"Kau yakin besok sanggup berjalan lima puluh kilometer, Taruna Kancing?"Aurelia memecah keheningan dengan bisikan jahil, menyenggol siku Adrian saat gelak tawa di sekitar api unggun mulai mereda menjadi denting dawai gitar tua yang dimainkan Kapten Herman.Adrian terkekeh pelan, nada suaranya berat dan hangat menembus dingin malam Desa Malaka. "Kapten Herman yang Taruna Kancing, Aurelia. Jangan coba-coba mengalihkan isu siputmu itu kepadaku.""Ayolah Adrian, jangan membahas makhluk berlendir menjijikkan itu lagi!""Oh, tentu saja aku akan terus membahasnya," sela Adrian dengan sudut bibir terangkat."Itu hanya sebuah ketidak-sengajaan, bisa dikatakan sebuah konspirasi dari alam," sahut Aurelia mantap, meski matanya berkilat penuh tawa. Ia merapatkan mantelnya, menikmati hawa hangat yang terpancar dari kobaran api di hadapan mereka."Konspirasi itu sangat mematikan, tampaknya," balasan Adrian diiringi senyum tipis yang jarang sekali terlihat. Matanya menatap lurus ke dalam kobaran api
Last Updated : 2026-08-22 Read more