Mag-log in"Kau tidak pantas melakukan ini kepada pewaris tahta. Tapi tolong, puaskan aku kali ini." gumam Putri Aurelia di tengah ciuman dan desahan, Putri Aurelia adalah pewaris tahta kerajaan, namun dirinya terjebak skandal satu malam bersama letnan jenderal Adrian putra perdana menteri. Untuk menjaga citra kerajaan, mereka terpaksa bertunangan sekalipun sang Letnan jenderal telah memiliki kekasih. Demi Tahta, Tradisi dan Sebuah pengakuan. Sang putri harus melaksanakan Sumpah 3 Matra selama 3 tahun, Menjalani pelatihan militer di tiga sektor, darat, laut dan udara. Yang sangat menjengkelkan ternyata Letnan jenderal Adrian di tunjuk sebagai pengawas sekaligus instruktur komandan pemimpin latihannya!
view more"Pakaian Anda terlihat kurang cocok untuk acara hari ini putri"
"Ini adalah pakaian terbaik dari desainer terkenal Martha, Apa menurutmu aku tidak cantik dengan pakaian ini" Ucap sang putri dengan polos. "Bukan seperti itu maksud saya putri, anda bisa memilih baju yang sedikit lebih sopan" "Itu akan lebih baik untuk citra anda" imbuh Martha "Oh ayolah Martha, pewaris tahta akan selalu mendapat spot terdepan, perduli setan dengan mereka" Sang Putri memicingkan matanya dengan sangat tajam berbicara sedikit keras dan mengintimidasi, Martha yang di tatap seperti itu hanya bisa menunduk gugup dan takut. "Bukan seperti itu maksudku, king William tidak akan senang putri, nenek anda akan kecewa jika anda membuat kekacauan lagi hari ini" Martha menimpali, sekalipun diberi lirikan sinis oleh sang putri. "Aku sudah sering membuat kekacauan," hanya bisa menghela nafas pasrah saat mendengar jawaban sang putri. "Anda bukan anak kecil lagi putri, berhentilah membuat ulah" "Kau terlalu cerewet sama seperti ayahku, jangan ingatkan aku soal hari ulang tahun dan hari penobatanku Martha!!, apa kau tidak akan bersedih, kita akan berpisah, aku akan pergi untuk belajar militer" "Aku bahkan sudah cukup pusing dengan tugas kampus dan jadwal kerajaan" Gumam putri Aurelia. Sang Putri pun meninggalkan Martha dengan perasaan kesal. Martha pendamping setia sang putri hanya bisa berdiri dengan menghela nafas penuh kecemasan. Kerajaan De Vante adalah sebuah negeri dengan sistem monarki konstitusional yang telah berdiri selama ratusan tahun. Di balik kemegahan istana berlapis marmer putih, kerajaan itu tidak hanya memegang mahkota, tetapi juga mengendalikan parlemen, militer, serta berbagai yayasan pendidikan dan rumah sakit terbesar di negara itu. Bagi rakyat, Dinasti De Vante adalah lambang kejayaan. Namun, bagi orang-orang yang hidup di dalamnya, mahkota bukanlah simbol kemewahan. Mahkota adalah beban yang diwariskan bersama luka. Putri Aurelia De Vante adalah pewaris sah tahta kerajaan. Hari ini kerajaan sedang mengadakan turnamen berkuda. Di arena latihan berkuda milik keluarga kerajaan, puluhan pejabat tinggi dan penduduk kelas atas berkumpul. Putri Aurelia datang menghampiri ayahnya king William dan neneknya yang sedang asyik mengobrol dengan perdana menteri. "Selamat datang Princess" Ucap king William. "Ada apa dengan pakaianmu lia" Sang nenek menimpali ucapan king William. "Oh ayolah nenek, ini sangat cocok dengan musim panas" Dua perempuan paruh baya dengan anggun datang bergabung dengan obrolan ini. "Lia, Apa yang kamu lakukan hingga membuat nenekmu pusing" ucapnya. "Tuhan memberkatiku bibi" Ucap putri Aurelia seraya memicingkan mata, "kau datang di saat yang tepat! Aku tidak mengerti kenapa semua orang berkomentar soal bajuku hari ini" "Lia cukup keren dan tidak ketinggalan trend anak muda hari ini buu" Ucap bibi rose kepada neneknya. Lady Rose De Vante adalah adik kandung King William, setidaknya di antara keluarga kerajaan yang lain, Bibi rose cukup dekat dengan putri. Sedangkan, perempuan paruh baya satunya tampak sangat anggun. dia adalah lady Anna, salah satu janda dari mendiang menteri kerajaan. "Putri Lia seharusnya belajar