruang kosong.

Ruang tamu gelap gulita, hanya terdengar suara detak jam di dalam rumah ini.

Aku berdiri diam cukup lama. Saat itu bel pintu berbunyi, tidak ada siapa pun di luar. Hanya ada sebuah tas makanan termal yang diletakkan di depan pintu.

Di atasnya tertempel secarik catatan dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.

[Kamu pasti nggak makan lagi. Apa pun yang terjadi, jangan menyiksa tubuhmu sendiri.]

Aku hanya melirik catatan itu dengan dingin, lalu berbalik dan menutup pintu.

Aku menyalakan lampu dapur, merebus air dan memasak mie dengan tenang.

Dulu, setiap kali aku pulang lembur, Aurel selalu bergegas masuk ke dapur dengan sandal rumahnya sambil terus mengomel, lalu merebus air dan memasakkan semangkuk mie kuah hangat.

Kini, aku duduk di atas karpet. Rasanya aku benar-benar lelah. Mungkin tadi aku memasukkan garam terlalu banyak saat memasak mie.

Kalau tidak, kenapa mie ini bisa terasa pahit sekaligus asin?

...

Keesokan harinya, setelah selesai bersiap-siap, aku bergegas kembali ke rumah sakit untuk bekerja.

Begitu pintu lift terbuka, aku tepat berpapasan dengan Adriel. Ia menepuk kepala Aurel tanpa sungkan dengan sedikit keras, tetapi penuh rasa sayang.

Senyum di wajah mereka seketika membeku.

Aku berjalan lurus tanpa melirik sedikit pun. Terdengar beberapa perawat muda bergosip dari belakang, bertanya-tanya apakah Aurel sudah berhasil mendapatkan Dokter Adriel.

Suara Aurel terdengar sangat canggung.

Sebaliknya, Adriel menatapku dengan raut wajah rumit. “Kamu baru pulang, kan? Pasti belum cukup istirahat. Bagaimana kalau aku saja yang menggantikan sif malam?”

Aku melewatinya dengan wajah datar. “Nggak perlu.”

Adriel lahir dari keluarga dokter terpandang. Sejak kecil ia sudah menjadi kebanggaan semua orang.

Sedangkan aku adalah satu-satunya orang dalam dua puluh tahun terakhir yang pernah merebut peringkat pertama di jurusan dari tangannya.

Pada pertengahan tahun itu, Adriel berdiri di bawah pohon rindang besar di sekolah sambil tersenyum lebar.

“Naura, ya? Kamu memang hebat, tapi aku juga nggak kalah hebat. Ujian berikutnya, aku akan merebut kemenangan itu kembali.”

Seperti itulah kami saling bersaing selama bertahun-tahun hingga setelah lulus kami sama-sama bekerja di rumah sakit milik Keluarga Bramasta.

Agar tidak menjadi bahan omongan orang, di rumah sakit kami selalu dikenal sebagai dua dokter yang saling bersaing.

Tidak seorang pun tahu bahwa Dokter Naura dan Dokter Adriel yang selalu saling bersaing itu sebenarnya adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun dan putus secara tiba-tiba tadi malam.

Terkecuali Aurel.

Dia adalah seorang perawat. Setelah dia pulang, aku menemani dan menghiburnya selama beberapa bulan.

Aku tidak tega melihatnya setiap hari hanya meratapi nasib di rumah. Setelah bertahun-tahun, untuk pertama kalinya aku meminta bantuan kepada Adriel agar dia bisa bekerja di rumah sakit.

Tak disangka, aku justru memberi mereka kesempatan untuk sering bertemu.

Saat jam makan siang, Aurel dan Adriel duduk bersama.

Saat aku lewat, dia memanggil namaku dengan suara pelan. Langkahku hanya terhenti sejenak, tetapi aku terus berjalan.

Aku melihat Aurel dari sudut mataku menundukkan kepala dengan lesu, sementara Adriel mengusap rambutnya pelan dan berusaha menghiburnya.

Sebelum pergi, Aurel diam-diam meletakkan sebutir permen susu Milita di sudut mejaku.

Aku mendongak dan meliriknya. Tangan yang memegang sumpit seketika membeku sesaat.

