Share

Bab 4

Author: Myosotis
Pukul 06.00 Sabtu pagi.

Aku siapkan sarapan, persis seperti yang dulu selalu aku lakukan saat kita baru nikah. Daniel keluar dari kamar sambil usap kantuk dari matanya. Begitu lihat meja makan, langkahnya terhenti.

"Kamu bangunnya pagi banget."

"Aku nggak bisa tidur."

"Oh, iya. Tadi malam Sara kirim pesan. Dia mau adakan pesta besar untuk rayakan proyek pembangunan yang baru saja selesai. Kamu mau ikut?"

Pesta perayaan kemenangan.

Aku pikir itu juga bisa dianggap pesta perpisahanku. Begitulah selalu, apa pun yang berhubungan dengan Sara. Tahun lalu, tepat di hari ulang tahun Daniel, aku terbang empat belas jam dari Dulako sambil bawa kotak cerutu edisi terbatas yang dibuat khusus.

Selama berbulan-bulan, dia terus bicarakan benda itu. Aku mau kasih dia kejutan, tapi saat tiba di rumah, rumah itu sudah dihias meriah. Balon penuhi ruang tamu. Sebuah kue ulang tahun terletak di tengah meja. Dan kotak cerutu yang sama sudah lebih dulu ada di sana. Hadiah dari Sara. Daniel hanya melirik sekilas hadiah yang aku bawa.

"Sara sudah belikan aku yang sama. Taruh saja punyamu di sana."

Kotak itu tetap ada di tempatnya selama tiga hari. Sampai akhirnya aku sendiri yang buang itu ke tempat sampah.

"Terserah kamu saja," jawabku.

"Bagus. Nanti aku atur semuanya dengan Sara."

Dia menyesap kopinya, kemudian seolah baru teringat sesuatu.

"Oh, yah. Hari ini Sara mau lihat Bentley baru. Aku ikut temani dia. Mungkin pulangnya agak malam."

"Oke."

Dia menatapku beberapa detik.

"Responsmu aneh. Terlalu santai." Satu alisnya terangkat, agak kaget.

"Aku memang selalu santai."

Dia tertawa pelan sambil gelengkan kepalanya. Lalu kembali nikmati sarapannya.

"Daniel."

"Hm?"

"Kalau suatu hari aku pergi dan nggak pernah kembali …. Kamu bakal peduli, nggak?"

Keningnya langsung berkerut.

"Kamu ngomong apaan sih?"

"Aku cuma tanya."

"Memangnya kamu mau pergi ke mana? Nggak usah berlebihan."

Dia berdiri, letakkan piring kotor ke dalam bak cuci, lalu raih jaketnya.

"Aku pergi dulu. Nanti aku balik habis selesai temani Sara beli mobil."

Dia hampir sampai pintu ketika aku kembali panggil dia, "Daniel."

"Apa lagi?"

"Bisa nggak hari ini kamu nggak pergi?"

Wajahnya langsung mengeras. Rasa kesal tampak jelas di matanya.

"Aku sudah janji akan datang. Aku nggak mungkin batalkan itu. Kamu sebenarnya butuh apa?"

Aku cuma mau bilang kalau ini adalah terakhir kalinya kita duduk dalam ruangan yang sama. Sarapan terakhir kita. Percakapan terakhir. Kesempatan terakhir. Namun semua kata itu nggak pernah keluar.

"Nggak apa-apa."

"Ya sudah."

Aku berdiri, lalu mulai kemasi barang-barangku. Aku biarkan perlengkapan mandinya tetap ada di kamar mandi. Lipstik milik Sara pun aku biarkan tetap tergeletak di tempatnya.

Di ruang kerja, aku balikkan bingkai foto pernikahan kita hingga menghadap ke bawah, lalu aku kembali ke ruang tamu.

Di atas meja kopi telah tergeletak surat perjanjian perceraian. Tanda tanganku sudah tertera di bagian paling bawah. Yang kurang hanya tanda tangan Daniel. Aku tempelkan secarik catatan di halaman depannya.

[Mutasiku ke Dulako sudah resmi. Aku pergi. Bacalah surat ini. Kalau kamu setuju, tanda tangani, lalu minta asistenmu hubungi asistenku.]