lebih keras lagi tentang tatakrama kerajaan, aku mengatakan ini karena perduli padanya" "Yaaa Lia masih terlalu muda menanggung beban pewaris tahta, tapi dia ponakan yang cukup keren untukku" jawaban bibi rose memberi putri aurelia sedikit penghibur kali ini. King William mendekat, memberi tatapan lembut kepada lady Anna. Putri Aurelia tidak suka melihat itu, dia bukannya tidak tau atau mendengar desas-desus dikerajaan tentang ayahnya yang menjalin hubungan dengan lady Anna, bahkan kabar lady Anna yang akan segera dipersunting oleh ayahnya. Putri Aurelia benar-benar tidak suka jika ada yang menggantikan mendiang ibunya. "Aku percaya Lia akan belajar untuk lebih dewasa dan bersikap lebih bijak" ucap King William seraya meraih tangan lady Anna. "Aku mengerti King, dia bisa belajar pada putriku" ucap lady Anna. "Yaaa kurasa kau benar, Bella sangat berbanding terbalik dengan Lia" Putri Aurelia tentu sangat kesal mendengar perkataan itu, dia tidak suka selalu dibandingkan dengan siapapun. Sungguh!! Itu membuatnya jengkel. Sejujurnya putri aurelia tidak suka dengan pacuan kuda, dia punya trauma tersendiri dengan kuda. Saat kecil dia terjatuh saat berkuda, kemudian tepat setelahnya ia mendapat kabar bahwa ibunya meninggal. Memilih menghindar dari yang lain, Putri aurelia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ditengah keramaian dia merasa kesepian, seharusnya dia tidak disini, bersenang-senang bersama teman satu kampusnya pasti akan jauh lebih seru. "Oh dimana Naomi dan Martin" putri Aurelia ingin sekali kabur dari acara ini, iya berkeluh kesah dan mulai mencari keberadaan dua bodyguard yang selalu menemaninya saat diluar. "Bahkan acaranya belum dimulai, kenapa aku sudah sangat bosan" keluhnya. Beberapa awak media mulai memotret nya, Di sudah cukup kesal dan bosan, yaaaa setidaknya dia cukup cantik di kamera. "Putri aurelia, bisakah anda memberi sepatah dua kata tanggapan untuk acara ini" itu salah satu pertanyaan yang diajukan pemburu berita padanya. "Acara ini berjalan dengan semestinya, bukankah setiap tahun memang seperti ini" ucap putri Aurelia Putri Aurelia tau mungkin dia akan semakin terkenal dengan label pewaris tahta yang sombong dan tidak layak. Tapi bukankah iya memang terkenal seperti itu. Pertandingan pacuan kuda dimulai, sorak-sorak semakin gemuruh, Di pertengahan acara, putri Aurelia tengah menikmati teh hangatnya saat tiba-tiba saja sebuah insiden kekacauan terjadi. Kuda jantan milik salah satu peserta sangat agresif menabrak pembatas jalan dan lepas kendali. Penunggang kudanya terjatuh, kuda itu bergerak liat tepat didepan putri, Sang Putri terpaku mati rasa. nafasnya sesak, badannya bergetar hebat bersama kilasan memori kelam masa lalu. Ia bahkan tak mampu melangkah mundur satu senti pun. Kuda itu mengangkat kedua kaki depannya (rearing), siap menghantam Sang Putri. Tepat pada detik terakhir, Seorang Letnan Jenderal berpakaian dinas kehormatan militer memotong jarak dengan ketepatan luar biasa. Tanpa ragu, ia memposisikan tubuhnya di antara Sang Putri dan kuda yang mengamuk. Dengan gerakan refleks militer tingkat tinggi, Sang Letjen merebut tali kekang yang terurai, menahan bobot kuda dengan kekuatan lengannya, dan memberikan tekanan taktis pada leher kuda hingga hewan perkasa itu berhasil dikendalikan dan dipaksa menapak kembali ke tanah. Bau mesiu, ketegangan, dan wangi khas seragam militer milik Letjen menyelimuti Sang Putri. Ketika Sang Putri membuka mata, ketakutan itu mendadak lenyap, digantikan oleh punggung kokoh Sang Letjen yang berdiri sebagai benteng tak tertembus. Sang Letjen menoleh perlahan, memastikan kondisi Putri. "Anda aman sekarang putri, Aku akan meminta imbalanku nanti" Ucap Letjen Adrian Roschester sambil mengedipkan sebelah matanya.Lewat dekrit tertutup seluruh kewenangan Adrian resmi dibekukan sementara, dan ia dikenakan status tahanan rumah. Ia dilarang menampakkan