"Selamat malam."Sara berdiri di ambang pintu sambil bawa satu kantong belanjaan. Daniel masuk tepat di belakangnya, melangkah lewati pintu seolah-olah rumah itu memang milik mereka berdua."Sara yang masak malam ini," katanya sambil melirik ke arahku. "Kamu duduk saja. Istirahat."Aku tetap duduk di sofa ruang tamu, pandangi Sara jalan masuki dapurku seolah itu adalah wilayahnya sendiri. Tanpa ragu, dia buka lemari penyimpanan. Dia tahu letak setiap rak. Setiap bumbu. Setiap panci. Semua gerakannya mengalir begitu alami, seperti seseorang yang sudah lakukan semua ini entah berapa ratus kali."Vivi, kamu ubah letak barang-barangnya?" serunya dari dapur, terdengar sedikit kaget. "Semuanya pindah tempat.""Aku rapikan itu minggu lalu.""Oh, gitu .... Ah, ketemu. Daniel, bisa ambilkan panci besar itu nggak? Terlalu tinggi."Bahkan sebelum kalimatnya selesai, Daniel sudah berdiri di sampingnya. Mereka bergerak saling mengisi di ruang dapur yang sempit, begitu selaras seperti pasangan yang
Read more