Aku dorong koper-koperku menuju pintu keluar. Untuk terakhir kalinya aku lihat ke rumah yang telah aku tinggali selama empat tahun. Bantal pijat khusus untuk Sara masih terbungkus rapi di atas meja dapur. Empat tahun. Rumah ini dipenuhi jejak Daniel. Dipenuhi keberadaan Sara. Hampir nggak ada tempat yang tersisa untuk aku. Aku tarik pintu hingga tertutup tanpa suara.

Semua sopir keluarga sedang bertugas. Jadi aku pesan Grab. Begitu duduk di kursi belakang, hal pertama yang aku lakukan adalah aktifkan mode pesawat di HP-ku. Dua puluh jam kemudian pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bandara Internasional Dulako. Kota baru. Bandara baru. Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun aku benar-benar bebas. Aku matikan mode pesawat. Dalam sekejap HP-ku dibanjiri notifikasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 10

    Meskipun sudah istirahat di tempat tidur selama beberapa hari, penerbangan terakhir itu tetap tinggalkan rasa sakit yang luar biasa di tubuhku. Saat itulah aku ambil keputusan terakhir, tinggalkan pekerjaan yang telah aku cintai selama sepuluh tahun."Vivi! Ada paket untuk kamu! Dari Nevala!"Beberapa rekan kerjaku panggil dari luar ruangan.Aku buka paket itu perlahan. Hal pertama yang aku lihat adalah surat perceraian. Halaman terakhirnya, di sudut kanan bawah tertera tanda tangan Daniel. Tintanya begitu tebal. Seolah dia tekan bolpoin dengan sekuat tenaga saat torehkan itu. Di bawah map itu masih berisi beberapa benda lain, foto pernikahan kita dibungkus dengan sangat rapi agar nggak rusak. Di balik bingkainya terselip secarik catatan. [Foto ini untuk kamu. Buang saja, bakar kalau kamu mau. Lakukan apa pun yang kamu mau. Tapi apa pun yang terjadi hari itu tetap jadi hari paling bahagia dalam hidupku.]Aku ambil surat perceraian itu, lalu telepon pengacaraku. Dokumen itu segera aku

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 9

    "Dia beneran duduk di sana selama seminggu?"Aku baru kembali ke kantor di Dulako setelah seminggu penuh jalani penerbangan internasional tanpa jeda. Seorang rekan kerja berdiri di ambang pintu kantorku dengan mata membulat."Petugas keamanan bilang dia datang setiap hari. Dari gedung dibuka sampai tutup. Hampir seminggu penuh."Namun hari ini dia sudah nggak ada. Menjelang siang, rekanku letakkan sebuah amplop tebal di atas mejaku. Di halaman paling atas terselip secarik surat tulisan tangan. Tulisan Daniel tampak kaku, bergetar.[Aku susun semua ini selama dua hari terakhir. Kamu harus lihat.]Aku buka halaman berikutnya. Di bawah surat itu terdapat setumpuk kertas hasil cetak. Sebuah tabel yang digambar sendiri oleh Daniel. Di bagian atas tertulis:[Catatan Penerbangan Vivi.]Semua. Seratus dua belas kali penerbanganku. Tanggal. Nomor penerbangan. Jam keberangkatan. Jam kedatangan. Semuanya diambil dari arsip maskapai yang berhasil dia paksa untuk kasih ke dia. Namun yang buat aku t

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 8

    "Permisi, apa Nona Vivi Suhardi sedang bertugas hari ini?"Aku kenali suara itu bahkan sebelum sempat lihat wajahnya dari balik dinding kaca ruang kru. Darahku seolah membeku.Daniel.Dia temukan aku.Padahal aku sudah peringatkan dia, jangan pernah datang ke sini. Namun dia tetap datang. Penampilannya berantakan. Tubuhnya tampak lebih kurus. Seolah-olah sudah seminggu penuh dia nggak pernah benar-benar tidur. Janggut tipis penuhi rahangnya. Lingkaran hitam membayang di bawah kedua matanya. Di salah satu tangannya, dia genggam kantong kertas yang sudah kusut. Rekan kerjaku noleh ke aku, minta kepastian.Aku menggeleng pelan."Nona Vivi lagi nggak tugas hari ini.""Nggak bertugas?" Suara Daniel pecah."Kalau gitu kapan dia balik tugas?""Maaf, kita nggak bisa kasih informasi itu. Kalau Anda mau, Anda bisa tinggalkan suatu pesan untuk dia."Daniel terdiam cukup lama, lalu perlahan keluarkan sesuatu dari dalam kantong kertasnya."Tolong …. Tolong berikan ini ke dia."Lalu dia pergi. Semen

