LOGINMeskipun sudah istirahat di tempat tidur selama beberapa hari, penerbangan terakhir itu tetap tinggalkan rasa sakit yang luar biasa di tubuhku. Saat itulah aku ambil keputusan terakhir, tinggalkan pekerjaan yang telah aku cintai selama sepuluh tahun."Vivi! Ada paket untuk kamu! Dari Nevala!"Beberapa rekan kerjaku panggil dari luar ruangan.Aku buka paket itu perlahan. Hal pertama yang aku lihat adalah surat perceraian. Halaman terakhirnya, di sudut kanan bawah tertera tanda tangan Daniel. Tintanya begitu tebal. Seolah dia tekan bolpoin dengan sekuat tenaga saat torehkan itu. Di bawah map itu masih berisi beberapa benda lain, foto pernikahan kita dibungkus dengan sangat rapi agar nggak rusak. Di balik bingkainya terselip secarik catatan. [Foto ini untuk kamu. Buang saja, bakar kalau kamu mau. Lakukan apa pun yang kamu mau. Tapi apa pun yang terjadi hari itu tetap jadi hari paling bahagia dalam hidupku.]Aku ambil surat perceraian itu, lalu telepon pengacaraku. Dokumen itu segera aku
"Dia beneran duduk di sana selama seminggu?"Aku baru kembali ke kantor di Dulako setelah seminggu penuh jalani penerbangan internasional tanpa jeda. Seorang rekan kerja berdiri di ambang pintu kantorku dengan mata membulat."Petugas keamanan bilang dia datang setiap hari. Dari gedung dibuka sampai tutup. Hampir seminggu penuh."Namun hari ini dia sudah nggak ada. Menjelang siang, rekanku letakkan sebuah amplop tebal di atas mejaku. Di halaman paling atas terselip secarik surat tulisan tangan. Tulisan Daniel tampak kaku, bergetar.[Aku susun semua ini selama dua hari terakhir. Kamu harus lihat.]Aku buka halaman berikutnya. Di bawah surat itu terdapat setumpuk kertas hasil cetak. Sebuah tabel yang digambar sendiri oleh Daniel. Di bagian atas tertulis:[Catatan Penerbangan Vivi.]Semua. Seratus dua belas kali penerbanganku. Tanggal. Nomor penerbangan. Jam keberangkatan. Jam kedatangan. Semuanya diambil dari arsip maskapai yang berhasil dia paksa untuk kasih ke dia. Namun yang buat aku t
"Permisi, apa Nona Vivi Suhardi sedang bertugas hari ini?"Aku kenali suara itu bahkan sebelum sempat lihat wajahnya dari balik dinding kaca ruang kru. Darahku seolah membeku.Daniel.Dia temukan aku.Padahal aku sudah peringatkan dia, jangan pernah datang ke sini. Namun dia tetap datang. Penampilannya berantakan. Tubuhnya tampak lebih kurus. Seolah-olah sudah seminggu penuh dia nggak pernah benar-benar tidur. Janggut tipis penuhi rahangnya. Lingkaran hitam membayang di bawah kedua matanya. Di salah satu tangannya, dia genggam kantong kertas yang sudah kusut. Rekan kerjaku noleh ke aku, minta kepastian.Aku menggeleng pelan."Nona Vivi lagi nggak tugas hari ini.""Nggak bertugas?" Suara Daniel pecah."Kalau gitu kapan dia balik tugas?""Maaf, kita nggak bisa kasih informasi itu. Kalau Anda mau, Anda bisa tinggalkan suatu pesan untuk dia."Daniel terdiam cukup lama, lalu perlahan keluarkan sesuatu dari dalam kantong kertasnya."Tolong …. Tolong berikan ini ke dia."Lalu dia pergi. Semen
"Vivi, kamu baik-baik saja? Daniel benar-benar berantakan sekarang. Aku khawatir banget sama dia."Aku sudah ada di Dulako selama empat hari. Dan pesan itu datang dari Sara. Tentu saja yang dia khawatirkan adalah Daniel. Satu-satunya hal yang benar-benar dia pedulikan adalah ketua mafia kesayangannya sedang hancur. Dan keadaan itu mulai bikin dia repot.Aku balas dengan nada datar.[Aku baik-baik saja. Makasih sudah tanya.]Balasannya datang seketika.[Vivi, apa di antara kalian berdua ada salah paham? Minggu ini dia nggak jemput aku di bandara satu kali pun. Dia juga hampir nggak pernah angkat teleponku.]Ah. Jadi itu masalahnya. Bukan karena pernikahanku telah berakhir. Bukan karena aku pergi. Bukan karena Daniel sedang hancur. Melainkan karena sekarang Daniel nggak lagi tinggalkan segala urusannya hanya untuk penuhi kebutuhan Sara.[Belakangan ini dia memang lagi sibuk.]Beberapa detik kemudian, sebuah pesan panjang masuk.[Vivi, sebenarnya aku nggak enak bilang ini. Daniel sangat s
Tiga hari ada di Dulako. Dan selama itu pula, HP-ku nggak pernah berhenti bergetar. Pagi itu aku mulai kerja di kantor baru. Tim di sana sopan, cerdas. Nggak ada seorang pun yang tahu kalau aku adalah mantan Nyonya dari Keluarga Suhardi. Dan justru itulah yang buat semuanya terasa sempurna.Saat makan siang, HP-ku kembali bergetar.Nama Lina muncul di layar."Vi, dia pergi ke bandara hari ini."Aku letakkan garpu di atas piring. Perutku terasa tegang."Bandara? Ngapain?""Dia lacak semua sopir yang pernah jemput kamu dari bandara Kelala selama empat tahun terakhir. Dia hubungi mereka satu per satu."Bagi Keluarga Suhardi, temukan para sopir itu di Nevala bukan hal sulit."Sudah berapa banyak yang dia hubungi?""Mungkin setengahnya. Ada satu sopir yang ingat kamu. Katanya dia jemput kamu beberapa kali. Selalu sekitar pukul empat pagi. Dan kamu selalu sendirian. Dia juga bilang, suatu kali kamu masuk ke mobilnya dengan luka robek di tangan. Kamu bilang kena resleting koper."Itu bukan re
Tiga puluh panggilan nggak terjawab. Semuanya dari Daniel. Notifikasi WhatsApp menumpuk penuhi layar. Namanya terus muncul, seolah bakar pandanganku. Isi pesannya berubah-ubah. Dimulai dari rasa nggak percaya, lalu kemarahan, kemudian tuntutan, ancaman. Hingga pesan terakhir yang masuk tepat saat pesawatku mendarat.[Kamu pergi. Kamu beneran pergi.]Aku kunci layar HP, lalu selipkan itu ke dalam saku. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun udara yang aku hirup nggak lagi berbau mesiu, bourbon, dan penyesalan. Belum sempat aku sampai ke mobil yang telah disiapkan Marvin, HP-ku kembali berdering.Itu Lina."Vi …." Nada suaranya terdengar tegang. "Dia benar-benar kehilangan akal.""Siapa?""Daniel. Dia acak-acak seluruh rumah. Setelah itu dia datangi kantor keluarga di pusat kota, lalu ke kantormu. Dia teriak kepada semua orang, paksa mereka kasih tahu kamu di mana. Marvin bilang kamu bakal mutasi permanen ke Dulako. Begitu dengar itu, Daniel hampir saja tembakkan peluru ke dinding. Sela







