Short
Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku

Setelah Putus, Sahabatku Lebih Memilih Mantan Pacarku

By:  MinjaeCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah sahabatku yang menikah, tinggal jauh jauh dari kampung halaman dan menjadi korban kekerasan rumah tangga, aku dan pacarku langsung menempuh perjalanan sejauh 1.700 kilometer untuk menjemputnya. Kerja sama kami begitu kompak. Aku yang menghajar pelakunya, sementara pacarku berjaga di depan pintu. Sahabatku sempat terpaku sejenak, lalu akhirnya ikut menyerang. Saat perjalanan pulang, kami bertiga saling memandangi luka di wajah masing-masing sebelum akhirnya tertawa bersama. Namun, di tengah tawanya, air matanya tiba-tiba mengalir. “Kalian berdua jangan sampai berantem ya. Soalnya kalau nanti kalian putus, aku harus ikut siapa?” Adriel yang sedang menyetir mendelik dan berkata, “Kami baik-baik saja, nggak akan putus, oke? Mending urus dirimu sendiri dulu.” Sejak hari itu, sahabatku resmi tinggal bersamaku. Aku mengurus semua kebutuhannya dan terus menyemangatinya agar bisa memulai hidup yang baru. Setiap kali, Adriel menjentik dahiku dengan keras. “Naura, jangan-jangan kamu sudah lupa kalau aku ini pacarmu?” Hingga tiga bulan kemudian, sepulang dari perjalanan dinas, aku mendapati sebuah gantungan manik-manik merah muda di mobil Adriel. Saat kutanya siapa yang memberikannya, dia bersikeras tidak mau mengaku. Raut wajahku langsung berubah dingin dan berkata, “Kita putus,” lalu, aku menyuruh sahabatku untuk ikut denganku. Namun, aku melihat wajahnya yang pucat pasi justru melangkah ke arah Adriel.

View More

Chapter 1

Bab 1

Hawa disekitar seolah hening sesaat. Aku hanya bisa mendengar suara angin yang menderu di telinga.

Wajah Aurel pucat pasi. Matanya berkaca-kaca, seolah tangisannya bisa pecah kapan saja.

Aku berusaha menenangkan suaraku yang mulai sedikit bergetar. “Apa maksudnya ini?”

Setelah lama terdiam, Adriel tiba-tiba melangkah maju dan menggenggam tangan Aurel.

“Sebenarnya aku sudah lama mau membicarakan soal ini. Malam itu, kami sama-sama mabuk .... Naura, aku tahu, rasanya nggak adil kalau terus menyembunyikan ini darimu.”

Tatapanku tertuju pada kedua tangan mereka yang saling menggenggam erat. Seketika pandanganku berkunang-kunang.

Setelah enam jam penerbangan, koperku bahkan belum sempat kubongkar. Saat itu, tubuhku sempoyongan hingga hampir terjatuh.

Raut wajah Adriel langsung berubah. Ia dengan cepat berusaha menopangku, tetapi aku menahannya dengan mengangkat tanganku.

Mata Aurel memerah. Dia terlihat ragu mendekatiku dan hanya bisa memanggil namaku dengan lirih.

“Nau, jangan-jangan kamu lagi-lagi nggak makan karena nggak suka makanan di pesawat? Gula darah kamu turun lagi, ya?”

Dia membuka telapak tangannya dengan ragu-ragu. Ada sebutir permen susu Milita di tangannya.

Mataku terasa perih, sambil mengertakan gigi, aku berkata, “Diam! Aku nggak mau mempermalukan diriku di depan banyak orang.”

Tanpa menoleh lagi ke arah mereka, aku menarik koperku dan berjalan ke tengah keramaian.

Angin malam yang sejuk menghapus air mata di sudut mataku.

Di jam pulang kerja seperti ini, nyaris mustahil mendapatkan kendaraan. Saat tiba di rumah, Aurel sudah merapikan barang-barangnya. Dia berdiri di depan pintu dengan raut ingin bicara, tetapi akhirnya mengurungkannya.

Pandanganku tertuju pada sepasang sandal dengan model yang sama di depan pintu dan bantal sofa bergambar karakter kartun mereka berdua.

Begitu memejamkan mata, bayangan itu langsung terlintas di benakku.

Malam saat mereka mabuk ... mungkin mereka pernah saling bercumbu di sofa yang kini ada di hadapanku.

Perutku langsung melilit hingga rasanya ingin muntah.

Biskuit yang kubawa dari Manteria dan syal yang kubelikan untuk Adriel masih ada di dalam koper.

Aku teringat saat Aurel meneleponku lewat panggilan video. “Tenang saja. Berkat pacarmu Adriel, aku sudah berhasil diterima kerja. Justru kamu yang di Manteria harus ingat makan, ya. Jangan lupa beliin aku biskuit itu. Gambarnya sudah kukirim ke ponselmu.”

Aku membanting koper ke lantai, mengeluarkan biskuit dan syal itu, lalu melemparnya bersama bantal sofa ke tempat sampah.

Air mata Aurel pun langsung jatuh.

Adriel yang juga ada di sana mengernyit lalu melangkah maju.

“Ini salahku. Kalau kamu marah, lampiaskan saja padaku.”

Ia menoleh kepada Aurel dan berkata dengan nada lebih lembut, “Kamu tunggu aku di luar dulu."

Aurel pun pergi keluar sambil berkali-kali menoleh ke belakang dan menyeret kopernya.

Setelah pintu kembali tertutup, Adriel mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Ia terdiam sejenak lalu memasukkannya kembali.

“Bagaimanapun juga, aku yang sudah menyakitimu.”

“Naura, aku akan bicara dengan ayahku agar posisi wakil kepala departemen diberikan padamu.”

Aku menekan perutku yang terus melilit lalu terkekeh sinis.

“Ini apa? Ganti rugi atau belas kasihan? Aku nggak butuh.”

Wajah Adriel langsung berubah. “Kamu memang selalu begini. Seolah-olah nggak ada satu pun masalah di dunia yang nggak bisa kamu selesaikan sendiri. Naura, aku ini pacarmu. Kenapa kamu nggak bisa sesekali mengandalkanku seperti Aurel?”

Aku memotong ucapannya dengan wajah dingin, “Mantan pacar.”

“Lagi pula, dia membutuhkanmu karena dia nggak mampu mengandalkan dirinya sendiri. Sedangkan aku nggak. Apapun yang kuinginkan, aku bisa dapatkan sendiri.”

Adriel menatapku dengan tatapan mata rumit. “Jaga dirimu baik-baik.”

Setelah itu, ia menutup pintu perlahan.

Rumahku mendadak terasa lengang dan hanya menyisakan diriku seorang.

Saat itu juga aku benar-benar tak sanggup bertahan lagi. Aku ambruk di sofa, perutku sakit hingga tubuhku dipenuhi keringat dingin, bahkan sudut mataku ikut basah.

Sambil memegangi perutku, aku bergumam pelan, “Dasar maag sialan, aduh, sakit banget ....”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status