Masa kecilku dihabiskan di tengah pertengkaran kedua orang tuaku. Bisa makan sampai kenyang saja sudah merupakan sebuah kemewahan.

Dalam ingatanku, rasa manis yang begitu berharga itu berasal dari Aurel yang sambil tertawa memaksa membagi permen susu Milita miliknya kepadaku.

Belakangan aku menderita sakit maag dan gula darahku sering rendah. Oleh karena itu, di dalam tasnya selalu tersedia sebungkus permen seperti ini.

Bahkan, sebelum menikah dan tinggal jauh di kota lain, dia pernah berpesan dengan sungguh-sungguh kepada Adriel, “Dia cuma suka rasa original. Kamu harus ingat.”

Saat itu, tatapan Adriel kepadaku begitu lembut dan tulus. “Tenang saja. Aku akan menjaganya baik-baik.”

Namun sekarang, aku hanya bisa menatap dua sosok yang berjalan pergi berdampingan itu.

Aku tersenyum getir, mengangkat nampan makananku, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Permen susu Milita itu tetap tergeletak di sudut meja tanpa seorang pun memedulikannya.

Toh, aku hanya perlu berhenti makan permen. Seharusnya tidak sesulit itu.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 9

    Ayah Kenzo pulih jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Setengah bulan kemudian, dia sudah dipindahkan dari ruang perawatan intensif ke bangsal rawat inap biasa.Setiap hari dia datang menjenguk ayahnya. Lama-kelamaan, kami pun menjadi semakin akrab.Dia tersenyum hangat dengan senyum yang begitu cerah.“Saya seorang pengacara. Kalau Dokter Naura ada masalah dengan sengketa medis apa pun, Anda bisa datang mencariku. Kalau bertemu keluarga pasien yang membuat keributan ....”Kenzo membuka kancing lengan jasnya. Otot-otot lengannya tampak kekar.“Kebetulan, saya juga lumayan bisa bela diri.”Seluruh ruang jaga perawat langsung dipenuhi tawa. Dokter Johan pun tidak bisa menahan diri untuk ikut menggoda, “Dokter Naura, Pak Kenzo ini memang boleh juga. Ayahnya yang dirawat, tapi datangnya malah lebih tepat waktu daripada para perawat.”Aku hanya tersenyum. Namun, samar-samar kurasakan ketenangan yang selama ini membeku di dalam hatiku seolah terusik oleh sebuah batu kecil.Hingga meninggal

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 8

    Operasi dijadwalkan dua minggu kemudian. Dalam rapat praoperasi, Adriel tetap mengajukan diri untuk bergabung dalam operasi ini.Dokter Johan menyadari ketegangan yang tersirat di antara kami. Dia berkata dengan ragu, “Adriel juga bisa dibilang sudah berprestasi sejak muda dan berpengalaman. Kalau dia bersedia menjadi asistenmu tentu sangat bagus, hanya saja kalian berdua ....”Aku tersenyum tipis kepadanya lalu mengangguk.“Nggak apa-apa, Dok. Begitu masuk ke ruang operasi, kami hanyalah dokter.”Tidak ada yang lebih memahami kemampuan Adriel selain diriku.Terlepas dari semua hal yang pernah terjadi, dia adalah dokter yang hebat. Selama bertahun-tahun ini, dia termasuk salah satu dari sebagian kecil orang yang benar-benar kukagumi.Pada hari operasi, saat lampu operasi menyala, aku menarik napas dalam-dalam.Di hadapanku hanya tersisa pembuluh darah yang mengalami kelainan itu. Bunyi bip monitor terdengar sangat jelas di ruang operasi yang sunyi.Adriel berdiri di seberangku, yang te

