Share

Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku
Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku
Author: Minjae

Bab 1

Author: Minjae
Hawa disekitar seolah hening sesaat. Aku hanya bisa mendengar suara angin yang menderu di telinga.

Wajah Aurel pucat pasi. Matanya berkaca-kaca, seolah tangisannya bisa pecah kapan saja.

Aku berusaha menenangkan suaraku yang mulai sedikit bergetar. “Apa maksudnya ini?”

Setelah lama terdiam, Adriel tiba-tiba melangkah maju dan menggenggam tangan Aurel.

“Sebenarnya aku sudah lama mau membicarakan soal ini. Malam itu, kami sama-sama mabuk .... Naura, aku tahu, rasanya nggak adil kalau terus menyembunyikan ini darimu.”

Tatapanku tertuju pada kedua tangan mereka yang saling menggenggam erat. Seketika pandanganku berkunang-kunang.

Setelah enam jam penerbangan, koperku bahkan belum sempat kubongkar. Saat itu, tubuhku sempoyongan hingga hampir terjatuh.

Raut wajah Adriel langsung berubah. Ia dengan cepat berusaha menopangku, tetapi aku menahannya dengan mengangkat tanganku.

Mata Aurel memerah. Dia terlihat ragu mendekatiku dan hanya bisa memanggil namaku dengan lirih.

“Nau, jangan-jangan kamu lagi-lagi nggak makan karena nggak suka makanan di pesawat? Gula darah kamu turun lagi, ya?”

Dia membuka telapak tangannya dengan ragu-ragu. Ada sebutir permen susu Milita di tangannya.

Mataku terasa perih, sambil mengertakan gigi, aku berkata, “Diam! Aku nggak mau mempermalukan diriku di depan banyak orang.”

Tanpa menoleh lagi ke arah mereka, aku menarik koperku dan berjalan ke tengah keramaian.

Angin malam yang sejuk menghapus air mata di sudut mataku.

Di jam pulang kerja seperti ini, nyaris mustahil mendapatkan kendaraan. Saat tiba di rumah, Aurel sudah merapikan barang-barangnya. Dia berdiri di depan pintu dengan raut ingin bicara, tetapi akhirnya mengurungkannya.

Pandanganku tertuju pada sepasang sandal dengan model yang sama di depan pintu dan bantal sofa bergambar karakter kartun mereka berdua.

Begitu memejamkan mata, bayangan itu langsung terlintas di benakku.

Malam saat mereka mabuk ... mungkin mereka pernah saling bercumbu di sofa yang kini ada di hadapanku.

Perutku langsung melilit hingga rasanya ingin muntah.

Biskuit yang kubawa dari Manteria dan syal yang kubelikan untuk Adriel masih ada di dalam koper.

Aku teringat saat Aurel meneleponku lewat panggilan video. “Tenang saja. Berkat pacarmu Adriel, aku sudah berhasil diterima kerja. Justru kamu yang di Manteria harus ingat makan, ya. Jangan lupa beliin aku biskuit itu. Gambarnya sudah kukirim ke ponselmu.”

Aku membanting koper ke lantai, mengeluarkan biskuit dan syal itu, lalu melemparnya bersama bantal sofa ke tempat sampah.

Air mata Aurel pun langsung jatuh.

Adriel yang juga ada di sana mengernyit lalu melangkah maju.

“Ini salahku. Kalau kamu marah, lampiaskan saja padaku.”

Ia menoleh kepada Aurel dan berkata dengan nada lebih lembut, “Kamu tunggu aku di luar dulu."

Aurel pun pergi keluar sambil berkali-kali menoleh ke belakang dan menyeret kopernya.

Setelah pintu kembali tertutup, Adriel mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Ia terdiam sejenak lalu memasukkannya kembali.

“Bagaimanapun juga, aku yang sudah menyakitimu.”

“Naura, aku akan bicara dengan ayahku agar posisi wakil kepala departemen diberikan padamu.”

Aku menekan perutku yang terus melilit lalu terkekeh sinis.

“Ini apa? Ganti rugi atau belas kasihan? Aku nggak butuh.”