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 7

    "Vivi, kamu baik-baik saja? Daniel benar-benar berantakan sekarang. Aku khawatir banget sama dia."Aku sudah ada di Dulako selama empat hari. Dan pesan itu datang dari Sara. Tentu saja yang dia khawatirkan adalah Daniel. Satu-satunya hal yang benar-benar dia pedulikan adalah ketua mafia kesayangannya sedang hancur. Dan keadaan itu mulai bikin dia repot.Aku balas dengan nada datar.[Aku baik-baik saja. Makasih sudah tanya.]Balasannya datang seketika.[Vivi, apa di antara kalian berdua ada salah paham? Minggu ini dia nggak jemput aku di bandara satu kali pun. Dia juga hampir nggak pernah angkat teleponku.]Ah. Jadi itu masalahnya. Bukan karena pernikahanku telah berakhir. Bukan karena aku pergi. Bukan karena Daniel sedang hancur. Melainkan karena sekarang Daniel nggak lagi tinggalkan segala urusannya hanya untuk penuhi kebutuhan Sara.[Belakangan ini dia memang lagi sibuk.]Beberapa detik kemudian, sebuah pesan panjang masuk.[Vivi, sebenarnya aku nggak enak bilang ini. Daniel sangat s

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 6

    Tiga hari ada di Dulako. Dan selama itu pula, HP-ku nggak pernah berhenti bergetar. Pagi itu aku mulai kerja di kantor baru. Tim di sana sopan, cerdas. Nggak ada seorang pun yang tahu kalau aku adalah mantan Nyonya dari Keluarga Suhardi. Dan justru itulah yang buat semuanya terasa sempurna.Saat makan siang, HP-ku kembali bergetar.Nama Lina muncul di layar."Vi, dia pergi ke bandara hari ini."Aku letakkan garpu di atas piring. Perutku terasa tegang."Bandara? Ngapain?""Dia lacak semua sopir yang pernah jemput kamu dari bandara Kelala selama empat tahun terakhir. Dia hubungi mereka satu per satu."Bagi Keluarga Suhardi, temukan para sopir itu di Nevala bukan hal sulit."Sudah berapa banyak yang dia hubungi?""Mungkin setengahnya. Ada satu sopir yang ingat kamu. Katanya dia jemput kamu beberapa kali. Selalu sekitar pukul empat pagi. Dan kamu selalu sendirian. Dia juga bilang, suatu kali kamu masuk ke mobilnya dengan luka robek di tangan. Kamu bilang kena resleting koper."Itu bukan re

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 5

    Tiga puluh panggilan nggak terjawab. Semuanya dari Daniel. Notifikasi WhatsApp menumpuk penuhi layar. Namanya terus muncul, seolah bakar pandanganku. Isi pesannya berubah-ubah. Dimulai dari rasa nggak percaya, lalu kemarahan, kemudian tuntutan, ancaman. Hingga pesan terakhir yang masuk tepat saat pesawatku mendarat.[Kamu pergi. Kamu beneran pergi.]Aku kunci layar HP, lalu selipkan itu ke dalam saku. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun udara yang aku hirup nggak lagi berbau mesiu, bourbon, dan penyesalan. Belum sempat aku sampai ke mobil yang telah disiapkan Marvin, HP-ku kembali berdering.Itu Lina."Vi …." Nada suaranya terdengar tegang. "Dia benar-benar kehilangan akal.""Siapa?""Daniel. Dia acak-acak seluruh rumah. Setelah itu dia datangi kantor keluarga di pusat kota, lalu ke kantormu. Dia teriak kepada semua orang, paksa mereka kasih tahu kamu di mana. Marvin bilang kamu bakal mutasi permanen ke Dulako. Begitu dengar itu, Daniel hampir saja tembakkan peluru ke dinding. Sela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status