diri ke publik, dikurung dalam kemewahan mansion keluarganya, dipaksa menjadi penonton saat namanya dihancurkan di linimasa. "Brengsek!" Maki Adrian. Pintu ruang kerja berderit pelan. Hesketh berdiri dengan kepala tertunduk, membawa sebuah tablet yang menampilkan layar penuh komentar kebencian dari publik terhadap Adrian dan Aurelia. "Matikan layar itu,Hesketh" suara Adrian dingin, dingin tapi bergetar karena amarah tertahan. "Situasi di Media Sosial semakin Panas Jenderal" "Aku hanya menghawatirkan keadaan Lia saat ini" Ucap Adrian dingin kepada Hesketh. Begitu malam tiba, kegelapan pekat menyelimuti halaman belakang mansion. Adrian mengenakan jubah penyamaran gelap dan hoodie tebal berpenutup kepala yang menutupi separuh wajahnya. Ia melangkah cepat menuju garasi bawah tanah, melewati para penjaga yang tengah berpatroli. Di sana, sebuah
BREAKING NEWS: TRAGEDI SEKTOR SEMBILAN & KEJATUHAN SANG JENDERAL ( Latar belakang layar memperlihatkan cuplikan video amatir kekacauan massa disusul transisi ke rekaman konferensi pers Perdana Menteri Rochester ) "Selamat malam warga De Vante. Berita utama malam ini mengguncang seluruh sendi kerajaan. Tragedi berdarah yang terjadi tadi malam, resmi menelan korban jiwa dari kalangan warga sipil yang hendak menyampaikan aspirasi damai ke depan gerbang istana." "Berdasarkan investigasi awal, aksi unjuk rasa yang berujung ricuh ini diduga kuat terjadi atas perintah langsung dari sang panglima muda, Letnan Jenderal Adrian Rochester. Gelombang amarah seketika meledak di seluruh penjuru negeri, menuntut pertanggungjawaban moral dan hukum atas jatuhnya korban tak berdosa." "Pihak Istana melalui dekrit resmi yang dikeluarkan beberapa jam lalu juga mengumumkan penangguhan status pertunangan antara sang jenderal dengan Yang Mulia Putri Aurelia. Sementara itu, Perdana Menteri Rochester da
"Jenderal! Sektor barat laut jebol! Massa berjaket hitam kembali datang dan menyerbu dari gang-gang kecil. Sialnya, ada laporan korban jiwa di dekat garis perisai kita!" "Benar, Jenderal! Massa semakin mengamuk!" teriak salah satu anak buah Adrian lewat radio. Suara Hesketh dan rekan-rekannya di radio hampir tenggelam oleh deru angin panas, suara granat kejut, serta cacian dari kejauhan. "Apa korban jiwanya dari warga sipil?" tanya Adrian. "Iya, Jenderal. Para perusuh sengaja membawa senjata tajam dan memprovokasi bentrokan antara aparat dan warga yang sedang berdemo." "Sialan!" Adrian berdiri tegak di atas kap mobil rantis komando. Jubah bintang duanya berkibar liar diterpa hawa panas dari ban yang dibakar. Rahangnya mengeras hingga tulang pipinya menegang. "Apa yang harus kami lakukan! banyak aparat jadi sasaran amuk massa, dan kami terjebak di tengah-tengah kerusuhan!" Padahal, Adrian sudah mempertaruhkan reputasinya. Ia menolak perintah keras dari pusat dan membuat
Berkas laporan keuangan faksi utara tergeletak di atas meja King William. "Yang Mulia, kami membawa hasil laporan terbaru," ucap kepala pengawal istana yang berdiri kaku dengan kedua tangan bertumpu di belakang punggung. "Katakan bagaimana hasilnya," ucap King William. "Data lalu-lintas logistik pelabuhan barat menunjukkan adanya transaksi asing terkait pencairan dana maritim senilai tiga ratus ribu koin emas yang dialihkan. Tanda tangan digital yang mereka pakai... identik dengan segel administrasi utama kabinet, Yang Mulia!" King William mendongak, melepas kacamata bacanya lalu mengusap batang hidungnya yang letih. Ia menggeleng pelan, desahan lelah terlepas dari bibirnya yang kering. "Kau terlalu cepat menyimpulkan," suara sang Raja berat namun datar. "Rochester sudah mengabdi pada De Vante sejak ayahku masih bertakhta. Dia orang yang ambisius, tapi berkhianat menjual kas maritim negara? Rasanya itu tidak mungkin. Dia tidak akan menggali kuburannya sendiri." "Tapi, Yang Mulia












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.