Wajah Adriel langsung berubah. “Kamu memang selalu begini. Seolah-olah nggak ada satu pun masalah di dunia yang nggak bisa kamu selesaikan sendiri. Naura, aku ini pacarmu. Kenapa kamu nggak bisa sesekali mengandalkanku seperti Aurel?”

Aku memotong ucapannya dengan wajah dingin, “Mantan pacar.”

“Lagi pula, dia membutuhkanmu karena dia nggak mampu mengandalkan dirinya sendiri. Sedangkan aku nggak. Apapun yang kuinginkan, aku bisa dapatkan sendiri.”

Adriel menatapku dengan tatapan mata rumit. “Jaga dirimu baik-baik.”

Setelah itu, ia menutup pintu perlahan.

Rumahku mendadak terasa lengang dan hanya menyisakan diriku seorang.

Saat itu juga aku benar-benar tak sanggup bertahan lagi. Aku ambruk di sofa, perutku sakit hingga tubuhku dipenuhi keringat dingin, bahkan sudut mataku ikut basah.

Sambil memegangi perutku, aku bergumam pelan, “Dasar maag sialan, aduh, sakit banget ....”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 9

    Ayah Kenzo pulih jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Setengah bulan kemudian, dia sudah dipindahkan dari ruang perawatan intensif ke bangsal rawat inap biasa.Setiap hari dia datang menjenguk ayahnya. Lama-kelamaan, kami pun menjadi semakin akrab.Dia tersenyum hangat dengan senyum yang begitu cerah.“Saya seorang pengacara. Kalau Dokter Naura ada masalah dengan sengketa medis apa pun, Anda bisa datang mencariku. Kalau bertemu keluarga pasien yang membuat keributan ....”Kenzo membuka kancing lengan jasnya. Otot-otot lengannya tampak kekar.“Kebetulan, saya juga lumayan bisa bela diri.”Seluruh ruang jaga perawat langsung dipenuhi tawa. Dokter Johan pun tidak bisa menahan diri untuk ikut menggoda, “Dokter Naura, Pak Kenzo ini memang boleh juga. Ayahnya yang dirawat, tapi datangnya malah lebih tepat waktu daripada para perawat.”Aku hanya tersenyum. Namun, samar-samar kurasakan ketenangan yang selama ini membeku di dalam hatiku seolah terusik oleh sebuah batu kecil.Hingga meninggal

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 8

    Operasi dijadwalkan dua minggu kemudian. Dalam rapat praoperasi, Adriel tetap mengajukan diri untuk bergabung dalam operasi ini.Dokter Johan menyadari ketegangan yang tersirat di antara kami. Dia berkata dengan ragu, “Adriel juga bisa dibilang sudah berprestasi sejak muda dan berpengalaman. Kalau dia bersedia menjadi asistenmu tentu sangat bagus, hanya saja kalian berdua ....”Aku tersenyum tipis kepadanya lalu mengangguk.“Nggak apa-apa, Dok. Begitu masuk ke ruang operasi, kami hanyalah dokter.”Tidak ada yang lebih memahami kemampuan Adriel selain diriku.Terlepas dari semua hal yang pernah terjadi, dia adalah dokter yang hebat. Selama bertahun-tahun ini, dia termasuk salah satu dari sebagian kecil orang yang benar-benar kukagumi.Pada hari operasi, saat lampu operasi menyala, aku menarik napas dalam-dalam.Di hadapanku hanya tersisa pembuluh darah yang mengalami kelainan itu. Bunyi bip monitor terdengar sangat jelas di ruang operasi yang sunyi.Adriel berdiri di seberangku, yang te

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 7

    Satu bulan kemudian, aku kembali bertemu dengan Adriel.Dia memiliki seorang pasien dengan kondisi yang kompleks. Karena belum juga dapat menentukan metode operasi yang tepat, dia datang ke rumah sakit kami untuk berdiskusi dengan Dokter Johan mengenai operasi yang akan mereka tangani bersama.Semua dokter dari departemen kardiologi berkumpul di kantor Dokter Johan. Kami melihat lembar rekam medis itu dan semuanya serentak terdiam.Setelah beberapa saat, Dokter Johan mengernyitkan dahi dan berkata, “Risiko operasi ini terlalu besar. Di negara kita ini nggak ada seorang pun yang berani mengatakan dirinya mampu melakukannya. Mungkin Profesor Lukas yang ada di Manteria bisa melakukannya.”Saat hendak pergi, Adriel menatapku dengan ekspresi yang rumit. Dia membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tetap pergi dalam diam.…Tiga hari kemudian, kami bersama-sama mengadakan konferensi jarak jauh dengan Profesor Lukas di ruang rapat.Adriel menjelaskan kondisi dasa