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 7

    Satu bulan kemudian, aku kembali bertemu dengan Adriel.Dia memiliki seorang pasien dengan kondisi yang kompleks. Karena belum juga dapat menentukan metode operasi yang tepat, dia datang ke rumah sakit kami untuk berdiskusi dengan Dokter Johan mengenai operasi yang akan mereka tangani bersama.Semua dokter dari departemen kardiologi berkumpul di kantor Dokter Johan. Kami melihat lembar rekam medis itu dan semuanya serentak terdiam.Setelah beberapa saat, Dokter Johan mengernyitkan dahi dan berkata, “Risiko operasi ini terlalu besar. Di negara kita ini nggak ada seorang pun yang berani mengatakan dirinya mampu melakukannya. Mungkin Profesor Lukas yang ada di Manteria bisa melakukannya.”Saat hendak pergi, Adriel menatapku dengan ekspresi yang rumit. Dia membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tetap pergi dalam diam.…Tiga hari kemudian, kami bersama-sama mengadakan konferensi jarak jauh dengan Profesor Lukas di ruang rapat.Adriel menjelaskan kondisi dasa

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 6

    Pekerjaan baruku berada di rumah sakit terbaik dan terbesar di kota ini. Ruang departemennya luas. Cahaya matahari di luar jendela juga begitu indah.Kepala Departemen Johan adalah kenalan lama pembimbingku. Pada hari pertama kami bertemu, dia langsung menepuk bahuku sambil tersenyum. “Pembimbingmu itu hampir setiap hari melakukan panggilan video denganku hanya untuk memujimu. Dia bilang kamu adalah mahasiswa paling gigih yang pernah dia bimbing. Selamat datang kembali, ya.”Aku tersenyum sambil menyematkan kartu identitas pada jas dokterku.Aku bercermin di ruang ganti. Terlihat lebih kurus dibanding tiga tahun lalu, tetapi sorot mata ini masih tetap jernih dan cerah.Latihan rehabilitasi di Manteria membuat tangan kananku pulih 90%. Meskipun menggenggam pisau bedah dalam waktu lama masih akan terasa pegal dan mati rasa, itu sudah cukup untuk menangani sebagian besar operasi.Pada hari ketiga setelah mulai bekerja, seseorang mengetuk pintu kantorku. Adriel berdiri di luar pintu dengan

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 5

    Tiga tahun kemudian, pesawat melintas dengan mulus di atas Samudra Raya.Aku menatap senja di luar jendela, lalu tanpa sadar menyentuh lengan kananku.Tulang yang patah tiga tahun lalu itu sudah pulih dengan cukup baik, hanya saja setiap kali cuaca mendung dan hujan, rasanya masih sedikit nyeri samar.Setelah kejadian yang membuat aku cedera saat itu, aku menerima undangan dari pembimbingku di Manteria dan bergabung dalam penelitian proyeknya.Sejak lama dia sudah berulang kali berusaha mengajakku untuk tinggal di Manteria. Namun saat itu, aku masih mengingat pasien-pasienku, masih memikirkan kekasih dan sahabatku, sehingga aku menolak tawaran itu dengan halus.Aku pulang ke rumah dengan membawa koper berat dan hati yang penuh kegembiraan, tetapi yang menyambutku justru pengkhianatan dari dua orang paling penting dalam hidupku.Selama tiga tahun di Manteria, aku hampir menjadikan diriku seperti mesin yang tidak pernah melakukan kesalahan.Siang hari aku melakukan penelitian bersama pem

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 4

    Sejak pertemuan yang berakhir dengan tidak menyenangkan di atap gedung itu, Aurel dan Adriel pun secara terbuka mengumumkan bahwa mereka sudah berpacaran.Mereka membelikan kopi untuk seluruh staf di departemen. Perawat-perawat muda yang tidak mengetahui apa pun tersenyum sambil memanggilku, “Dokter Naura, cepat ke sini. Kami sudah menyisakan es kopi hitam untukmu.”Adriel mengernyit dan tanpa sadar langsung berkata, “Lambungnya nggak kuat. Teh herbal hangat itu untuknya.”Senyum Aurel langsung membeku. Ruangan itu pun seketika menjadi sunyi.Aku tersenyum sambil mengangkat sedikit termosku. “Banyak-banyak minum air hangat.”…Hari itu, setelah selesai sif malam dan baru saja memarkir mobil, tiba-tiba kelopak mata kananku berkedut keras.Beberapa hari terakhir aku selalu merasa ada yang tidak beres, seolah ada seseorang yang diam-diam mengawasiku.Aku menarik napas dalam-dalam. Saat hendak melangkah pulang sesosok bayangan hitam tiba-tiba menghadangku.Jantungku langsung berdegup kenca

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status