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 6

    Pekerjaan baruku berada di rumah sakit terbaik dan terbesar di kota ini. Ruang departemennya luas. Cahaya matahari di luar jendela juga begitu indah.Kepala Departemen Johan adalah kenalan lama pembimbingku. Pada hari pertama kami bertemu, dia langsung menepuk bahuku sambil tersenyum. “Pembimbingmu itu hampir setiap hari melakukan panggilan video denganku hanya untuk memujimu. Dia bilang kamu adalah mahasiswa paling gigih yang pernah dia bimbing. Selamat datang kembali, ya.”Aku tersenyum sambil menyematkan kartu identitas pada jas dokterku.Aku bercermin di ruang ganti. Terlihat lebih kurus dibanding tiga tahun lalu, tetapi sorot mata ini masih tetap jernih dan cerah.Latihan rehabilitasi di Manteria membuat tangan kananku pulih 90%. Meskipun menggenggam pisau bedah dalam waktu lama masih akan terasa pegal dan mati rasa, itu sudah cukup untuk menangani sebagian besar operasi.Pada hari ketiga setelah mulai bekerja, seseorang mengetuk pintu kantorku. Adriel berdiri di luar pintu dengan

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 5

    Tiga tahun kemudian, pesawat melintas dengan mulus di atas Samudra Raya.Aku menatap senja di luar jendela, lalu tanpa sadar menyentuh lengan kananku.Tulang yang patah tiga tahun lalu itu sudah pulih dengan cukup baik, hanya saja setiap kali cuaca mendung dan hujan, rasanya masih sedikit nyeri samar.Setelah kejadian yang membuat aku cedera saat itu, aku menerima undangan dari pembimbingku di Manteria dan bergabung dalam penelitian proyeknya.Sejak lama dia sudah berulang kali berusaha mengajakku untuk tinggal di Manteria. Namun saat itu, aku masih mengingat pasien-pasienku, masih memikirkan kekasih dan sahabatku, sehingga aku menolak tawaran itu dengan halus.Aku pulang ke rumah dengan membawa koper berat dan hati yang penuh kegembiraan, tetapi yang menyambutku justru pengkhianatan dari dua orang paling penting dalam hidupku.Selama tiga tahun di Manteria, aku hampir menjadikan diriku seperti mesin yang tidak pernah melakukan kesalahan.Siang hari aku melakukan penelitian bersama pem

  • Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku   Bab 4

    Sejak pertemuan yang berakhir dengan tidak menyenangkan di atap gedung itu, Aurel dan Adriel pun secara terbuka mengumumkan bahwa mereka sudah berpacaran.Mereka membelikan kopi untuk seluruh staf di departemen. Perawat-perawat muda yang tidak mengetahui apa pun tersenyum sambil memanggilku, “Dokter Naura, cepat ke sini. Kami sudah menyisakan es kopi hitam untukmu.”Adriel mengernyit dan tanpa sadar langsung berkata, “Lambungnya nggak kuat. Teh herbal hangat itu untuknya.”Senyum Aurel langsung membeku. Ruangan itu pun seketika menjadi sunyi.Aku tersenyum sambil mengangkat sedikit termosku. “Banyak-banyak minum air hangat.”…Hari itu, setelah selesai sif malam dan baru saja memarkir mobil, tiba-tiba kelopak mata kananku berkedut keras.Beberapa hari terakhir aku selalu merasa ada yang tidak beres, seolah ada seseorang yang diam-diam mengawasiku.Aku menarik napas dalam-dalam. Saat hendak melangkah pulang sesosok bayangan hitam tiba-tiba menghadangku.Jantungku langsung berdegup kenca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status